PEMIKIRAN EKONOMI MOHAMMAD HATTA

Oleh: April Purwanto

PENDAHULUAN
Pada hakikatnya, telah terdapat banyak pemikiran manusia tentang ekonomi sebelum Adam Smith dan John Maynard Keynes. Sistem Ekonomi yang ada banyak saat ini adalah berasal dari pecahnya Revolusi Prancis setelah “The Dark Ages.” Dimana kaum borjuis mengintimidasi kaum buruh untuk menghasilkan berbagai output bagi mereka. Pemikiran ekonomi yang pernah muncul sebelum itu adalah:
• Periode Nabi Muhammad SAW, Shahabah, dan Tabiin: The Missing Links
• Mercantilism (Prancis dan Eropa)
• Fisiokratisme (Prancis dan Eropa)
• Adam Smith (Neo-Clasic)
• Keynesianism
• Socialism (Karl Marx: Uni Soviet, Jerman, RRC)
• Dual Islamic Economics and Conventional Era (our current era)
Kata Ekonomi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari ekos dan nomos, yang dapat diartikan sebagai manajemen rumah tangga. Ia dapat didefinisikan sebagai ilmu yang membahas tentang manajemen sumber yang ada dalam negara untuk mendapatkan hasil yang efektif. Pada zaman dahulu, ilmu ekonomi hanya dikenal sebagai ‘Art of Economics’ yaitu seni ekonomi, karena kegiatan manusia pada saat itu hanya sebatas berburu, menangkap ikan dan bercocok tanam. Menurut Barat, Ilmu ini berkembang dan dikenal sebagai sebuah science ketika Adam Smith mengeluarkan bukunya yang berjudul “The Wealth of Nation” pada tahun 1776, sehingga ia dijuluki sebagai Bapak Ekonom Modern . Pemikirannya diikuti dengan John Maynard Keynes pada tahun 1936 setelah musibah “The Great Depression” yang melanda Amerika pada saat itu (1929-1940). Padahal, jika dikaji berdasarkan historis, Ilmu ekonomi telah banyak dibahas dalam lingkungan Ilmuwan Islam pada abad pertengahan (9-18M), disinilah terdapat “the missing links” dari sudut historis ilmu pengetahuan ini.
Dari pemikiran ekonomi inilah, muncul teori-teori tentang ekonomi sosialisme dan ekonomi kapitalisme. Ekonomi sosialis memadang bahwa manunsia adalah obyek produksi. Sehingga harus diberi kebebasan dalam menikmati hidup di dunia ini. Tidak boleh orang melarang atau tidak memberi kebebasan dalam upaya mendapatkan lapangan kerja. Hal ini diatur oleh Negara. Lain halnya dengan kapitalis, manusia sebagai individu diberi kebebasan untuk mendapatkan kenikmatan hidup. Ia berhak menentukan pekerjaan apa yang akan dipilih. Negara tidak berhak mencampuri dan mengatur kesempatan kerja bagi setiap warganya. Sehingga setiap individu yang memiliki modal capital dapat menguasai orang lain (mempekerjakan) yang menginginkan kenikmatan hidup (hasil kerja).
Dewasa ini banyak yang sudah mulai melupakan kebersamaan dan kepedulian. Tidak sedikit orang yang enggan menggunakan hati nuraninya. Segala sesuatu diukur dengan materi. Kapitalisme menguasi kehidupan kita, sadar atau tidak !
Disinilah perlunya kita membahas tokoh Muhammad Hatta atau biasa disebut dengan Bung Hatta ini. Kesederhanaan, kejujuran, kemuliaan dalam menjalankan dan mengembangkan prinsip-prinsip ekonomi kesederhanaan bisa menjadi teladan bagi setiap orang.
