THAHARAH

A.PENGERTIAN THAHARAH
Thaharah menurut bahasa berarti bersih. Menurut istilah fuqahaa’ (ahli fikih), thaharah berarti membersihkan hadas atau menghilangkan najis, seperti darah, air kencing, dan tinja. Mereka yang terkena hadas ini terlarang untuk melakukan shalat, dan untuk mensucikannya mereka wajib melakukan wudhu, mandi, dan tayammum.
Thaharah dari hadas dan najis dilakukan dengan menggunakan air, sebagaimana firman Allah SWT:
..وَيُنَزِّلُ عَلَيكُمْ مِّنَ السَمَآءِمَآءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِ“…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu….” (QS. AlAnfaal : 11)
…وَأَنْزَلْنَامِنَ ألسَمَآءِ مَآءً طَهُورًا “….dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih….” (QS. AlFurqaan: 48).
Air yang boleh digunakan untuk bersuci atau thaharah terbagi menjadi 7 macam, yaitu: Air hujan; Air laut; Air sungai; Air sumur; Air mata air (sumber); Air es/ salju; Air embun.
Ditinjau dari penggunaannya untuk bersuci, para ulama membagi air menjadi 5 macam, yaitu:
Air Mutlak (maa’ul muthlaq): air yang menurut sifat asalnya, seperti air yang turun dari langit atau keluar dari bumi: air hujan, air laut, air sungai, air telaga, dan setiap air yang keluar dari bumi, salju atau air beku yang mencair. Begitu juga air yang masih tetap namanya, walaupun berubah karena sesuatu yang sulit dihindari, seperti tanah, debu, atau sebab yang lain seperti kejatuhan daun, kayu atau karena mengalir di tempat yang asin atau mengandung belerang, dan sebagainya. Menurut ittifaaq (kesepakatan) ulama, air mutlak ini suci lagi mensucikan dan tidak makruh untuk bersuci. Air mutlak ini bisa digunakan untuk menghilangkan hadas dan najis.
Air Musyammas (maa’ul musyammas): air yang terkena sinar matahari sampai panas. Air ini suci dan mensucikan, tetapi makruh dipergunakan untuk bersuci. Air ini suci, sebab tidak terkena najis. Dan makruh untuk bersuci berdasar hadits:
نَهَى عَاءِشَةَ رَضِى الله عَنْهَا المُشَمَّسِ, وَقَالَ: إِنَّهُ يُورِثُ البَرَصَ
“Nabi SAW melarang A’isyah menggunakan air musyammas; beliau bersabda: air itu bisa menimbulkan belang (supak)”
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Nabi bersabda:
مَنِ اغْتَسَلَ بِمَآءٍ مُشَمَّسٍ, فَاَصَابَهُ وَضَحٌ فَلاَ يَلُو مَنَّ اِلاَّ نَفْسَهُ
“Barang siapa yang mandi dengan air musyammas, kemudian menjadi belang, maka jangan menyalahkan (yang lain) kecuali pada dirinya sendiri”.
Air Musta’mal (maa’ul musta’mal): air yang telah dipakai untuk bersuci. Air ini suci tetapi tidak mensucikan, tidak boleh dipakai untuk bersuci. Tetapi kalau belum berubah rasa dan baunya, masih tetap suci. Berdasar hadits,
خَلَقَ الله المَآءَ طَهُورًالاَيُنَجِّسُهُ شَىءً اِلاَّمَاغَيَّرَطَعْمَهُ اَورِيحَ
Nabi bersabda: “Allah menciptakan air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya, kecuali kalau sudah berubah rasa atau baunya”.
Air Mudlaf (maa’ul mudlaaf): air perahan dari suatu benda seperti limau, tebu, anggur, atau air yang mutlak pada asalnya, kemudian bercampur dengan benda-benda lain, misalnya air bunga. Air semacam ini suci, tetapi tidak dapat mensucikan najis dan kotoran.
Air yang najis/kena najis (maa’ul mutanajjis) : Air najis yaitu air sedikit (atau banyak) yang terkena najis, sehingga berubah rasa atau baunya. Kalau air itu sedikit, menjadi najis, sebab bercampur dengan najis, baik keadaan berubah atau tidak. Tetapi, kalau air itu banyak, menjadi najis, sebab bercampur dengan najis sampai berubah rasa atau baunya.
