Murabahah dalam Sistem Perbankan Syari’ah

Abstrak
Dari Shuhaib r.a. (Katanya): Sesungguhnya Nabi saw. Bersabda: “Ada tiga perkara yang ada berkah padanya: Jual beli dengan tempo pembayaran (murabahah), pemberian modal niaga kepada seseorang dan percampuran gandum dengan sya’ir (jenis beras) untuk rumah tangga, bukan untuk jual beli. (diriwayatkan Oleh Ibnu Majah dengan sanad yang lemah).
Jual beli dengan tempo pembayaran (murabahah) merupakan jual beli di mana penjual memberitahu pembeli biaya perolehan dan keuntungan yang diinginkannya. Murabahah awalnya tidak berhubungan dengan pembiayaan. Kemudian, digunakan oleh perbankan syari’ah dengan menambahkan beberapa konsep lain sehingga menjadi bentuk pembiayaan. Aplikasi pembiayaan murabahah dapat digunakan untuk pembelian barang konsumsi maupun barang dagangan bagi usaha kecil menengah (UKM) masyarakat contohnya warung kelontongan dan sebagainya dalam sektor riil. (Akhmad Faozan 2009).

A. Pendahuluan
Praktik pelaksanaan murabahah saat ini masih banyak yang tidak sesuai dengan yang seharusnya terjadi. Penyimpangan ini dapat berupa selipan akad wakalah pada transaksi murabahah. Prinsip wakalah pada transaksi murabahah dapat terjadi melalui proses perwakilan yang terjadi antara pihak perbankan syari’ah dengan pihak nasabah. Pada proses ini, pihak perbankan mewakilkan pihak nasabah untuk melakukan pembelian barang sendiri yang diinginkan kepada pihak supplier setelah mendapatkan uang pembelian dari pihak bank.
Serta, perbankan syari’ah dalam menentukan kebijakan harga jual yang diinginkan tidaklah terlepas dari rujukan kepada suku bunga konvensional, tingkat pesaing (competitor), dan sebagainya. Di sisi lain, masih terdapat kritikan-kritikan terhadap beberapa praktik yang dilakukan perbankan syari’ah selama ini terutama pada jual beli murabahah yang dianggap masih sama dengan kredit pada perbankan konvensional. Hipotesa ini didasarkan pada kenyataan bahwa proses penentuan harga jual murabahah adalah tetap menggunakan metode pembebanan bunga flat rate dan prinsip cost of fund yang merupakan pikiran utama dalam perbankan konvensional.
Bahkan penentuan marjin yang diberikan terkadang lebih besar dari suku bunga konvensional. Hal ini dilakukan dengan alasan untuk menghindari akibat dari terjadinya inflasi.
Berdasarkan uraian di atas maka tulisan ini akan menguraikan alasan diperbolehkannya pembiayaan murabahah, sistemnya di perbankan syari’ah dan penentuan marjin, serta pengaruh pembiayaan murabahah terhadap perekonomian.

