FUNDRAISING ZAKAT

Untuk memahami istilah fundraising kita bisa merujuk terlebih dahulu ke dalam kamus bahasa Inggris. Fundraising diterjemahkan dengan pengumpulan uang. Mengapa pengum-pulan uang perlu? Pengumpulan uang sangat diperlukan untuk membiayai program kerja dan operasional sebuah lembaga. Intinya keberlangsungan hidup sebuah lembaga tergantung pada sejauh mana upaya pengumpulan dana itu dilakukan. Fundraising biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga / organisasi nirlaba.
Dalam organisasi perusahaan, untuk menjaga keberlangsungan hidup perusahaan dibutuhkan tim yang handal dalam mengatur perusahaan tersebut. Tim tersebut terkumpul dalam suatu manajemen yang mampu menggerakkan seluruh elemen organisasi perusahaan dari operasional, produksi, pengelolaan dan pemasaran. Posisi fundraising dalam organisasi nirlaba hampir sama dengan posisi pemasaran dalam organisasi perusahaan. Hanya saja, ada perbedaan mendasar antara fundraising dalam organisasi nirlaba, dan pemasaran dalam organisasi perusahaan yang akan kita bahas pada bab-bab mendatang.
Fundraising adalah proses mempengaruhi masyarakat baik perseorangan sebagai individu atau perwakilan ma-syarakat maupun lembaga agar menyalurkan dananya ke-pada sebuah organisasi. Kata ”mempengaruhi” masya-rakat mengandung banyak makna; pertama, dalam kalimat diatas mempengaruhi bisa diartikan memberitahukan ke-pada masyarakat tentang seluk beluk keberadaan orga-nisasi nirlaba/ OPZ (karena organisasi pengelola zakat bekerja atas dasar ibadah dan sosial, tidak fokus pada perolehan laba dan keuntungan, maka OPZ menjadi bagian dari organisasi nirlaba). Bukankah fundraising yang dilakukan organisasi nirlaba semacam OPZ selalu melibatkan masyarakat ? Bukankah diantara tujuan dilakukan-nya fundraising adalah memperbanyak donatur? Bagaima-na donatur akan bertransaksi memberikan sumbangan dananya kepada organisasi nirlaba apabila tidak ada komunikasi dan pemberitahuan kepada para donatur?. Pemberitahuan terlebih dahulu kepada donatur dan calon donatur adalah langkah awal menjalin hubungan yang lebih baik untuk menarik simpati dan dukungan dana dari para donatur.
Kedua, mempengaruhi dapat juga bermakna meng-ingatkan dan menyadarkan. Artinya mengingatkan kepada para donatur dan calon donatur untuk sadar bahwa dalam harta yang dimilikinya ada sebagian hak fakir miskin yang harus ditunaikannya. Harta yang dimilikinya bukanlah se-luruhnya diperoleh dari hasil usahanya secara mandiri. Karena manusia bukanlah lahir sebagai makhluk individu saja, tetapi juga memfungsikan dirinya sebagai makhluk sosial. Sesempurna-sempurnanya Manusia, tidak akan lepas dari berinteraksi dan membutuhkan bantuan orang lain. Tidak mungkin, seseorang yang membutuhkan sepotong baju harus mencari biji kapas terlebih dahulu, kemudian menanamnya dalam waktu yang tidak cukup hanya satu dua bulan, bahkan bertahun-tahun hingga tanaman kapas tumbuh dan berbuah. Setelah itu mema-nennya, memintalnya menjadi benang, dan menenunnya menjadi kain. Itupun belum selesai, masih ada proses mengukur besaran badan agar lebih serasi untuk dijahit menjadi baju agar pas dan enak dikenakan dan dipandang mata. Sungguh, teramat sangat rumit apabila semuanya dikerjakan sendirian. Dan ini, tidaklah mungkin dikerjakan oleh kita seorang diri. Yang berarti ada sebagian besar tugas-tugas kita, yang biasa kita menikmati hasilnya, kita mendapatkannya, tanpa berpikir, darimana hasil yang kita dapatkan ini? Ternyata kita baru sadar ketika ada orang yang datang kepada kita menawarkan berbagai macam program dan kegiatan untuk membantu kaum dhuafa.
