RISALAH ZAKAT

KATA PENGANTAR

Al Qur’an yang mulia telah memberikan petunjuk bahwa Ummat Islam adalah ummat yang mulia, ummat yang dipilih oleh Allah untuk mengemban risalah, agar mereka menjadi saksi atas segala ummat. Mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, tentram dan sejahtera adalah tugas ummat Islam dimanapun mereka berada. Karena itu, ummat Islam sudah seharusnya menjadi teladan dalam kehidupan dan rahmat bagi sekalian alam.
Kondisi ummat Islam saat ini telah terperosok jauh dari kondisi ideal yang diidamkan oleh seluruh umat manusia. Hal ini lebih disebabkan karena umat Islam sekarang belum mampu mengubah apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Firman Allah :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri sendiri”. (QS. Ar-Ra’du : 11).
Potensi-potensi dasar yang dianugerahkan Allah kepada ummat Islam begitu banyak, namun belum banyak dikembangkan secara optimal. Padahal ummat Islam memiliki banyak kaum intelek dan ulama, disamping potensi sumber daya manusia dan ekonomi yang melimpah. Jika seluruh potensi itu dikembangkan secara maksimal, dirangkai dengan potensi Aqidah Islamiyah (Tauhid) yang benar, tentu akan diperoleh hasil yang optimal.
Disisi lain pada saat yang sama, jika kemandirian, kesadaran beragama dan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin juga makin meningkat maka pintu-pintu kemungkaran akibat kesulitan ekonomi akan makin dapat dipersempit.
Salah satu sisi ajaran Islam yang belum ditangani secara serius adalah penanggulangan kemiskinan dengan cara mengoptimalkan pengumpulan dan pendayagunaan Zakat, Infaq dan Shadaqah dalam arti seluas-luasnya. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan generasi penerusnya di zaman keemasan Islam. Padahal ummat Islam (Indonesia), sebenarnya memiliki potensi dan dana yang besar yang belum tergali dari sumbernya yakni masyarakat muslim yang kaya (kaum aghniya’). Mengapa potensi yang begitu besar ini tidak bisa teroptimalkan ? Salah satu jawabnya adalah karena potensi yang besar itu tidak diiringi dengan pengetahuan masyarakat aghniya yang memadai tentang arti penting wajibnya mengeluarkan zakat bagi mereka.
Terdorong dari pemikiran inilah, kami mencoba untuk menuliskan Risalah Zakat yang ringkas dan praktis agar dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca. Meskipun kami sadar bahwa Risalah ini masih jauh dari sempurna. Namun demikian kami berharap Risalah Zakat ini dapat bermanfaat. Koreksi, kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan.
Semoga Allah SWT mengampuni kekurangan dan kesalahan yang ada dalam Risalah ini, serta mencatatnya sebagai tabungan amal shaleh untuk dipetik hasilnya di Akhirat kelak. Amien…