Yang dimaksud “air sedikit” ialah air yang kurang dari 2 kulah, sedangkan yang dimaksud dengan “air banyak” ialah kalau sudah sampai dua kulah. Ukuran dua kulah kurang lebih 500 pon Irak atau ± 200 liter.
B. NAJIS-NAJIS
Anjing. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, bejana yang terkena jilatan anjing mesti dibasuh sebanyak 7 kali, satu di antaranya dengan tanah.
Babi. Semua madzhab, berpendapat bahwa hukumnya sama seperti anjing.
Bangkai. Semua madzhab sepakat bahwa bangkai binatang darat selain manusia adalah najis jika pada binatang itu keluar darah yang mengalir. Bangkai hewan darat yang tidak masuk kategori najis adalah bangkai ikan dan belalang.
Darah. Keempat madzhab sepakat bahwa darah adalah najis, kecuali darah orang yang mati syahid, selama darah itu berada di atas jasadnya.
Mani. Imamiyah, Maliki dan Hanafi berpendapat bahwa mani anak Adam dan lainnya adalah najis. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa mani anak Adam itu suci adalah pendapat Imam Syafi’i.
Madzi dan Wadzi. Madzi adalah cairan yang keluar dari lubang depan ketika ada rangsangan seksual, sedangkan wadzi adalah air amis yang keluar setelah kencing. Keduanya najis menurut madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.
Muntah. Hukumnya najis menurut empat madzhab dan suci menurut Imamiyah.
C. MENYAMAK KULIT
Kulit bangkai bisa menjadi suci dengan cara disamak, kecuali kulit anjing, kulit babi, dan kulit binatang yang lahir dari keduanya (anjing dan babi). Ibnu Abbas meriwayatkan:
اِذَا دُبِغَ الاِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ (رواه المسلم
“Apabila kulit bangkai itu disamak sudah suci” (HR. Muslim).
Pengertian suci di sini, bahwa: kulit bangkai yang sudah disamak tersebut boleh dipergunakan untuk alat-alat, seperti alas shalat, kantong air, alas tidur, dan lain-lain. Meski begitu, tetap tidak boleh dimakan.
D. BERSIWAK
Siwak ialah membersihkan mulut dan gigi. Siwak sangat perlu pada setiap waktu, kecuali bagi orang yang sedang berpuasa sesudah matahari condong ke arah barat. Siwak sangat diutamakan, dalam 3 keadaan berikut:
1. Sewaktu bangun tidur
2. Ketika akan shalat (berwudlu).
3. Ketika mulut bau, baik karena makanan, seperti bau bawang, pete, jengkol, atau karena diam yang lama, dan lain-lain.
Islam menghargai kebersihan mulut. Karena bagaimanapun juga mulut adalah tempat masuknya makanan dan minuman yang memberikan tenaga dan pertumbuhan badan kita. Sehingga kemungkinan besar sumber-sumber penyakit juga akan mudah datang dari makanan dan minuman yang masuk ke mulut kita. Sesungguhnya inilah pentingnya kebersihan mulut atau bersiwak.
E. ISTINJA’
Istinja’ adalah membersihkan kubul dan dubur sesudah buang air besar atau kecil.
Nabi bersabda:
اذَاذَهَبَ اَحَدُكُم اِلَى الغَاءِطِ فَلْيَذْهَبْ مَعَهُ ثَلاَثَةُ أَحْجَارِيَسْتَطِيْبُ بِهِنِّ فَإِنَهَا تُجْزِى عَنْهُ
“Apabila di antara kamu pergi untuk buang air (besar), maka pergilah dengan membawa tiga batu untuk bersuci, sesungguhnya batu-batu itu mencukupinya”. (HR. Abu Daud, Ahmad, Daruquthni dan Ibnu Majah).
Istinja’(membersihkan kubul dan dubur sesudah buang air) lebih baik dilakukan dengan batu, kemudian diteruskan dengan air apabila berada ditempat yang kering/tandus.