Kesadaran yang seperti inilah yang diharapkan oleh OPZ dalam mengingatkan para donatur dan muzakky. Sehingga penyadaran dengan mengingatkan secara terus menerus menjadikan individu dan masyarakat terpengaruh dengan program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukannya.
Ketiga, Mempengaruhi dalam arti mendorong masya-rakat, lembaga dan individu untuk menyerahkan sum-bangan dana baik berupa zakat, infak, shadaqah dan lain-lain kepada organisasi nirlaba. OPZ atau organisasi nir-laba dalam melakukan fundraising juga mendorong kepe-dulian sosial dengan memperlihatkan prestasi kerja atau anual repport kepada calon donatur. Sehingga ada kepercayaan dari para calon donatur setelah memper-timbangkan segala sesuatunya. Dorongan hati nurani para calon donatur untuk memberikan sumbangan dana kepada OPZ ini merupakan upaya fundraising dalam upaya peng-galian dana untuk keberlangsungan hidup OPZ.
Keempat, mempengaruhi untuk membujuk para dona-tur dan muzakky untuk bertransaksi. Pada dasarnya ke-berhasilan suatu fundraising adalah keberhasilan dalam membujuk para donatur untuk memberikan sumbangan dananya kepada organsasi pengelola zakat. Maka tidak ada artinya suatu fundraising tanpa adanya transaksi. Kepandaian seseorang dalam membujuk donatur, mesti-nya tidak bisa dipisahkan dengan kepandaian seseorang dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Jika dengan tulisan saja calon donatur sudah merasa yakin, simpati dan mendukung OPZ, maka akan lebih baik lagi apabila komunikasi tulisan diikuti dengan tindakan silaturahmi sehingga tejadi kontak mata dan komunikasi secata lisan. Proses membujuk masyarakat baik dengan lisan maupun tulisan dari memulai memikirkan tema apa yang akan dituliskan dalam sarana (pamflet, spanduk, banner dll) hingga silaturahmi untuk saling mempengaruhi berjalan dengan baik. Sehingga terjadi transaksi karena dipengaruhi oleh sikap dan perilaku para amil dalam membujuk para donatur dan muzakky. Upaya mempenga-ruhi ini merupakan bagian penting dari upaya fundraising.
Kelima, dalam mengartikan fundraising sebagai proses mempengaruhi masyarakat, mempengaruhi juga dapat diterjemahkan sebagai merayu, memberikan gambaran ten-tang bagaimana proses kerja, program dan kegiatan se-hingga menyentuh dasar-dasar nurani seseorang. Gambaran-gambaran yang diberikan inilah yang diharapkan bisa mempengaruhi masyarakat sehingga mereka bersedia memberikan sebagian dana yang dimilikinya sebagai sumbangan dana, zakat, infak maupun shadaqah kepada organisasi yang telah merayunya. Kita bisa menganalogikan dengan seorang yang sedang jatuh cinta. Kalau salah satu pasangan menghendaki sesuatu, sedangkan yang lain tidak menyetujui atau tidak berkenan mereka tetap berusaha untuk merayu, membujuk dengan berbagai cara bahkan terkadang dengan ancaman. Sehingga pa-sangannya berubah pikiran karena merasa iba, kasihan, sayang, cinta, tersentuh hati nuraninya atau perasaan yang lainnya berserta kekhawatiran apabila ditolak cintanya. Yang tadinya tidak menyetujui, karena berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, berubah pikiran menjadi menyetujui, bahkan memberikan pena-waran yang lebih terhadap pasangannya. Fundraising juga memberikan peluang untuk merayu kepada para calon donatur untuk terpaksa memberikan sumbangan dananya kepada organisasi pengelola zakat karena gambaran-gambaran yang diberikan oleh OPZ.
