MENJADI AMIL BUKAN PILIHAN ?

Tidak jarang bagi setiap orang, menjadi amil bukanlah menjadi pilihan apalagi merupakan cita-cita. Hampir tidak pernah terlintas dalam benak pikiran seseorang untuk mengabdikan diri dalam ibadah sosial menjadi amil. Mengapa demikian ? Karena dalam kondisi dunia yang serba materialistis seperti sekarang ini, tidak memungkinkan seseorang bekerja hanya dalam rangka semata-mata beribadah kepada Tuhan (lillahi ta’ala) tanpa mengharap imbalan materi. Lillahi ta’ala tidak bisa dipahami secara parsial tidak mendapat imbalan materi di dunia. Tetapi lillahi ta’ala mestilah dipahami secara proporsional. Artinya seseorang yang bekerja dalam rangka beribadah kepada Allah boleh mendapat imbalan sesuai dengan hasil kerjanya. Seseorang yang bekerja sebagai tukang batu (bangunan) dalam rangka pembangunan masjid mestilah mendapat imbalan materi sesuai dengan hasil kerjanya tanpa mengurangi nilai ibadah karena Allah. Karena memang tukang batu ini sangat membutuhkan materi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kalau dia mendapatkan imbalan materi itu tidak berarti tukang batu tadi tidak ikhlas dalam bekerja, tidak lillahi ta’ala. Tidak!.Tetapi demikianlah semestinya. Dia memiliki hak untuk mendapatkan upah sebagai penghasilan atas jerih payahnya bekerja secara professional sebagai tukang bangunan.
Demikian juga, menjadi amil. Menjadi amil yang bekerja dalam rangka menegakkan syariat Islam khususnya terkait dengan salah satu rukun Islam yakni zakat yang ikhlash lillahi ta’ala tidaklah berarti tidak boleh menerima gaji, tidak. Tetapi amil diperbolehkan mengambil sebagian dana zakat yang diperoleh secara proporsional, sesuai dengan kebutuhan dan tidak boleh berlebihan. Amil haruslah bekerja sebagaimana kebanyakan orang bekerja dengan penuh kesungguhan, yaitu memikirkan arah dan tujuan ke depan pengelolaan zakat untuk kesejahteraan umat dan masyarakat. Dengan perencanaan yang matang sebagaimana tukang batu. Seorang tukang batu untuk bekerja tidak bisa sendirian, dia harus diampingi oleh seorang arsitektur yang bekerja dengan penuh kesungguhan memikirkan tentang bentuk dan gambar, ukuran, ketebalan, kekuatan bangunan yang akan dibangun secara cermat. Setelah ada gambaran inilah seorang tukang batu bisa bekerja dengan menyesuaikan gambara yang sudah ada.
Bagaimanapun juga, amil yang sepertinya tidak dibutuhkan masyarakat sesungguhnya sangat dibutuhkan sekali dalam rangka penunaian zakat sebagai pelaksanaan rukun islam yang ketiga ini. Seandainya masyarakat tidak membutuhkan amil, Allah masih membutuhkan amil sebagai pelaksanaan penegakan syariat islam. Amillah yang bertugas menyadarkan masyarakat tentang kewajiban menunaikan zakat, yang diberi kewenangan oleh Allah dan rasulnya untuk mengambil dana zakat kepada pada muzakky. Allah dan Rasulnyalah yang menentukan gambaran tentang tugas-tugas seorang amil zakat. Demikian juga tentang obyek yang menjadi sasaran tembak atau pekerjaan seorang amil. Allah dan rasulnya telah menentukannya. Karena pentingnya tugas amil zakat Allah memberikan kemuliaan baginya dan boleh mengambil sebagian dana yang diperolehnya sebagai upah atau hak atasnya. Jadi amil adalah bagian dari mustahik yang berhak mendapatkan gaji sebagaimana pemberian zakat kepada golongan fakir, miskin mualaf dan lain sebagainya. Sebagaimana diperintahkan Allah dalam QS at Taubah; 60.