B. Pembahasan
Dalam literatur fiqh murabahah di definisikan sebagai jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati11. Dari definisi tersebut maka paling tidak skim murabahah mencakup dua komponen yakni jual beli (bai) dan tambahan keuntungan yang disepakati, dari dua komponen tersebut maka murabahah dapat digolongkan kepada akad tijaroh dengan bentuk natural certainty contracts.
Dalam prakteknya transaksi murobahah dapat dilakukan dengan pesanan maupun tanpa pesanan, untuk murobahah berdasarkan pesanan bank melakukan pembelian barang setelah ada pesanan dari nasabah, sehingga secara operasional murobahah berdasar pesanan mempunyai karakteristik sebagai berikut:1 Pertama, perjanjian murobahah dapat bersifat mengikat ataupun tidak mengikat, untuk perjanjian mengikat pembeli tidak dapat membatalkan pesanannya, apabila aktiva pembeli murobahah yang telah dibeli bank sebagai penjual mengalami penurunan nilai sebelum diserahkan kepada pembeli, maka penurunan nilai tersebut menjadi beban penjual (bank). Kedua, pembayaran murobahah dapat dilakukan secara tunai atau cicilan, selain itu dalam transaksi ini diperkenankan adanya perbedaan dalam harga barang untuk cara pembayaran yang berbeda. Ketiga bank dapat memberikan potongan harga kepada nasabah apabila nasabah mempercepat pembayaran cicilan atau melunasi piutang murobahah sebelum jatuh tempo. Keempat, harga yang disepakati dalam murobahah adalah harga jual sedangkan harga beli harus diberitahukan. Jika bank mendapat potongan dari pemasok, maka potongan tersebut merupakan hak nasabah, namun apabila potongan tersebut terjadi setelah akad maka pembagian potongan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian yang dimuat dalam akad. Kelima bank dapat meminta nasabah menyediakan agunan atas piutang murobahah, antara lain dalam bentuk barang yang telah dibeli.
Keenam, apabila nasabah tidak dapat memenuhi piutang murobahah sesuai dengan yang diperjanjikan, bank berhak mengenakan denda kecuali jika dapat dibuktikan bahwa nasabah tidak mampu melunasi. Denda diterapkan bagi nasabah mampu yang menunda pembayaran. Denda tersebut didasarkan pada pendekatan ta’zir yakni untuk membuat nasabah menjadi lebih disiplin terhadap kewajibannya. Besarnya denda sesuai dengan yang diperjanjikan dalam akad dan dana yang berasal dari denda digunakan untuk dana sosial. Untuk memperjelas operasional murabahah dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut:

Gambar II.1 Skema Operasional Murobahah
Dari skema di atas dapat dijelaskan bahwa pertama kali nasabah akan datang ke bank untuk memesan barang yang dibutuhkan pada langkah pertama negoisasi terjadi antara bank dengan nasabah, berkenaan dengan jenis atau spesifikasi barang, pola pembayaran dan lain sebagainya, kemudian bank akan memesan barang sesuai dengan permintaan nasabah kepada supplier selanjutnya barang kemudian dikirim kepada nasabah, dan terakhir nasabah akan mulai membayar dengan pola pembayaran yang telah disepakati.
Adapun harga jual murabahah kepada nasabah dapat dirumuskan sebagai berikut:
Harga Jual = Harga beli bank + Cost Recovery + Keuntungan
Cost Recovery = Proyeksi biaya operasi / Target volume murabahah
Murabahah secara bahasa adalah bentuk mutual (bermakna : saling) dari kata ribh yang artinya keuntungan, yakni pertambahan nilai modal (jadi artinya saling mendapatkan keuntungan). Menurut terminologi ilmu fiqh artinya murabahah adalah menjual dengan modal asli bersama tambahan keuntungan yang jelas.2
Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan/margin yang disepakati.3
Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil pengertian bahwa murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati, serta penjual harus memberitahukan bahwa harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.
Sumber dana murabahah itu sendiri antara lain:4
a. Murabahah didanai investasi tidak terikat URIA (Unrestricted Investment Account), atau mudharabah muthalaqah
b. Murabahah didanai investasi terikat RIA (Restricted Invesment Accound), atau mudharabah Muqayyadah.
c. Murabahah didanai modal bank secara murni. Seperti yang digambarkan oleh skema sebagai berikut:
SUMBER DANA MURABAHAH

