KETENTUAN HUKUM DALAM ISLAM

Pada dasarnya dalam ketentuan al Quran, suatu hukum itu ditentukan dalam bentuk perintah dan larangan. Dari sinilah lahir hukum setelah para ulama dengan pemahaman berfikirnya memunculkan ilmu Ushul fiqih. Sehingga muncullah ketentuan-ketentuan hukum yang biasa disebut dengan Al ahkam al khomsa. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah :
Wajib : Sesuatu ditentukan memiliki hukum wajib apabila diperintahkan oleh Allah swt dan harus dilaksanakan. Apabila tidak dilaksanakan ketentuannya maka ia akan berdosa dan kelak akan mendapatkan siksa di akhirat dan apabila dilaksanakan dengan baik akan mendapatkan pahala.
Sunah : Suatu ketentuan yang apabila dilaksanakan akan mendapatkan pahala dari Allah swt dan apabila ditinggalkan akan merasakan kerugian disisi Allah dan tidak berdosa.
Haram : Suatu ketentuan memiliki hukum haram apabila dilarang oleh Allah dalam al Qur’an dan dilarang oleh rasulnya. Yaitu suatu ketentuan yang apabila dilaksanakan akan berdosa dan mendapat azab dari Allah swt dan apabila ditinggalkan akan mendapat pahala.
Mubah : suatu ketentuan hukum yang tidak ada perintah dan tidak pula ada larangan dari Allah maupun rasulnya akan tetapi boleh dilaksanakan. Apabila dilaksanakan ketentuan tersebut tidaklah mengandung pahala dan apabila ditinggalkan tidaklah berdosa.
Makruh : suatu ketentuan hukum yang tidak ada perintah dan tidak pula ada larangan dari Allah maupun rasulnya. Sehingga ada ulama yang menganggap samar /sesuatu yang kurang jelas. Yaitu ketentuan hukun yang apabila dilaksanakan tidak mendapat pahala dan apabila ditinggalkan insyaAllah mendapat pahala.
Dikalangan masyarakat Islam ada orang yang paham dan mengerti apa maksud dan kandungan perintah dan larangan dalam alquran. Demikian juga sebaliknya ada dikalangan masyarakat islam yang tidak mengerti sama sekali apa maksud dan kandungan ayat-ayat alquran. Mereka butuh orang yang paman dan mengerti untuk menjelaskan lebih lanjut maksud dan kandungan ayat alquran. Sehingga dari dua golongan masyarakat islam ini muncul istilah ijtihad dan taklid.
Ketentuan-ketentuan hukum, yang sebenarnya merupakan hasil pemikiran para ulama disebut ijtihad. Dalam terminologi yurisprudensi (hukum) Islam, kata Ijtihad dan Taqlid adalah dua kata yang tidak asing dan telah menjadi bahan pembahasan para fuqaha dan ushuliyyun sejak generasi terdahulu sampai sekarang. Akhir-akhir ini bahasan tentang keduanya mulai marak kembali, khususnya ketika muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai pengikut AlQur’an dan Sunnah Nabi saw. Mereka acapkali disebut dengan mujaddid (kaum pembaharu).
Gerakan mujaddid menolak segala bentuk taqlid, khususnya kepada para mujtahid yang telah wafat seperti Imam Abu Hanifah (80-150H), Imam Malik Bin Anas (93-179 H), Imam Syafi’i (150-198 H) dan Imam Ahmad Bin Hambal (164-241 H). Kehadiran mereka tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan mengundang reaksi yang cukup keras dari kaum taqlidiyyin (para pengikut empat imam mujtahid tersebut).
Letak perbedaan kedua golongan ini, (mujaddidin dan taqlidiyyin), sehubungan dengan masalah hukum Islam, adalah kaum mujaddidin berpendapat bahwa umat Islam hanya harus mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, dan tidak boleh mengikuti selain keduanya. Dengan demikian setiap muslim harus merujuk kepada Al Qur’an dan Hadis secara langsung, tidak diperbolehkan mengikuti (taqlid) kepada pendapat ulama.
Sementara kaum taqlidiyyin berpendapat, bahwa sah-sah saja seorang muslim mengikuti pendapat seorang ulama, khususnya para imam mazhab yang empat, karena pendapat mereka tidak lepas dari empat dasar hukum, Al Qur’an, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Apalagi mereka lebih dekat ke zaman kenabian dari pada umat Islam sekarang ini.