MOHAMMAD HATTA DAN PEMIKIRAN EKONOMINYA
Mohammad Hatta dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai Bung Hatta. Nama kecil beliau ialah Muhammad Athar. Bung Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, kemudian pada tahun 1913-1916, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Europeesche Lagere (ELS) di kota Padang. Saat berusia 13 tahun, Bung Hatta telah lulus ujian masuk ke HBS (setaraf SMU) di Batavia, sekarang Jakarta. Namun ibunya menolak dan ingin Hatta tetap di Padang dengan alasan usianya masih muda. Akhirnya ia melanjutkan pendidikannya di MULO, Padang, dan pada tahun 1919, beliau ke Batavia untuk belajar di HBS. Hatta menyelesaikan studinya pada tahun 1921 dan kemudian melanjutkan di Rotterdam, Belanda. Ia belajar ilmu perdagangan di Nederland Handelshogeschool (Pusat Pengajian Perdagangan Rotterdam, sekarang Erasmus Universiteit).
Pada hari Senin tanggal 12 Agustus 2002 media mengekspos besar-besaran sebagai Hari ulang tahun Bung Hatta yang ke-100. Beliau Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, bersama Bung Karno, berani membubuhkan tanda tangannya pada naskah proklamasi yang mengantarkan kita menjadi bangsa merdeka dan berdaulat, sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia. Beliau adalah bapak bangsa sejati. Keberanian membubuhkan tanda tangan itu bukan tanpa risiko. Oleh penjajah, mereka dituduh sebagai pemimpin pemberontakan, makar, penggulingan kekuasaan, bahkan kemungkinan akan dinyatakan sebagai penjahat perang. Sehingga tak heran bila ketika itu ada tokoh pergerakan kemerdekaan yang secara terang-terangan menolak untuk membubuhkan tanda tangan.
Meskipun Jepang telah takluk dalam Perang Pasifik dan PD II, tetapi Jepang masih belum memberikan kemerdekaan kepada rakyat Indonesia. Di lain pihak, Belanda yang telah lama menjajah kepulauan nusantara dan hanya 3,5 tahun diselingi Jepang, masih bernafsu untuk kembali menduduki bekas koloninya. Maka, bila rakyat Indonesia tidak bisa bertahan dan mempertahankan kemerdekaan, Bung Karno dan Bung Hatta lah yang paling dianggap bertanggung jawab atas segala kekacauan dan peralihan kekuasaan pemerintahan secara “illegal”. Tetapi Bung Karno dan Bung Hatta telah yakin pada diri mereka, bangsa Indonesia telah sadar akan arti pentingnya kemerdekaan. Bangsa Indonesia akan mempertahankan kemerdekaan, bukan hanya untuk menyelamatkan mereka berdua, tetapi menyelamatkan kebebasan dan kesempatan hidup berbangsa dan bernegara secara berdaulat. Menyelamatkan harga diri bangsa. Proklamasi kemerdekaan adalah ungkapan paling lantang akan semangat besar untuk hidup sebagai bangsa yang berdiri sendiri dan tidak dikangkangi penjajah. Proklamasi kemerdekaan, itulah hadiah terbesar yang diterima bangsa Indonesia dari dua tokoh besar yang lahir satu abad silam.
Pada saat memperingati 100 tahun Bung Hatta delapan tahun silam, yang dilahirkan di Bukittinggi, 12 Agustus 1902 diwarnai dengan berbagai seruan untuk meneladani moralitas Bung Hatta. Berbagai media massa mengkampanyekan paling tidak tiga nilai baik Bung Hatta, santun, jujur, dan hemat. Nilai-nilai yang menjadi kepribadian Bung Hatta itu sampai sekarang tentu masih sangat relevan untuk dilaksanakan. Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia, Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai. Bahkan ada ungkapan, bila ada pejabat negara yang paling jujur, hampir seluruh bangsa Indonesia akan menyebut nama Bung Hatta. Bukan hanya jujur, tetapi ia juga uncorruptable. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya melakukan tindak korupsi.
Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda, negara yang pernah menjajahnya, hingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Bahkan, dalam berbagai versi disebutkan, untuk membayar rekening air dan listrik, Bung Hatta yang mengandalkan hidupnya dari uang pensiunan seorang wakil presiden ternyata tidak cukup. Apalagi untuk membeli keperluan lain, seperti sepatu, yang dianggap oleh dirinya sebagai pemenuhan kebutuhan pribadi. Ia masih memikirkan kehidupan keluarga, istri dan tiga orang anaknya. Sampai akhir hayatnya Bung Hatta dikenal sebagai orang yang tetap sederhana. Dengan pengalaman dan pergaulannya yang sangat luas, serta memiliki pemahaman yang mendalam di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, rasanya tidak akan sulit bagi Bung Hatta untuk berlaku tidak sederhana. Ia bisa menjadi orang yang kaya secara materi, dan tidak perlu merasakan kesulitan dalam hidupnya. Tetapi, visi keneragarawannya mengatakan dia harus menjaga simbol kenegaraan. Bukan untuk dirinya sindiri. Maka, ia menikmati hidup dari uang pensiun. Dengan jumlah yang tidak seberapa, namun mampu melaksanakan gaya hidup yang hemat, uang pensiun itu “cukup” menghidupinya sekeluarga. Bagi Bung Hatta, tentu saja sangat mudah menerima tawaran bekerja dari berbagai perusahaan, baik lokal maupun internasional. Tetapi, bagaimana dengan citra wakil presiden. Bagaimana mungkin seorang mantan wakil presiden menjadi konsultan perusahaan A. Apakah hal itu tidak memunculkan bias dalam persaingan usaha, mengingat hebatnya pengalaman Bung Hatta? Inilah yang Bung Hatta hindari. Ia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara.
Sebagai orang yang memiliki kesempatan memperoleh pendidikan lebih tinggi dibanding saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air, Hatta merasa memiliki kewajiban untuk ikut menyebarkan pemikiran dan pemahaman, terutama dalam hal kehidupan dalam sebuah negara merdeka. Ia banyak menulis tentang bagaimana sengsaranya rakyat yang hidup dalam jajahan bangsa lain. Sebaliknya, bangsa yang menjajah hanya tinggal menikmati hasil dari keringat rakyat yang dijajah. Dalam sistem ini, secara tegas Hatta tidak melihat adanya keadilan. Untuk menyadarkan rakyat akan pentingnya arti kemerdekaan, bukan hal yang mudah. Jauh lebih sulit lagi ketika harus menjelaskan apa yang boleh diperbuat dan apa yang tidak boleh dilakukan ketika sudah merdeka. Rakyat Indonesia harus memiliki kesamaan pandang dalam menatap masa depan. Untuk itu rakyat perlu dididik. Yang paling mendasar adalah mereka bebas dari buta huruf, baca dan tulis . Sehingga pengetahuan mereka akan terus terbuka dengan membaca berbagai informasi yang beragam. Diharapkan nantinya akan muncul pemahaman yang baik mengenai perjalanan mengisi kemerdekaan. Tentu, membaca tidak akan berguna banyak bila tidak ada bahan bacaan. Maka, Bung Hatta secara konsisten membuat tulisan yang menggugah semangat kemerdekaan, mewujudkan cita-cita negara setelah kemerdekaan, mengelola negara dengan baik agar tidak menyusahkan rakyat di era yang sudah merdeka, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan berbagai tulisan lainnya.