Hukum Murabahah dalam Islam
Dalam literatur hukum Islam (fiqh), murabahah merpakan salah satu bentuk transaksi jual beli amanah. Menurut Abu Hanifa mengatakan bahwa murabahah merupakan penjualan dengan suatu persentase penaikan harga yang disepakati terhadap harga pembelian dan jual beli ini halal.5 Menurut Ahmad Saeed, tidak ada satupun ayat Al-Qur’an maupun Hadist yang membahas secara khusus masalah murabahah. Oleh karena itu, menurut Al Kaf, salah seorang pengkritik murabahah, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Saeed, mengatakan bahwa murabahah suatu jual beli yang tidak dikenal pada masa Nabi saw. dan sahabatnya. Menurutnya, murabahah dikemukakan pertama kali oleh beberapa tokoh ulama pada sekitar seperempat abad kedua Hijriah ataupun sesudahnya. Para ulama generasi awal seperti Imam Syafi’i dan Malik berpendapat bahwa jual beli secara murabahah adalah halal.6 Akan tetapi, kedua imam mazhab ini tidak mengutip satu hadis pun dalam rangka mendukung pendapatnya ini. Namun demikian, menurut Wahbah Zuhaili terdapat beberapa ayat yang membahas secara umum tentang jual beli murabahah dan perdagangan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang dapat dijadikan sebagai acuan dan landasan diantaranya:
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Qs. Al-Baqarah: 275).7
Dari Shuhaib r.a. (Katanya): Sesungguhnya Nabi saw. Bersabda: “Ada tiga pekara yang ada berkah padanya: Jual beli dengan tempo pembayaran/murabahah, pemberian modal niaga kepada seseorang dan pencampuran gandum dengan sya’ir (jenis beras) untuk rumah tangga, bukan untuk jual beli. (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang lemah).8
Oleh karena itu, menurut Imam Syafi’i menyatakan bahwa jika seseorang mengatakan kepada yang lain, “Belikan suatu barang untukku dan kemudian aku akan memberikan keuntungan kepadamu sekian.” Maka, menurutnya jual beli semacam ini adalah sah. Selain itu, seorang ulama dari mazhab Hanafi, yaitu Marghinani, berpendapat bahwa syarat-syarat pokok dalam jual beli yang dianggap sah terdapt dalam murabahah dan orang-orang juga sangat membutuhkannya.
Jadi, dengan alasan-alasan ini, jual beli murabahah dianggap sah. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Zuhaili, menyatakan bahwa jual beli secara murabahah adalah suatu transaksi yang dibolehkan oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan imam-imam mazhab fiqh. Namun demikian menurutnya, boleh tidaknya murabahah masih terjadi kontradiksi di kalangan mazhab Maliki. Di sisi lain, dalam konfrensi perbankan Islam ke II yang dilaksanakan di Kuwait pada tahun 1430 H/1983 menyatakan bahwa bai’ al murabahah li al amir bi asy syira’ (murabahah) berlaku jika pembeli (nasabah) sudah menerima dan memiliki barang. Murabahah adalah suatu jual beli dengan harga dan keuntungan tertentu yang diketahui oleh para pihak yang terlibat. Di sisi lain, pertimbangan yang digunakan oleh Dewan Syari’ah Nasional MUI dalam memperbolehkan jual beli secara murabahah adalah karena masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank syari’ah berdasarkan prinsip jual beli. Masyarakat juga memerlukan bantuan guna melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan diberbagai kegiatan. Maka, bank syari’ah perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya. Selain itu, pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan prinsip jual beli yang pada dasarnya merupakan penjualan dengan keuntungan (margin) tertentu yang ditambahkan di atas biaya perolehan. Pembayarannya dapat dilakukan secara tunai ataupun ditangguhkan dan dicicil. Pada mulanya, murabahah dalam fiqh Islam tidak ada hubungannya dengan pembiayaan.9 Murabahah dalam Islam berarti jual beli di mana penjual memberitahukan kepada pembeli biaya perolehan dan keuntungan yang diinginkannya. Pembiayaan ini bukan merupakan pembiayaan utama yang sesuai syari’ah. Namun, penerapan mudharabah dan musyarakah untuk pembiayaan dalam sistem ekonomi saat ini menghadapi beberapa kendala. Oleh karena itu, beberapa ahli hukum Islam kontemporer membolehkan penggunaan murabahah sebagai bentuk pembiayaan dengan syarat-syarat tertentu yang harus diperhatikan:
1. Pada mulanya murabahah bukan merupakan bentuk pembiayaan, melainkan hanya sebagai sarana untuk menghindari bunga dan bukan merupakan instrument ideal untuk mengemban tujuan riil ekonomi Islam. Sehingga, instrumen ini hanya digunakan sebagai langkah transisi yang diambil dalam proses Islamisasi ekonomi. Penggunaannya terbatas pada kasus-kasus di mana mudharabah dan musyarakah tidak dapat diterapkan.