Lebih dari itu kaum taqlidiyyin membatasi ijtihad hanya kepada empat imam mazhab tersebut. Dengan pengertian, setelah keempat mujtahid tersebut tidak ada lagi mujtahid yang lain. Walaupun ada, maka itu hanya sebagai mujtahid fatwa bukan mujtahid mutlak, seperti Imam Nawawi di Mesir dan Imam Rafi’i di Suria. Jadi satu pihak mewajibkan setiap muslim merujuk langsung kepada Al Qur’an dan Sunnah, walaupun dengan seperangkat ilmu alat seadanya serta dengan latar belakang pendidikan yang berbeda.
Dengan kata lain, menurut pihak ini setiap muslim harus berijtihad (definisi ijtihad ada pada keterangan berikutnya) dan diharamkan taqlid.Sementara di pihak lain menutup pintu ijtihad rapat-rapat, sehingga tidak diperkenankan seseorang setelah empat imam mujtahid untuk berijtihad. Mereka harus mengikuti salah satu dari empat imam mujtahid tersebut.
Definisi Ijtihad sebelum mendiskusikan masalah ijtihad dan taqlid, terlebih dahulu perlu dijelaskan definisi ijtihad. Para ushuliyyun (pakar ushul fiqh) dan fuqaha dalam mendefinisikan ijtihad berkata, “Ijtihad adalah mencurahkan segenap upaya untuk mendapatkan hukum syari’at dari sumber aslinya”(Pengantar dan Sejarah Hukum Islam,1970;162).
Ulama Ahlu Sunnah dan Syi’ah berpendapat, bahwa sumber hukum Islam yang utama adalah Al Qur’an dan Sunnah. Dan mereka beranggapan bahwa segala kasus yang dihadapi umat manusia pasti ada penyelesaiannya dalam Islam (AlQur’an dan Sunnah) baik secara langsung atau tidak dan kaum muslimin wajib merujuk dan mengikuti keduanya.Yang menjadi masalah, apakah setiap orang muslim dapat memahami maksud AlQur’an dan Sunnah ?, atau lebih dari itu. Apakah setiap muslim mampu bahkan harus mengambil hukum langsung dari keduanya ? Oleh karena masalah ijtihad adalah masalah bakat (malakah) yang ada pada seseorang, yang dengannya dia mampu menarik hukum (istinbat) dari sumber-sumbernya (Kitab Rasail,1952), maka tidak realistis kalau setiap muslim harus berijtihad. Karena setiap orang mempunyai bakat dan kecende-rungan yang berbeda-beda. Sangat tidak realistis seseorang yang sibuk dengan keahlian bidangnya seperti dokter, insinyur dan lainnya dituntut untuk berijtihad. Demikian pula seorang buruh yang bersusah payah membanting tulang untuk mencari nafkah seharian penuh, dituntut berijtihad.
Oleh karena itu, ijtihad tidak diharuskan atas setiap muslim. Akan tetapi, seseorang yang mempunyai bakat dan kemampuan karena penguasaannya terhadap beberapa disiplin ilmu, wajib berijtihad dan tidak boleh taqlid.
Jadi, ijtihad tidak harus dilaksanakan oleh setiap muslim dan juga tidak terbatas pada beberapa orang saja. Ijtihad dapat dilakukan oleh setiap orang yang berbakat dan mempunyai kemampuan. Persepsi ini, barangkali bisa menjadi jembatan dan penengah antara kaum mujaddidin dan kaum taqlidiyyin.
Memang, untuk menjadi mujtahid tidaklah mudah. Murtadha Muthahhari, seorang mujtahid Iran yang juga filosof menyebutkan beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid, antara lain :
Bahasa Arab mencakup nahwu, sharaf, ma’ani, bayan dan badi. Karena sumber rujukan hukum Islam adalah AlQur’an dan Sunnah yang berbahasa Arab. Tanpa menguasai bahasa Arab dengan baik, seseorang sulit untuk memahami keduanya dengan baik.
Tafsir AlQur’an, Ilmu Manthiq atau logika. Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara berpikir logis dan berargumen-tasi yang tepat. Oleh karenanya, seorang mujtahid harus mengua-sainya agar dia dalam menginterpretasikan hukum dari Al Qur’an dan Sunnah berdasarkan argumentasi yang tepat dan logis.
Ilmu Hadist. Seorang mujtahid harus menguasai benar hadis, asbabul wurud (konteksnya), pembagian-pembagiannya dan macam -macamnya.
Ilmu Rijal yaitu ilmu tentang perawi hadis. Seorang mujtahid harus mengetahui tentang biografi setiap perawi hadis sebelum mengkaji tentang matan hadis. Karena pengetahuan tentang ilmu ini akan menentukan kedudukan hadis dan akan mempengaruhi validitas hukum yang dikeluarkan oleh seorang mujtahid dari suatu hadis.