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
Walaupun amil memiliki hak yang sama dengan mustahik yang lain tetapi memiliki kewajiban yang berbeda. Kalau seorang fakir, miskin, mualaf, ghorim, riqab, dan ibnu sabil diberikan zakat atasnya kerana permasalahan kesejahteraan yang mungkin dan dirasa kurang, tetapi seorang amil sebagaimana sabilillah yang dia mendapatkan hak dana zakat karena masalah kewajiban yang berjibun. Diantara kewajiban seorang amil itu adalah mengelola zakat dari sosialisasi, penyadaran kewajban zakat bagi seorang muslim, merencanakan pengambilan dana zakat dari muzakky, mengambil dana zakat, infak dan shadaqah, mencatatnya dan merencanakan penyaluran jangka pangjang, menyalurkan, membina mustahik dengan pembinaan yang terpadu sehingga zakat benar-benar menjadi sarana peningkatan kesejahteraan mustahik dan menjadikan mustahik seorang muzakky dalam waktu tertentu. Jadi seorang amil yang tidak mampu menyadarkan muzakky untuk berzakat atau tidak mau mengambil dana zakat ke kaum aghniya’ -menunggu muzakky membayar zakat tanpa ada upaya penyadaran dan penekanan – maka tidak layak untuk disebut sebagai seorang amil. Karena kebaikan dari zakat itu akan terkumpul apabila diambil, bukan menunggu kesadaran masyarakat untuk membayar zakat. Perintah Allah dalam QS At Taubah ; 103
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (103)

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Karena kebanyakan dilingkungan masyarakat kita hampir tidak pernah diperkenalkan amil menjadi sebuah pekerjaan. apalagi sebagai profesi. Dalam setiap kesempatan mengisi formulir data di berbagai kesempatan yang biasanya berisi nama, tempat tanggal lahir, alamat, pekerjaaan dll, isian pernyataan pekerjaan tidak penah ada jawaban amil sebagai alternatifnya. Biasanya kalau kita bertanya kepada petugas tentang pekerjaan sebaggai amil dikatagorikan pada pekerjaan yang mana?. Atau kalau tidak lengkap ada jawaban kosong yang harus diisi, maka kalau kita mengisi amil tidak banyak yang paham sehingga kita diminta untuk mengisikan jawaban swasta atau wiraswasta. Karena amil tidak dianggap sebagai pekerjaan. Jadi disini amil disamakan dengan kerja swasta atau wiraswasta bahkan dianggap tidak bekerja. Ya, demikian adanya menurut sebagian orang. Bekerja sebagai amil itu dianggap tidak bekerja atau pengangguran. Sehingga ada kesimpulan bahwa amil adalah bukan pekerjaan atau kerja swasta bukan pegawai negeri. Menjadi amil adalah pilihan kedua. Bahkan menjadi amil dianggap merupakan pekerjaan sampingan menjemukan, tidak ada tantangan, dan tidak prospektif. Hinaan yang lebih kejam lagi adalah menjadi amil adalah mental kere, yang pekerjaannya meminta sumbangan dana menengadahkan tangan dari rumah-kerumah, instansi yang satu ke instansi yang lain sambil membawa seberkas proposal.
Sekali lagi, memang amil bukan pegawai negeri. Tetapi bagaimana kalau amil oleh Negara diangkat menjadi pegawai negeri? Tentu tidak sama anggapan orang yang menjadi amil. Dan dipastikan akan banyak yang mendaftar sebagai amil. Seharusnyalah demikian. Karena kalau kita urut jejak sejarah keamilan maka pengelolaan zakat sendiri sesungguhnya menjadi urusan Negara bukan menjadi urusan perseorangan atau lembaga tertentu sebagaimana yang terjadi di negeri kita Indonesia ini. Dan begitulah idealnya. Namun sayang, sesungguhnya Negara Indonesia sudah berusaha untuk menjadikan amil zakat sebagai urusan Negara. Terbukti dengan adanya Badan Amil Zakat baik di tingkat Pusat /nasional maupun Daerah yang dibentuk oleh pemerintah sebagaimana amanat undang-undang no 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat. Bahkan beberapa tahun tarakhir Departemen Agama Republik Indonesia telah membuka formasi lowongan kerja untuk ditempatkan di Badan amil zakat baik ditingkat pusat maupun Daerah. Walaupun secara resmi dan legal jelas zakat dikelola oleh Badan Amil Zakat yang menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah yang notabene adalah Negara. Namun dalam ralitasnya Badan amil zakat yang ada di tingkat nasional maupun daerah kurang mendapat kepercayaan secara penuh dari masyarakat islam pada umumnya .