2. Murabahah muncul bukan hanya untuk menggantikan bunga dengan keuntungan, namun sebagai bentuk pembiayaan yang diperbolehkan oleh para ulama dengan syarat-syarat tertentu. Apabila syarat-syarat ini tidak terpenuhi, maka murabahah tidak boleh digunakan dan cacat menurut Syari’ah.
Mekanisme pembiayaan murabahah mempunyai beberapa ciri atau elemen dasar. Yang paling utama adalah barang dagangan harus tetap dalam tanggungan bank selama transaksi antara bank dan nasabah belum selesai.
Adapun rukun-rukun jual beli murabahah dalam perspektif ekonomi Islam terdiri dari:10
1. Pihak yang berakad
a. Penjual
b. Pembeli
2. Objek yang diakadkan
a. Barang yang diperjualbelikan
b. Harga
3. Akad/Sigot
a. Serah (ijab)
b. Terima (qabul)
Dari rukun-rukun murabahah tersebut apabila ada salah satu yang tidak terpenuhi salah satu dari rukun tersebut maka dapat dikatakan bahwa pelaksanaan praktik murabahah adalah tidak sah.
Adapun syarat-syarat jual beli murabahah menurut Syafi’i Antonio adalah:11
1. Pihak yang berakad:
a. Cakap hukum
b. Sukarela (ridha), tidak dalam keadaan dipaksa/terpaksa/dibawah tekanan
2. Obyek yang diperjualbelikan:
a. Tidak termasuk yang diharamkan/dilarang
b. Bermanfaat
c. Penyerahan dari penjual ke pembeli dapat dilakukan
d. Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad
e. Sesuai spesifikasinya antara yang diserahkan penjual dan yang diterima pembeli.
3. Akad/Sigot:
a. Harus jelas dan disebutkan secara spesifik dengan siapa berakad
b. Antara ijab qabul (serah terima) harus selaras baik dalam spesifikasi barang maupun harga yang disepakati
c. Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan keabsahan transaksi pada hal/kejadian yang akan datang
d. Tidak membatasi waktu, misal: saya jual ini kepada anda untuk jangka waktu 12 bulan setelah itu jadi milik saya kembali.12
Kemudian, ada beberapa teori yang diajukan dalam bank Islam berkaitan dengan murabahah. Pada umumnya murabahah merupakan pembiayaan yang memegang peranan penting. Adapun alasan yang diajukan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan Islam diantaranya:13
1. Murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek dan dibandingkan dengan sistem profit and loss sharing (PLS) cukup memudahkan.
2. Mark up dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga memastikan bahwa bank dapat memperoleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yangmenjadi saingan bank-bank Islam.
3. Murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan system PLS.
4. Murabahah tidak memungkinkan bank-bank Islam untuk mencampuri manajemen bisnis, karena bank bukanlah mitra si nasabah sebab hubungan mereka dala murabahah adalah hubungan antara kreditur dan debitur.
Dari teori-teori tersebut bagaimana teknisnya dalam dunia perbankan hal ini terbagi menjadi 3 diantaranya:14
1. Bank bertindak sebagai penjual sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari produsen (pabrik/tokoh) ditambah keuntungan (mark up) kedua pihak harus menyepakati harga jual dan jangka pembayarannya.
2. Harga jual dicantumka dalam akad jual dan beli jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlaku akad. Dalam perbankan murabahah lazimnya dilakukandengan cara pembayaran cicilan.
3. Dalam transaksi ini bila sudah ada barang diserahkan segera kepada nasabah sedangkan pembayarannya dilakukan secara tangguh.
Prosedur yang harus dijalankan dalan tranasksi murabahah antar nasabah dan bank syariah adalah:15
1. Surat permohonan murabahah (SPM) data perusahaan, data nasabah spesifikasi barang
2. Data Supplier
3. Surat Persetujuan Murabahah
4. Surat Pernyataan Sanggup dari Supplier ( SPSS)
5. Tanda Terima Uang Muka Murabahah (TTUMM)
6. Surat Pemesanan Barang pada Supplier (SPBPS)
7. Akad Murabahah antra Bank dan Nasabah
8. Akad Murabahah antra Bank dan Supplier
9. Surat Permohonan Realisasi Murabahah (SPRM)
10. Tanda Terima Uang muka oleh Supplier (TTUOS)
11. Surat Pengiriman Barang pada Nasabah (SPBPN)
12. Tanda Terima Barang oleh Nasabah (TTBON)
Berdasarkan pada teori dan teknis tersebut secara otomatis muncul perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional terhadp produk tersebut diantaranya:
Bank Syariah
1. Menjual barang pada nasabah
2. Hutang nasabah sebesar harga jual (tetap selama jangka waktu murabahah)
3. Ada analisa supplier
4. Margin berdasarkan manfaat atau value added bisnis tersebut Bank Konvensional
1. Memberi kredit (uang) pada nasabah
2. Hutang nasabah sebesar kredit dan bunga (berubah-ubah)
3. Tak ada anaklisa supplier
4. Bunga berdasarkan rate pasar yang berlaku