Antara tulisan dan perbuatan Bung Hatta dengan sikap dan tindakannya tidak terjadi pertentangan. Ia adalah orang yang konsisten menjalankan sikap yang telah diambilnya. Tak perlu heran ketika tiba-tiba Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956, karena merasa tidak cocok lagi terhadap Bung Karno, presiden Indonesia saat itu. Ia menganggap Bung Karno sudah mulai meninggalkan demokrasi dan ingin memimpin segalanya. Sebagai pejuang demokrasi, ia tidak bisa menerima perilaku Bung Karno. Padahal, rakyat telah memilih sistem demokrasi yang mensyaratkan persamaan hak dan kewajiban bagi semua warga negara dan dihormatinya supremasi hukum. Bung Karno mencoba berdiri di atas semua itu dengan alasan rakyat perlu dipimpin dalam memahami demokrasi dengan benar. Jelas, bagi Bung Hatta ini adalah sebuah contradictio in terminis. Di satu sisi ingin mewujudkan demokrasi, sedangkan di sisi lain duduk di atas demokrasi. Pembicaraan, teguran, dan peringatan terhadap Bung Karno, sahabatnya sejak masa perjuangan kemerdekaan, telah dilakukan. Tetapi, Bung Karno tidak berubah sikap. Hatta pun tidak menyesuaikan sikap dengan Bung Karno. Karena merasa tidak mungkin lagi menjalin kerja sama, akhirnya Bung Hatta memilih mengundurkan diri dan memberi kesempatan kepada Bung Karno untuk membuktikan konsepsinya.
Bung Hatta memang tidak pernah menjadi presiden republik ini meski bila ditinjau dari jasa, pengetahuan, peran, dan risiko yang diambilnya, ia layak untuk menduduki jabatan itu. Kesempatan memang tidak datang padanya. Tetapi, ia telah menjadi bapak bangsa dengan moralitas tinggi. Ia adalah cermin dan pedoman dari tokoh yang lurus dan bersih serta memiliki nama baik yang senantiasa dijaganya. Sampai kini, nama Bung Hatta tetap terjaga baik dan harum.
Hatta menginginkan agar koperasi menjadi wadah ekonomi yang dapat menolong masyarakat dari kemelaratan dan keterbelakangan. Banyak jasa bung hatta dalam perkembangan koperasi di Indonesia. Hal ini jelas dari gagasan Bung Hatta agar kekuatan-kekuatan ekonomi ada ditangan rakyat. Agar kekuatan ekonomi dikuasai oleh rakyat banyak dan bukan dikuasai oleh perusahaan, koperasi adalah satu-satunya wadah. Untuk tujuan itu, Bung Hatta bersama dengan tokoh lainnya ikut aktif merintis Dewan Koperasi Indonesia (DKI), Gerakan Koperasi Indonesia (GKI), dan Kesatuan Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI).
Konsep pemikiran Bung Hatta banyak diterima pada kongres koperasi I di Tasikmalaya dan Kongres Koperasi II. Beliau juga member gagasan pendirian Sekolah Menengah Ekonomi Jurusan Koperasi dan bahkan pendidikan tinggi koperasi.
Disisi lain kondisi kapitalisme saat ini telah menggerogoti seluruh aspek kehidupan kita. Dari tukang becak sampai para pejabat tinggi. Tidak pandang bulu sadar atau tidak pemikiran kita telah terkontaminasi tradisi kapitalisme. Maka tidak heran banyak suap menyuap di peradilan. Gayus bisa leluasa berkeliaran kemana saja saat dipenjara. Ini semua karena Gayus memegang capital. Hal ini tidak mungkin terjadi ketika yang dipenjara tidak punya apa-apa. Harta telah mempengaruhi segalanya. Keputusan hakim bahkan bias dibeli dengan harta. Penjara bias dibeli dengan harta. Penjara yang tadinya untuk menjerakan sekarang menjadi menyenangkan bagi yang beruang. Kerakusan pemilik modal telah menjarah kehidupan masyarakat. Nah untuk melawan para pemilik modal yang rakus ini kita memerlukan komunitas-komunitas ekonomi yang mandiri. Komunitas-komunitas ekonomi yang memiliki komitmen untuk mensejahterakan seluruh anggota komunitasnya dan mencoba terus berjuang melawan kerakusan dan keserakahan para pemilik modal yang menjadi tuan-tuan dalam ranah kapitalisme. Dan satu-satunya sistem ekonomi yang memiliki kekuatan komunitas ini mennurut Mohammad Hatta adalah koperasi. Mohammad Hatta salah satu proklamator kemerdekaan bangsa dan negara ini telah mengajari kita bagaimana caranya. Kita sebaiknya menggali kembali pemikiran Bapak Guru bangsa ini sambil melakukan penyempurnaan yang masih dirasa kurang. Satu-satunya sistem ekonomi dari, oleh dan untuk komunitas adalah koperasi. Produk-produk koperasi bisa terus dikembangkan. Bahkan segala kelebihan sistem perbankan pun bisa kita adopsi pada koperasi ini yang tentu saja koperasi akan memihak kesejaheraan anggoata-anggotanya bukan para pemilik modal yang rakus dan korup.