Padahal demikianlah seharusnya, pengelolaan zakat dikelola oleh Negara sebagaimana baitul maal yang dikelola di zaman Rasulullah SAW maupun para sahabat. Namun sekali lagi pengelolaan zakat oleh Negara yang di wakili oleh BAZ ternyata belum menampakkan hasil yang maksimal. Karena dirasa kurang bisa menyadarkan masyarakat tentang kewajiban berzakat. Bahkan ada segelintir pandangan orang yang miring terhadap BAZ terkait dengan pengelolaan zakat yang dijalankan oleh Badan Amil Zakat bentukan pemerintah ini. Yakni pandangan yang mengatakan, kalau Badan Amil Zakat dikelola oleh pegawai negeri maka tidak akan maju. Disisi lain zakat tidak menjanjikan keuntungan secara meteri. Karena zakat disatukan dengan urusan Haji maka ada pandangan lagi yang mengatakan mending ngurusi haji yang jelas dan banyak dananya dari pada zakat yang tidak mendatangkan hasil. Walaupun pandangan-pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar tetapi hendaklah menjadi muhasabah bagi Departemen Agama khususnya bidang Haji zakat dan wakaf yang berwenang mengurusinya. Sesungguhnya segelintir pandangan tadi tidak sepenuhnya mengetahui tentang pengelolaan zakat di Badan Amil Zakat. Buktinya hingga saat ini masih ada Badan Amil Zakat yang sangat dipercaya masyarakat dan mampu mengelola zakat dengan baik. Misalnya BAZNAS, BAZDA Banten dan BAZDA Padang yang mampu menghimpun dana cukup besar. Hal ini terjadi bukanlah karena kebetulan tetapi yang jelas BAZDA tersebut berusaha semaksimal mungkin menjalankan institusi tersebut secara baik, benar, transparan dan professional.
Ternyata permasalahannya bukan hanya pengelolaan yang diserahkan kepada pemerintah /Negara atau tidak, tetapi lebih menekankan kepada bagaimana system dan cara pengelolaannya, serta siapa yang mengelolanya ? Kadang siatem dan manajemen pengelolaan sangat baik karena mengacu pada lembaga yang cukup bonafit. Bahkan copy paste atau cloning terhadap pengeloaan zakat yang sudah mapan dan baik dan teruji tetapi belum juga membawa hasil yang signifikan. Teori manajemen mengatakan kalau system dibuat sebaik mungkin siapapun yang menjalankan pasti akan berjalan dengan baik. Tetapi hal ini sepertinya tidak berlaku bagi kebanyakan kepengurusan BAZDA di Indonesia. Mengapa? Adakah yang salah? Disana tidak ada yang salah. Penulis selaku salah satu pengurus BAZDA propinsi sangat merasakan sekali. Para pengurus BAZDA bukanlah orang sembarangan. Pengurus BAZDA adalah orang pilihan disetiap propinsi atau Kabupaten. Dari pejabat tertinggi dipropinsi tersebut seperti gubernur, Sekda,para pejabat dilingkungan Kanwil Depag, pejabat public, dosen hingga orang yang tidak mempunyai jabatan struktural pemerintahan seperti penulis ini. Tidak ada artinya seorang gubernur, para pejabat public, dan lain-lain serta orang-orang pilihan tadi apabila mereka hanya mampu membuat kebijakan saja tanpa ada yang mau melaksanakan kebijakan tersebut. Banyak kebijakan telah dibuat. Tentang strategi penarikan dana zakat, infak dan shadaqah, model pengelolaannya, dan mekanisme penyaluran dananya. Kebijakan tersebut hanya tinggal wacana saja apabila tidak ada orang yang mau melaksanakannya. Tidak ada artinya itu semua kalau tidak dilaksanakan.