Jenis-jenis jual beli murabahah diantaranya:
a. Murabahah dengan cicilan (bitsaman ajil), yaitu harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. Serta, bila sudah ada barang, maka segera akan diserahkan kepada nasabah, sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh atau cicilan.
b. Murabahah dengan tunai. Yaitu bank bertindak sebagai penjual sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari produsen (pabrik/tokoh) ditambah keuntungan (mark up). Kedua pihak harus menyepakati harga jual dan dilakukan pembayarannya dengan tunai.16
Murabahah juga dapat dibagi menjadi dua macam bila dilihat dari segi pesanan, diantaranya:17
a. Murabahah tanpa pesanan artinya ada yang beli atau tidak, bank syari’ah menyediakan barang.
b. Murabahah berdasarkan pesanan artinya bank syari’ah baru akan melakukan transaksi jual beli apabila ada pesan.
Murabahah berdasarkan pesanan dapat dikategorikan dalam:
1. Sifatnya mengikat artinya murabahah berdasarkan pesanan tersebut mengikat untuk dibeli oleh nasabah sebagai pemesan.
2. Sifatnya tidak mengikat artinya walaupun nasabah telah melakukan pemesanan barang, namun nasabah tidak terikat untuk membeli barang tersebut.

Resiko-resiko yang menjadi tanggung jawab pihak bank diantaranya:
Pertama, terkait dengan barang. Penjual (bank Islam) membeli barang-barang yang diminta oleh nasabah murabahahnya, dan otomatis pihak bank menanggung resiko kehilangan atau kerusakan pada barang-barang tersebut dari saat pembelian sampai diserahkan kepada nasabah/pembeli. Menurut fiqh, nasabah berhak menolak barang-barang yang rusak, yang kurang jumlahnya, atau tidak sesuai dengan spesifikasinya.
Kedua, terkait dengan nasabah. Perjanjian nasabah dalam jual beli murabahah untuk membeli barang yang dipesan dalam suatu transaksi, tidak mengikat. Maka, nasabah berhak menolak untuk membeli barang ketika bank Islam menawari mereka untuk penjualan.
Ketiga, terkait dengan pembayaran. Adanya risiko tidak terbayar penuh atau sebagian dari uang muka oleh pembeli, seperti yang ada dalam kontrak.18

Formulasi Penentuan Harga Jual
Muhammad Abduh menyajikan formula untuk menentukan harga jual (p) barang pada akad murabahah yang dilakukan oleh perbankan syari’ah seharusnya hanya dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu, harga dasar pembelian dari penyalur utama (x), biaya yang harus tertutupi (y), dan keuntungan wajar yang disepakati oleh pihak bank dan nasabah (z).19
p = x + y + z …(1)
Biaya yang harus tertutupi (y), atau nilai yang dikeluarkan untuk menghadirkan barang tersebut sampai kepada nasabah, didapatkan dari perhitungan rasio antara harga dasar pembelian (x) dan total target pembiayaan tahun berjalan yang dianggarkan oleh bank syari’ah (v) yang kemudian dikalikan dengan biaya operasional rata-rata tahun berjalan yang telah dianggarkan (c). Besarnya nilai total target pembiayaan tahun berjalan (v) dan rata-rata biaya operasional tahun berjalan (c) bisa didapatkan dari hasil Rapat Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) bank syari’ah pada tahun terkait. Sehingga,
p = x + [(x).c]+ z … (2)
v
Kemudian berdasarkan formula (2), marjin (m) yang dapat diterima oleh bank adalah,
m = [(x).c]+ z … (3)
v