Keenam, mempengaruhi dalam pengertian fundraising dimaksudkan untuk memaksa jika diperkenankan. Bagi organisasi pengelola zakat, hal ini bukanlah suatu fitnah, atau kekhawatiran akan menimbulkan keburukan. Tentu-nya paksaan ini dilakukan dengan ¬ahsan, sebagaimana perintah Allah dalam Al Qurán surat at Taubah ayat 103;
خُذْ مِنْ أَمْوَاِلهِمْ صَدَقَةً تُطَهِرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِم ِبهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَالله َسمِيْعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoálah untuk mereka. Sesungguhnya doá kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS At Taubah; 103)
Kata ”khudz”adalah fiil amr (kata kerja perintah) yang berarti memberikan perintah untuk mengambil zakat. Para petugas zakat atau amil diperintahkan untuk mengambil zakat dari para aghniya’. Kaidah ushul fiqh mengatakan bahwa الاصل فى الامرللوجوب “Asalnya perintah itu menunjukkan wajib”. Sehingga ketika zakat dipaksakan bagi seseorang yang memang sudah berkewajiban untuk membayar zakat adalah suatu kewajaran diperintahkan Allah dalam al Quran dan wajib bagi setiap muslim yang mampu.
Dimasa rasulullah memang zakat tidak populer, karena hanya diambil dari orang-orang kaya saja diantara mere-ka. Justru shadaqah lebih populer dibandingkan zakat. Karena shadaqah bisa diperoleh dari siapapun tidak pandang bulu, entah seseorang yang mengeluarkan sha-daqah itu kaya atau miskin. Shadaqah memang memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan peng-ertian zakat. Jika zakat hanya sebatas materi saja dengan ketentuan-ketentuan syariat yang harus dipenuhi, shada-qah lebih dari sekedar materi. Bahkan bisa pula berupa immateri. Misalnya menjadikan orang lain gembira, baha-gia dan senang, dengan senyuman. Bukankah ada ung-kapan تَبَسُمُكَ فىِ وَجهِ اَخِيكَ صَدَقَةٌ (senyummu terhadap saudaramu adalah shadaqah).
Zakat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang memiliki kelebihan dalam hal harta benda. Selain itu zakat juga merupakan bagian dari rukun Islam yang bersifat ijtima’iyah. Berbeda dengan rukun-rukun Islam yang lain. Sehingga pada masa-masa awal pemerintahan Islam, khususnya pada pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq, zakat pernah dipaksakan sebagaimana dalam ucapan khutbah beliau;
َلأُقَاتِّلَنَّ مَنْ فَرَقَ بَيْنَ الصَّلاَةَ وَالزَّكَاةِ
”Akan aku perangi siapa saja yang memisahkan antara sholat dan zakat”.
Hal ini dilakukan Abu Bakar Ash Shidiq berdasarkan apa yang pernah disampaikan Rasulullah SAW dalam Shohih Muslim:
أُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَقَّ يَشْهَدُوااَنْ لاَاِلَهَ اِلاَالله وَاَنَّ ُمحَمَّدًارَسُولُ الله وَيُقِيمُوْا الصَّلاَةَ وَيُؤتُواالزَّكَاةَ….
”Aku (Nabi) diperintahkan untuk memerangi manusia, sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah rasul utusan Allah, mendirikan sholat dan menunaikan zakat”
Disini sangat jelas bahwa pada awal-awal peme-rintahan Islam, zakat memang dipaksakan. Tetapi pada masa seperti sekarang ini apakah masih diperlukan pemaksaan bagi para donatur atau muzakky? Kalau ”ya”. Siapa yang diberi kewenangan untuk melaksanakannya? Semuanya tergantung pada niat pemerintah. Karena pe-merintahlah yang memiliki segala sarana dan prasarana-nya untuk melakukan hal itu. Namun jika pemerintah belum memikirkan hal tersebut karena banyaknya perso-alan yang lebih penting untuk diselesaikan terlebih dahulu daripada memikirkan pengelolaan zakat, ini akan menjadi bagian tugas dari fundraising organisasi pengelola zakat. Kalau OPZ tidak mampu memaksa aghniya’ yang sudah berkewajiban untuk mengeluarkan zakat, minimal OPZ memberikan penyadaran tentang kewajiban-kewajiban aghniya’ terhadap kaum dhuafa.

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s