Hal itu menambah panjangnya rentetan permasalahan pengelolaan zakat di negeri ini. Sehingga memberikan kesan benar terhadap pengelolaan zakat itu bukan yang pertama dan diutamakan. Pengelolaan zakat itu dijadikan kerja sampingan sebagai sarana peningkatan jiwa sosial kepada kaum dhuafa. Pengelola zakat adalah kerja sosial yang memalukan sebagai peminta-minta. Justifikasi mereka adalah hadits yang menyatakan tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah. Demikian anggapan sebagian orang tentang amil. sehingga wajar apabila sebagian orang melecehkan pekerjaan seorang amil. Ada pengalaman menarik ketika saya/penulis mengalami hal serupa ketika melamar seorang gadis untuk teman seprofesi beberapa tahun yang lalu. Dalam silaturahmi tersebut penulis ditanya tentang pekerjaan. Saya menyatakan dengan bangga bahwa pekerjaan saya adalah amil. Mendengar kata amil mereka kebingungan. Seakan belum pernah mendengar, padahal beliau adalah seporang muslim. Setelah merenung sebentar beliau baru sadar bahwa amil adalah bagian dari zakat. Yang diketahui selama ini, amil hanyalah berurusan dengan zakat fitrah yang di tunaikan setiap menjelang lebaran saja dengan dua setengah kilogram beras. Dengan pengetahuan yang terbatas itu beliau berkomentar dan menegaskan kembali pertanyaannya,
“ Maksud saya pekerjaan pokoknya adik itu apa ?”
“PNS atau swasta gitu lho maksudnya?” tanya bapak itu kepada saya menegaskan.
“Ya pak , saya bekerja sebagai amil di sebuah lembaga zakat di Yogyakarta.!” jawab saya menegaskan
“ Ditanya pekerjaan kok, jawabannya amil”.
“ Amil itu bukan pekerjaan mas !”. gerutu bapak itu.
” Setahu saya, Amil Zakat itu kan hanya kalau bulan ramadhan saja!.”
” Kalau bulan-bulan kayak gini dari mana gajinya?”
” Mana ada orang berzakat selain bulan ramadhan ?”
” Menurut saya, susah mas !.” Kata bapak itu menegaskan.
Karena menyangkut reputasi saya dan teman sejawat maka saya perlu memberikan kuliah singkat tentang amil kepada bapak calon mertua teman sejawat saya itu.
Bahwa gambaran tentang amil bukanlah seperti yang bapak bayangkan. Kita adalah amil yang bekerja secara professional. setiap hari bekerja menyadarkan orang untuk menyeluarkan zakat, infak dan shadaqah. Kita memberikan peluang beramal bagi setiap orang yang mau beramal. Kita membuka peluang sebesar-besarnya kepada orang yang mau memberikan bantuan kepada saudaranya yang keku-rangan. Kita menyediakan data lengkap tentang kondisi yang akan kita bantu dan mereka yang memilih sendiri keinginannya kepada siapa mereka berdonatur. Kita tidak menjual kemiskinan, tetapi kita berbagi memberdayakan masyarakat melalui program-program kita. Mereka punya dana kita punya program. Mereka yang dengan kesibukan luar biasa tidak bisa membuat acara bertemu dengan para fakir miskin kita fasilitasi dengan mempertemukan dengan mustahik. Amil sebagai sarana yang menjembatani antara aghniya’ dan mustad’afin. Amil adalah mujahid yang berjuang dengan penuh pengorbanan untuk kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Amil adalah pejuang dalam mengentaskan kamiskinan. Karena pentingnya amil inilah maka Allah dalam al Quran surat At Taubah; 60 memberi penghormatan kepada para amilin untuk mengambil sebagian dana zakat yang dikumpulkannya sebagai hak atasnya.
Demikian saya menjelaskan panjang lebar tentang amil ini. Sehingga bapak calon mertua teman ini, yang tadinya tidak ada kepedulian, sekarang berubah menjadi semangat untuk memperhatikan penjelasan saya lebih lajut. Justru hal ini menjadi pertanyaan bagi saya. Mengapa ?. Ternyata memang sebagian besar masyarakat kita belum banyak mengenal kerja-kerja amil secara professional. Tahunya amil itu bekerja sebagai sambilan dan hanya dilakukan kalau ada waktu bagi para takmir dan pengurus masjid. Namun sesungguhnya tidaklah demikian. Tetapi amil adalah kerja profesi sebagaimana kerja seorang dokter, kerja seorang konsultan, kerja seorang arsitek dan lain sebagainya. Mungkin masyarakat kurang menghargai amil dikarenakan amil merupakan bagian dari kerja-kerja sosial, sehingga tidak memasukkannya ke dalam profesi sebagaimana kerja professional pada umumnya. Hal inilah yang nantinya menjadi penekanan bagi penjelasan saya selanjutnya tentang amil ini nanti.