Sehingga komponen yang mempengaruhi besar kecilnya marjin yang akan diterima oleh bank (m) adalah harga dasar pembelian (x), total target pembiayaan tahun berjalan yang dianggarkan oleh bank syari’ah (v), biaya operasional rata-rata tahun berjalan yang telah dianggarkan (c), dan keuntungan wajar yang disepakati oleh pihak bank dan nasabah (z).
Karena nilai v dan c adalah tetap selama tahun berjalan, maka secara matematis, komponen terpenting yang dapat mempengaruhi besarnya marjin bagi bank syari’ah adalah harga dasar pembelian (x) dan keuntungan yang disepakati (z). Bank syari’ah diharapkan dapat membeli barang dimaksud dengan harga yang lebih murah dibandingkan yang lain, sehingga harga jual kembali kepada nasabah dapat bersaing dengan kredit bank konvensional. Hal ini dapat dilakukan dengan membina hubungan baik kepada agen-agen barang terkait, atau yang banyak diminati oleh nasabah.
Akan tetapi, jika didapatkan harga jual barang dengan formula ini menjadi lebih tinggi dari harga kredit bank konvensional, tentunya dengan asumsi harga beli dasar yang lebih murah, maka perlu dilakukan peninjauan kembali kepada nilai-nilai yang dituliskan dalam kebijakkan setiap lembaga keuangan seperti RKAP. Karena bisa saja terjadi mark-up nilai yang tidak rasional, tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, sehingga membuat formula harga jual ini selalu menghasilkan nilai yang tinggi. Dan ini akan mengurangi tingkat efisiensi bank syari’ah tersebut.
Salah satu cara menanganinya adalah dengan melakukan evaluasi tehadap nilai biaya operasional rata-rata tahun berjalan, c, yang terdapat dalam RKAP. Jangan sampai terjadi mark-up nilai yang yang tidak rasional. Akan tetapi jika setelah nilai c diubah, namun harga jual ternyata masih tinggi, maka perlu diperhatikan komponen v, total target pembiayaan tahun berjalan yang dianggarkan oleh bank syari’ah. Selain itu, dengan menurunkan keuntungan. Jika keuntungan sudah turun sampai batas minimalnya, dan ternyata harga jual masih lebih besar daripada harga kredit bank konvensional, kemudian efisiensi juga dapat dicapai dengan memperbesar target volume pembiayaan pada biaya operasional yang sama. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) bank syari’ah. Semakin berkualitas SDM dalam menyakinkan nasabah untuk mendepositokan dananya ke bank syari’ah, sehingga semakin banyak pula dana yang dapat disalurkan untuk pembiayaan murabahah. Meskipun dengan keuntungan yang lebih kecil dari konvensional. Dengan demikian, peluang untuk meningkatkan efisiensi dapat terwujud, karena semakin besar akumulasi marjin yang diterima bank syari’ah.
Oleh karena itu, penentuan nilai-nilai dalam RKAP harus dilakukan dengan hati-hati dan jujur. Karena sepertinya hampir tidak mungkin untuk melakukan perubahan nilai-nilai tersebut di tengah-tengah tahun berjalan, selain akan menganggu arus anggaran perusahaan, hal ini akan mendzalimi para nasabah bank syari’ah.
Jika waktu pelunasan oleh nasabah yang diambil adalah satu tahun, maka besarnya cicilan adalah p/12 dan besarnya marjin bagi bank syari’ah adalah m. Akan tetapi jika waktu pelunasannya adalah n tahun, maka besarnya cicilan adalah p/12n dan besarnya marjin bagi bank syari’ah adalah mn.
Contoh perhitungan menurut formula yang diajukan:
Tuan Azmil berkeinginan membeli sebuah mobil untuk kepentingan usaha antar jemput anak sekolah. Harga beli mobil sebesar Rp. 50.000.000,00-, untuk mengatasi kekurangan dana tersebut Tuan Azmil menghubungi bank A untuk mendapatkan pemecahan masalah akibat kekurangan dana tersebut. Bank A menawarkan solusi dengan akad al-murabahah. Bila bank A memperkirakan biaya operasional Rp.100.000.000,00 dalam 1 tahun, perkiraan jumlah pembiayaan Rp. 1.000.000.000,00- dan keuntungan yang telah disepakati Rp. 4.000.000,00- lama pembiayaan 1 tahun.
Bagaimana cara penyelesaiannya?
Data pembiayaan:
Harga pokok mobil = Rp. 50.000.000,00
Dibayar nasabah (uang muka) = Rp. 10.000.000,00
Kekurangan dibayar bank = Rp. 40.000.000,00
a. Margin (m)= [(x).c]+z
v