Sekuat apapun peruasahaan besar (saya menganalogikan vendor dalam dunia software) tidak akan berpengaruh banyak terhadap komunitas-komunitas (anggota koperasi) jika masing-masing diri tetap berkomitmen terhadap komunitasnya, seperti kehebatan .NET tidak mempu memalingkan komunitas Java yang semakin hari semakin terasa kekuatannya. Sampai-sampai Bill Gates pun kelimpungan bagaimana cara membendung kekuatan komunitas ini. Satu-satunya kekuatan yang mampu menggulingkan tahta kekuasaan kapitalisme dari kerajaan sistem ekonomi
adalah komunitas koperasi. Akhirnya saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat Kekuatan itu adalah komunitas. Islam tegak dengan kekuatan, dan kekuatan ada dalam jamaah. Bagi teman-teman pergerakan yel-yel rakyat bersatu tak bisa dikalahkan, memang benar adanya. Hanya saja untuk menyatukannya butuh strategi dan -dalam dunia kapitalis- kekuatan ekonomi.
PENUTUP
Mohammad Hatta mengatakan supaya kita mau memperhatikan saudara-saudara kita kulit putih (Tionghua) dalam menjalankan aktifitas kehidupannya. Kebanyakan mereka berdagang. Mereka mengusai hamper seluruh aspek perdagangan dunia. Dari barang-barang terkecil sampai besar, yang terkadang kita tidak pernah terlintas di benak pikiran kita. Jarum misalnya, pernahkah terlintas dibenak pikiran kita, bahwa itu dibutuhkan masyarakat. Mainan anak-anak juga demikian, dari hal-hal yang kita anggap sangat kecil dan sepele. Tapi dari yang kecil ini mereka menjnadi besar. Kemandirian ekonomi menjadi suatu keharusan untuk kemajuan bangsa ini. Jika kita tidak mampu membuat yang kecil bagaimana kita akan membuat hal yang besar ?

DAFTAR PUSTAKA
Budiono,(1996) Seri Sinopsis Ilmu Ekonomi, Yogyakarta ; BPFE UGM
Burhanuddin, (2001), Pengantar Teori Ekonomi, Jakarta; Rajawali Press
Mohammad Hatta, (1981), Kumpulan Pidato I dari tahun 1945-1951, Jakarta; Inti Idayu Press
Mohammad Hatta, (1983), Kumpulan Pidato II dari tahun 1951-1979, Jakarta; Inti Idayu Press
Mohammad Hatta, (1963), Kumpulan Karangan I, Jakarta; Inti Idayu Press
Mohammad Hatta, (1964), Kumpulan Karangan II, Jakarta; Inti Idayu Press
Mohammad Hatta, (1967), Kumpulan Karangan III, Jakarta; Inti Idayu Press
Mohammad Hatta, (1967), Kumpulan Karangan IV, Jakarta; Inti Idayu Press

Tentang pistaza

pusat informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan organisasi dakwah yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat yang baik melalui lembaga dan badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan yang baik dan proesional.Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s