Memang, kondisi dari tahun ke tahun pengelolaan zakat di Indonesia telah mengalami peningkatan yang sangat pesat. Peningkatan ini dapat dilihat dari perkembangan laporan dari tahun-ke tahun yang semakin meningkat. Hal ini terjadi bukan karena kebetulan saja masyarakat tiba-tiba sadar kemudian memberikan dana zakatnya ke lembaga dan badan amil zakat yang telah ada. Tetapi ini terjadi karena hasil dari upaya kera keras para amil yang berkerja di lembaga dan badan amil zakat tersebut. Setalah sekian tahun lamanya para amil bekerja secara baik dan professional mereka baru bisa menikmati hasilnya.
Namun walaupun demikian, ternyata masih ada sebagian lembaga dan badan amil zakat yang belum bertindak dan berlaku secara professional. Bekerja tanpa planning yang jelas. Tanpa ada membuat perencanaan strategi untuk memperoleh dana zakat dari masyarakat. Lha kalau mereka seperti ini , kemudian tidak memperoleh hasil yang maksimal maka jangan menyalahkan para amilin.
Pada dasarnya manusia membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain. Ia adalah makhluk social. Sehingga tidak mungkin ia bisa memenuhi kebutuhan hidup tanpa memerlukan bantuna orang lain. Hal yang mudah untuk meyakinkan ini adalah kita membutuhkan baju yang kita pakai untuk memperindah bentuk tubuh, menutupi aurat, menjaga pergaulan dan lain-lain. Tidak mungkin kita dari menanam kapas sendiri, merawat pohon kapas, memanen kapas kemudian mempersiapkan alat pintal dengan membuat sendiri dan memintalnya menjadi benang, belum lagi mempersiapkan mesin tenun dan menenun sendiri. itupun belum menjadi baju yang bisa kita pakai seperti saat ini, masih perlu dijahit yang membutuhkan mesin jahit pula. Alangkah rumitnya hdidup ini apabila semuanya dilakukan dengan sindiri. Itu baru satu kebutuhan, padahal kebutuhan hidup kita sangat banyak sekali. bisakah kit istirahat kalau semuanya kita kerjakan sendiri.? waktu yang diberikan Allah dua puluh empat jam tidak cukup untuk kita pergunakan membuat satu produk kebutuhan hidup.
Oleh karena itu, adanya saling membantu dan membutuhkan adalah fitrah Allah, yang pasti akan dilakukan mansusia sejak nabi Adam AS hingga kiamat datang. Memang selama ini, perkerjaan amil diidentikkan dengan pekerjaan sambilan yang bersifat sosial saja. Namun sesungguhnya perkerjaan seorang amil bukanlah demikian. bahkan lebih dari itu. Perkerjaan seorang amil adalah sebuah perkerjaan mulia. Karena pekerjaan ini diperintahkan Allah SWT. Perintah dalam QS At Taubah; 103
          •        
103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Karena demikian mulianya pekerjaan seorang amil, maka ia bekerja bukan hanya delapan jam perhari sebagaimana pekerjaan lainnya, namun lebih dari itu. Pekerjaan amil bisa lebih dari 24 jam bahkan aktifitas seorang amil yang profesional bisa diibaratkan lebih benyak dari pada waktu yang tersedia. Sehingga sangat wajar apabila Allah SWT sendiri yang memuliakan tugas seorang amil. Tidak ada kemuliaan yang lain di dunia ini selain kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Kemuliaan yang diberikan manusia ada batasnya, tetapi kemuliaan yang diberikan Allah tiada batas.
Namun sangat di sayangkan, karena kebanyakan manusia lebih suka dimuliakan manusia dari pada dimuliakan Allah. Manusia lebih memilih apa yang sudah ada di hadapannya walaupun itu hanya mimpi. Karena menurutnya mimpi lebih indah dari kenyataannya. Orang akan merasa gela dan getun apabila dalam mimpinya yang indah itu terbangunkan oleh seseorang yang memberikan kesadaran daralam tidurnya. Bisa jadi ia akan marah-marah kerana mimpi yang indah itu terputuskan oleh kesadaran yang muncul secara tiba-tiba.
Sehingga kebanyakan orang dalam memilih profesinya pun memilih yang instan/ cepat memperoleh hasil dan kalau perlu tanpa mengeluarkan energi yang besar dalam memperoleh hasilnya.
Perlu disadari bahwa profesi amil tidaklah demikian, profesi amil sebagaimana profesi-profesi yang lain, memiliki liku-liku kehidupan susah dan senang.

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Zakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s