m= [(Rp.40.000.000,00) x Rp. 100.000.000] + Rp. 4.000.000
m= Rp. 8.000.000
b. Harga jual Bank (P) = x + [(x).c] + z
P = Rp. 40.000.000 + [(40.000.000) x Rp.100.000.000] + Rp. 4.000.000
P = Rp. 48.000.000
c. Angsuran pembiayaan
Angsuran Pembiayaan = Rp. 48.000.000,00/12 bulan
= Rp. 4.000.000,00

Berdasarkan hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa pengembalian marjin atau keuntungan yang dihasilkan dengan menggunakan formula ini menunjukkan hasil yang lebih baik dari penentuan marjin yang ada. Karena penentuan marjin dengan formula ini, dihasilkan dari keuntungan yang wajar setelah menghitung dengan total target pembiayaan dan total biaya operasi selama setahun, bukan berdasarkan suku bunga yang berlaku di pasar ataupun suku bunga pesaing dan terhindar dari fluktuasi suku bunga. Serta, formula ini sebagai alternatif yang sifanya kompetitif.

Praktik Murabahah di Indonesia
Dalam praktiknya, murabahah merupakan produk yang populer di Bank Syari’ah dibandingkan mudharabah dan musyarakah. Padahal, mudharabah dan musyarakah adalah produk utama di Bank Syari’ah. Terutama, jika mencermati penggunaan transaksi murabahah pada sektor perbankan syari’ah seperti yang tercantum pada table 1.1, maka terlihat bahwa transaksi murabahah merupakan transaksi yang paling mendominasi dengan besaran pangsa pasar 62,3% pada tahun 2005 dan 61,7% pada tahun 2006. Hal ini terjadi karena sebagian besar pembiayaan yang diberikan sektor perbankan di Indonesia bertumpu pada sektor konsumtif. Sehingga produk-produk pembiayaan konsumtif seperti pembiayaan untuk pengadaan kendaraan bermotor, pembelian rumah dan kebutuhan rumah tangga lainnya dapat dipenuhi dengan akad pembiayaan murabahah.20
Bahkan sektor produktif pun bisa dibiayai dengan model pembiayaan murabahah seperti pengadaan barang modal maupun pengadaan alat-alat produksi. Terdapat tiga alasan yang mendasari penggunaan akad murabahah pada sektor produktif, yaitu kemudahan perhitungan dan model angsuran karena hanya memperhitungkan faktor harga perolehan barang dan margin yang disepakati serta jangka waktu angsuran yang diinginkan. Kedua, mengurangi risiko kerugian bagi perbankan syari’ah karena sektor produktif rentan dengan risiko kerugian yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Ketiga, pendapatan bank lebih mudah untuk diprediksi karena kesepakatan margin relatif tidak berubah selama masa akad jika tidak terjadi kejadian luar biasa (seperti : kerusakan atau hilangnya aset murabahah dan ketidakmampuan pembeli untuk memenuhi kewajibannya atau wanprestasi). Serta, apabila menggunakan produk yang lain seperti mudharabah masyarakat banyak menanggung resiko dan sangat rumit, karena adanya keharusan orang untuk menangani manajemen dalam mudharabah. Contoh, ternak ayam yang mana rentan terhadap resiko seperti adanya flu burung.