Ilmu Ushul Fiqih. Ilmu yang membahas tentang cara mengintrepretasikan hukum (dustur istinbath). Ilmu ini menggunakan peranan dari setiap disiplin ilmu yang dibutuhkan dalam istinbath (Muhammad Baqir Shadr,Kitab al Halaqat).
Banyak bahasan yang tercakup dalam ilmu ini, misalnya apakah setiap kata kerja perintah (fi’il amr) mengandung arti wajib (al wujub) atau tidak ? kalau tidak mengapa dan kapan ? atau misalnya bahasan tentang hujiyyah dhawahir yang ringkasnya apakah pemahaman secara lahiriah seorang mujtahid tentang sebuah ayat atau hadis itu (berstatus) hujjah atau tidak dan bahasan lainnya.
Enam disiplin ilmu tersebut dapat dikuasai oleh siapa saja, sehingga tidak ada pembatasan jumlah mujtahid, tapi pada waktu yang sama keharusan menguasai enam disiplin ilmu tersebut membatasi orang-orang agar tidak menganggap enteng berijtihad (merujuk langsung kepada AlQur’an dan Sunnah) hanya dengan bermodalkan bahasa Arab yang ala kadarnya atau tanggung, apalagi hanya mengandalkan terjemahan belaka.
Bolehkah bertaqlid ? Taqlid adalah beramal atas dasar fatwa seorang faqih/ mujtahid (Imam Khumainy, Tahrir al Wasilah). Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap muslim harus merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, meskipun tidak semua orang muslim mampu merujuk kepada keduanya secara langsung (berijtihad) karena enam persyaratan tersebut, maka bagi yang tidak mampu diperkenankan bertaqlid.
Kata-kata taqlid bagi sementara kaum muslimin adalah kata yang berkonotasi negatif. Bahkan sebagian ada yang mengharamkannya. Padahal masalah taqlid adalah sesuatu yang lumrah, wajar dan logis terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan sosial umat manusia tegak atas dasar taqlid, karena taqlid tidak lain dari perbuatan seseorang yang tidak tahu merujuk kepada yang tahu dalam segala urusan. Misalnya seorang yang sakit merujuk kepada Dokter sebagai ahli kesehatan, seorang ulama meminta bantuan seorang insinyur teknik arsitektur ketika hendak membangun masjid, pesantren dan sebagainya.
Setiap orang yang tidak tahu dalam satu masalah atau urusan pasti merujuk kepada yang ahli dalam masalah dan urusan tersebut. Itulah yang dinamakan taqlid. Dalam hal ini tidak ada yang menganggap taqlid itu tidak baik.
Demikian halnya dalam masalah syariat atau hukum (baca, fiqih), tidak semua orang mampu mengambilnya langsung dari Al Qur’an dan Sunnah, karena pengambilan langsung dari keduanya bukan sesuatu yang mudah, akan tetapi perlu ada spesialisasi. Nah, orang yang awam tentang syariat, baik itu pedagang, petani, kaum intelek dan lainnya yang tidak membidangi syariat secara khusus, mau tidak mau mereka harus merujuk kepada orang yang ahli dalam masalah syariat. Alasan ini dalam istilah para ushuliyyun dan fuqaha disebut al uruf al uqala’i.
Disamping itu ada beberapa ayat yang oleh sebagian ulama dijadikan dalil tentang diperbolehkannya taqlid dalam urusan syariat, antara lain :
1. Surat AtTaubah ayat 122
“Tidak sepatutnya bagi semua orang mukmin pergi (berjihad). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk tafaqquh (belajar secara mendalam) dalam urusan agama. Dan (setelah itu) mereka hendaknya memberi peringatan kepada kaumnya kalau kembali kepada mereka, agar mereka dapat menjaga diri mereka.”
Ayat ini secara implisit menyatakan, bahwa kewajiban orang yang tidak bertafaqquh (faham) untuk mengikuti dan menerima keterangan orang-orang yang bertafaqquh.
2. Surat AlAnbiya ayat 70
“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir, jika kalian tidak mengetahui.”
Ayat ini mengandung arti yang umum, karena ahli dzikir dapat diartikan sebagai ahli kitab, jika yang menjadi mukhatab (obyek) adalah kaum musyrikin dan juga dapat diartikan sebagai para imam atau ulama (ketika tidak ada imam) kalau yang menjadi mukhatab adalah umat Islam. Berdasarkan pengertian kedua, ketika Allah menyuruh umat Islam bertanya kepada para imam dan ulama, berarti mereka harus menerima jawaban yang diberikan oleh Imam dan ulama.

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s