F. TAYAMMUM
Tayammum menurut bahasa artinya bermaksud. Adapun menurut istilah fikih artinya menyampaikan (meratakan) debu ke muka dan kedua tangan dengan syarat tertentu. Tayammum dapat dijadikan sebagai pengganti wudlu (membersihkan hadas kecil) dan mandi (membersihkan hadas kecil dan besar), apabila seseorang itu tidak mendapatkan air yang cukup untuk digunakan berwudlu atau mandi.
F.1. Syarat-Syarat Tayammum
Tayammum dibolehkan (sebagai pengganti wudlu atau mandi) dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Adanya halangan, seperti tidak mendapatkan air, sakit, dan lain-lain
2. Sudah masuk waktu shalat tidak mendapatkan air
3. Debu yang dipakai harus suci
F.2. Rukun-Rukun Tayammum
Hal-hal yang harus dilakukan dalam melaksanakan tayammum adalah:
1. Niat
Berniat untuk melakukan tayamum dalam hati atau Niat tayamum biasa dilafadzkan dengan:
نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِرَفْعِل الحَدَثِ الاَسْغَرِ فَرْضَ للهِ تَعَلَى
Nawaytu tayammuma liraf’il hadatsil Ashghari fardla lillaahi Ta’alaa.
2. Mengusap muka. Muka diusap keseluruh bagian muka satu kali.
3. Mengusap kedua tangan sampai siku.
4. Tertib
F. 3. Sunah Tayamum
Hal-hal yang merupakan kesunahan dalam bertayamum adalah :
1. Membaca basmallah
2. Mendahulukan anggota yang kanan dari yang kiri
3. Berurutan terus menerus (tidak diselingi apapun)
F. 4. Hal-Hal yang Membatalkan Tayammum
1. Semua hal yang membatalkan wudlu
2. Melihat air dan mampu mengambilnya
3. Murtad

Catatan: Sebagian ulama berpendapat bahwa tayammum hanya bisa digunakan untuk satu pelaksanaan shalat wajib, sedang untuk shalat sunat boleh dilakukan beberapa kali.
G. WUDLU
Wudlu merupakan syarat syahnya bagi seseorang yang akan menjalankan sholat. Yaitu mensucikan diri dari kotoran jasmani maupun Rohani, hadats besar maupun kecil. Karena dalam sholat, seseorang berhubungan dengan Sang Kholiq yang maha Tinggi dan maha Suci maka seseorang yang akan menghadapnyapun haruslah dalam keadaan suci baik lahir maupun bathin.
G.1. Syarat-syarat berwudlu
Syarat bagi orang yang yang akan melakukan wudlu adalah:
1. Islam
2. Tamyiz (bisa membedakan yang baik dan tidak baik, sudah berakal)
3. Airnya suci
4. Tidak ada halangan batin (seperti terganggu akalnya)
5. Tidak ada halangan dari agama (seperti sedang haidl, nifas, dan lain-lain)
G.2. Rukun wudlu
Hal-hal yang harus dilakukan dalam berwudlu adalah:
• Niat, yaitu tujuan untuk berbuat (melakukan) dengan motivasi (dorongan) untuk mengikuti perintah-perintah Allah.
Nabi bersabda:
إِنَّمَالأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ……
“Semua pekerjaan itu tergantung pada niatnya”(HR. Bukhari Muslim)
Niat ini dilakukan ketika mencuci muka. Lafal niat biasanya:
نَوَيْتُ الوُضُوءَ لِرَفْعِ الحَدَثِ الاَصْغَرِ فَرْضَالِلَّهِ تَعَلَى
Nawaytul wudluu’a li raf’il hadatsil ashghari fardla lillaahi ta’alaa.
• Membasuh muka. Allah berfirman:
فَاغْصِلُواوُجُوهَكُم
“Maka basuhlah mukamu” (QS. AlMaidah 5: 6).
Yang dimaksud dengan muka di sini ialah antara tempat tumbuhnya rambut di kepala sampai ke dagu, dan antara telinga kanan sampai telinga kiri.
• Membasuh dua tangan sampai siku. Allah berfirman:
وَاَيدِيَكُم اِلَى الْمَرَافِقِ
“Dan (basuhlah) kedua tanganmu sampai dengan siku” (QS. AlMaidah 5: 6).
Dalam wudlu, siku harus ikut serta dibasuh.