Tabel 1.1. Tabel Perkembangan Jenis-jenis Pembiayaan21
Jenis Pembiayaan Jumlah (Miliar) Pertumbuhan (%) Pangsa (%)
2005 2006 2005 2006 2005 2006
Musyarakah 1,898 2,335 49,4 23,0 12,5 11,4
Mudharabah 3,124 4,062 51,5 30,0 20,5 19,9
Piutang Mudharabah 9,487 12,624 24,2 33,1 62,3 61,7
Piutang Istishna 282 337 (10.0) 19,6 1,8 1,6
Qard 125 250 26,2 100,6 0,8 1,2
Ijarah 316 836 201,8 164,7 2,1 4,1
Total 15,232 20,445 32,6 34,2 100,0 100,0
Sumber: Laporan Perkembangan Perbankan Syari’ah 2006 (Bank Indonesia)
Fenomena dominasi transaksi murabahah ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, (Saeed, 2004: 139) seperti yang terungkap dlam (Wiroso, 2005: 11) menyatakan bahwa perbankan syari’ah di negara-negara lain juga mengalami kondisi yang sama seperti di Pakistan porsi transaksi murabahah mencapai 80 %, sedangkan Bank Islam di Dubai pada tahun 1989 mencatat porsi murabahah sebesar 82%, dan Islamic Development Bank (IDB) sebesar 73%.
Sebenarnya, fenomena ini dapat kita tanggulangin dengan cara mengoptimalisasikan produk-produk yang lain diantaranya mudharabah dan musyarakah melalui berbagai langkah, antara lain dengan adanya kesinambungan dan transparansi informasi terhadap usaha yang akan dikelolah. Oleh karena itu, langkah ini bisa dimaksimalkan melalui database yang aktual dan sistematis, sambil terus mencari dan menemukan format khusus yang relevan dengan iklim usaha yang akan dikelolah. Langkah lainnya adalah dengan memgembangkan industri kecil yang dibina langsung oleh bank syari’ah melalui mudharabah, dimana industri ini benar-benar milik rakyat, dan dikelolah dengan amanah. Sehingga, dengan adanya langkah ini produk-produk yang lain dapat berkembang pesat seiring dengan berkembangnya sektor riil yang ada di negara kita.

C. Kesimpulan
Tulisan ini tidak sempurna menyajikan petunjuk-petunjuk praktis sistem perbankan berkenaan dengan murabahah. Karena pada dasarnya al-Quran bagaimana pun juga tidak pernah secara langsung membicarakan tentang murabahah meski disana ada acuan tentang jual beli, laba rugi dan perdagangan. Hampir tidak ditemukan rincian operasionalnya kecuali dalam hadist hal tersebut lebih banyak berkaitan dengan keadaan sosial pada masa itu.
Begitu banyak perbedaan yang bisa ditemukan dalam produk murabahah pada bank syariah yang dianggap sama oleh bank konvensional yang terdapat dalam bentuk pemberian kredit karena pada pelaksanaannya kedua hal tersebut mengandung unsur tambahan dari harga pokok.
Berdasarkan pada apa yang telah dipaparkan sebelumnya murabahah merupakan satu produk pembiayaan yang berjangka waktu pendek dengan berbasis mark up dan memiliki perbedaan dengan produk keuangan konvensional.
Maka, Perbedaan mendasar antara kedua lembaga lebih didasarkan kepada sistem kerja produk tersebut. Berangkat dari teori yang telah dikemukakan bisa dilihat pada bank syariah. Murabahah terwujud dalam bentuk menjual barng pada nasabah, hutang nasabah sebesar harga jual (tetap) selama jangka waktu murabahah ada analisa supplier, margin berdasarkan manfaat, sedangkan pada bank konvensional, terwujud dalam bentuk pemberian kredit (uang) pada nasabah, hutang nasabah sebesar kredit yang ditambah bunga berubah-ubah, tak ada analisa supplier, bunga berdasarkan rate pasar yang berlaku.
Daftar Pustaka

Abduh Muhamad, Memperluas dan Meningkatkan Pendapatan Bank Syari’ah Melalui Metode Baru Penentuan Harga Jual pada Akad Murabahah, (16 Juli 2007), http//images statistician.Multiply.com
Antonio Syafi’i, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, Jakarta:Gema Insani, Cet.VIII, 2004.
As Shan’ani, Subulussalam III, Penterjemah Abu Bakar Muhammad, Surabaya:Al-Ikhlas, Cet.I, 1995.
Faozan Akhmad, Murabahah dalam Hukum Islam dan Praktik Perbankan Syari’ah serta Permasalahannya, http://www.vibiznews.com.
Karim Adiwarman, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta:ITT, Cet.II, 2002.
Khadim Haramain Asy Syarifain, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara dan Penerjemah Al-Qur’an.

Tentang pistaza

pusat informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan organisasi dakwah yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat yang baik melalui lembaga dan badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan yang baik dan proesional.Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s