• Mengusap sebagian kepala. Allah berfirman:
وَامسَحُوا بِرُءُوسَكُم
“Dan sapulah kepalamu”(QS. AlMaidah 5: 6).
Yang dibasuh adalah sebagian saja dari kepala, bukan seluruhnya. Hal ini berdasarkan hadits dari Mughirah:
اَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأُ.فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ,وَعَلَى العِمَامَهِ وَالحُفََّيْنِ
“Bahwa, Rasulullah SAW berwudlu, membasuh ubun-ubunnya, di atas sorbannya, dan sepatunya” (HR. Muslim)
• Membasuh kaki sampai mata kaki. Allah berfirman:
وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الكَعْبَيْنِ
“Dan (basuh) kakimu sampai dengan mata kaki” (QS. AlMaidah 5: 6).
• Tertib, artinya urut: mendahulukan yang awal dan mengemudiankan yang akhir.
G. 3. Sunah-Sunah Wudlu
Sunah-sunah dalam berwudlu ada 10, yaitu:
1. Membaca basmallah ketika akan memulai wudlu.
2. Membasuh kedua telapak tangan sebelum memasuk-kannya di bejana. Sebelum wudlu, tangan dibasuh lebih dahulu, sebab kemungkinan ada najis atau kotoran.
3. Berkumur
4. Menghirup air ke hidung, kemudian mengeluarkannya kembali
5. Meratakan dalam mengusap kepala. Yaitu, dengan cara mengusap ujung kepala sampai akhir kemudian kembali lagi di tempat memulainya.
6. Mengusap kedua telinga
7. Menyela-nyelai jenggot yang tebal
8. Membasuh (menyelai-nyelai) sela jari tangan dan kaki
9. Mendahulukan anggota kanan dari yang kiri
10. Bersuci (membasuh) hingga 3 kali.
G. 4. Hal-hal yang Membatalkan Wudlu
1. Tidur dalam keadaan berbaring
2. Keluar angin (kentut)
3. Buang air kecil (kencing)
4. Buang air besar (berak)
5. Mabuk dan pingsan, gila atau ayan
6. Menyentuh kemaluan dengan telapak tangan
7. Bersentuhan antara kulit laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim yang menimbulkan dorongan syahwat.

H. MANDI
Sebab-sebab yang mewajibkan mandi janabah adalah:
1. Bersetubuh (jimaa’)
2. Keluar mani (sperma)
3. Mati.
4. Tiga hal lain yang hanya berlaku khusus untuk perempuan, yaitu:
• Haydl (menstruasi)
• Nifaas )berhentinya keluar darah sesudah bersalin(
• Wilaadah (habis bersalin)
H. 1. Rukun mandi
Hal-hal yang harus dilakukan dalam mandi janaabah adalah:
• Niat mandi (janaabah) dan menghilangkan najis-najis lain yang ada di badannya. Lafal niat mandi adalah:
نَوَيتُ غُسْلَ لِرَفعِ الحَدَثِ الاَكْبَرِ فَرضَ للهِ تَعَلَى
Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari fardla lillaahi ta’alaa.
• Meratakan air ke seluruh tubuh (termasuk rambut)
H. 2. Sunah-sunah mandi
Adapun hal-hal yang disunahkan dalam mandi janaabah adalah:
• Membaca basmallah
• Membasuh kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana
• Berwudlu sebelum mandi
• Menggosokkan tangan ke seluruh anggota badan. Hal ini agar membersihkan seluruh badan
• Mendahulukan anggota yang kanan dari yang kiri
H. 3. Mandi Sunah
Yang dimaksud mandi sunah adalah mandi yang disu-nahkan untuk hal-hal atau saat-saat tertentu seperti:
1. Untuk pergi shalat Jum’at
2. Untuk shalat hari raya (idul fithri dan idul qurban)
3. Untuk shalat gerhana (matahari maupun bulan\ kusuuf dan khusuuf)
4. Untuk shalat istisqaa’
5. Sesudah mamandikan mayat
6. Karena Masuk Islam
7. Karena sembuh dari gila
8. Akan ihram
9. Akan masuk Mekah
10. Saat wukuf di Arafah
11. Saat thowaaf di Ka’bah

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s