BAB I
PENGERTIAN ZAKAT

Makna Zakat
Zakat menurut lughoh (bahasa) mengandung pengertian mensucikan atau membersihkan, tumbuh dan berkembang serta berkah. Artinya bahwa orang yang mengeluarkan zakat itu adalah orang yang hatinya bersih dan suci dari sifat kikir dan tamak. Kesucian dan kebersihan diri didapatkan setelah melaksanakan kewajiban membayar zakat. Harta yang tidak dizakati pada hakekatnya adalah harta yang kotor dan tidak bersih, karena mengandung rasa tidak bersyukur (berterima kasih) kepada Allah. Hati pemiliknya begitu sempit, mementingkan diri sendiri dan memuja harta benda, sehingga ia merasa berat untuk memberikan apa yang seharusnya diberikan sebagai tanda rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kekayaan melebihi kebutuhan. Jadi zakat itu membersihkan atau mensucikan diri seseorang dan hartanya, pahala bertambah dan hartanya menjadi berkah. Orang yang hatinya kikir, tamak dan loba tidak mungkin mau mengeluarkan uang atau hartanya untuk dibagikan kepada masyarakat yang sangat membutuhkan. Dengan kata lain zakat mendidik hati untuk bersikap dermawan dan tidak kikir untuk kemaslahatan ummat manusia. Zakat mendidik hati untuk memiliki rasa kasih dan sayang kepada setiap makhluk. Ada dua manfaat yang besar dalam masalah zakat ini.
Pertama, manfaat bagi muzzaki. Manfaat ibadah zakat bagi muzaki adalah membersihkan jiwa mereka dari sifat kikir, bakhil, loba dan tamak. Menanamkan rasa cinta kasih terhadap golongan dhuafa’. Membersihkan harta yang kotor karena dalam harta mereka ada hak orang lain yang harus dikeluarkan. Menumbuhkan kekayaan pemilik apabila memberikan zakat dilandasi dengan rasa ikhlash dan terhindar dari siksa akhirat.
Kedua, manfaat bagi kaum dhuafa’. Manfaat zakat bagi mustahik adalah menghilangkan rasa iri dengki dan benci kepada orang kaya yang tidak memperhatikan penderitaan orang lain. Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT dan menanamkan simpati kepada orang, meringankan beban hidup mereka. Memperoleh modal kerja untuk memperoleh kehidupan yang layak.
Karena itulah, Allah swt memerintahkan kepada amilin untuk mengambil zakat dari setiap kaum muslimin yang memiliki kelebihan harta benda.
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambilah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…..[QS. At-Taubah: 103]
Menurut hukum Islam (istilah Syara’) Zakat adalah nama bagi suatu pengambilan tertentu, dari harta tertentu, menurut sifat-sifat tertentu dan untuk diberikan kepada golongan tertentu.
Pada masa Rasulullah saw dan khulafaurrasyidin, ummat Islam menaruh kepercayaan yang penuh kepada pemerintah sehingga mereka dengan suka rela membayarkan zakatnya kepada para petugas (amil) yang dibentuk pemerintah. Zakat dapat dilaksanakan dengan baik karena Beliau sendiri turun tangan untuk menangani pemungutan dan pendistribusian zakat. Disamping itu, Beliau juga mengutus para petugas (amil) untuk menarik zakat dari para wajib zakat, kemudian dicatat, dikumpulkan, dirawat dan selanjutnya didistribusikan kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. Hal ini diteruskan oleh Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khatab. Dalam satu kisah, Khalifah Umar bin Khatab bahkan memikul sendiri onggokan hasil pertanian dari baitul mal, tempat penyimpanan harta zakat, untuk diberikan kepada seorang ibu yang anaknya menangis kelaparan.
Pada masa Rasulullah saw umat Islam dengan senang hati melaksanakan kewajiban dalam membayar zakat. Akan tetapi sesudah Beliau wafat muncul beberapa anggota masyarakat yang enggan membayarkannya. Menghadapi kenyataan tersebut, Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq sebagai kepala pemerintahan membuat suatu policy (kebijakan) untuk memerangi para wajib zakat yang tidak melaksanakan kewajibannya, meskipun mereka melaksanakan shalat, puasa, bahkan haji. Dengan policy tersebut, maka beliau terpaksa dengan tegas dan keras harus menindak para wajib zakat yang enggan membayarkannya.
Sejak pertengahan masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan seiring dengan meluasnya wilayah Islam dan semakin besarnya pendapatan negara yang berasal dari jizyah (pajak dari non-muslim) dan kharaj (retribusi atas tanah negara yang dikelola penduduk), maka energi pemerintah lebih dipusatkan pada hal-hal tersebut. Karena itu pelaksanaan zakat kemudian diserahkan kepada kesadaran masing-masing individu untuk mendistribusikannya. Sejak saat itu, zakat menjadi kewajiban pribadi dan pelaksanaannya pun menjadi urusan pribadi. Amil zakat relatif tidak berfungsi. Karena sifat dasar manusia adalah pelit dan cinta yang berlebih-lebihan terhadap harta benda, maka lambat laun banyak para wajib zakat yang tidak membayarkan zakatnya. Akibatnya, zakat hanya merupakan santunan karitatif yang sangat bergantung pada kesadaran dan kesalehan para wajib zakat.
Zakat merupakan pusat atau poros keuangan negara pada masa Nabi Muhammad saw dan para sahabat (khulafaurrasyidin). Pada masa itu Zakat meliputi berbagai bidang yang antara lain: bidang moral, sosial dan ekonomi. Dalam bidang moral Zakat mengikis habis ketamakan dan keserakahan si kaya. Dalam bidang sosial Zakat dapat berfungsi sebagai alat khusus yang diberikan Islam untuk menghapuskan kemiskinan dalam masyarakat dengan menyadarkan si kaya akan tanggungjawab sosial yang mereka miliki. Dalam bidang ekonomi Zakat dapat mencegah penumpukan kekayaan yang mengerikan dalam tangan segelintir orang dan memungkinkan kekayaan disebarkan sebelum sempat menjadi besar dan sangat berbahaya ditangan pemiliknya. Ia merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan negara.
Kata Zakat tidak memiliki konotasi jahat seperti semua pajak sekuler lainnya dewasa ini. Dalam Alqur’an setidaknya ada 20 ayat berbeda yang mempertautkan Zakat dengan sholat. Demikianlah Alqur’an dengan tegas menyatakan bahwa barang siapa yang ingin memasuki persaudaraan Islam, harus menegakkan sholat dan membayar Zakat secara teratur. Kedua tindakan tersebut secara fundamental sama pentingnya. Zakat kehilangan maknanya bila tidak timbul dari hati yang taqwa dan perasaan bersih tanpa mementingkan diri sendiri. Sholat tidak akan ada artinya bila tidak menyebabkan perasaan dan sikap yang tulus untuk mewujudkan kesejahteraan yang murni. Adanya pengaruh timbal balik yang dinamis antara dua lembaga spiritual dan duniawi dalam masyarakat Islam ini, adalah perlambang adanya persatuan batin agama dan ilmu ekonomi. Karena semangat moral dibelakang lembaga Zakat diperoleh dari sumber spiritual abadi sholat, maka akibat sosial dan ekonomisnya bermanfaat, yang mengakibatkan pola sosial yang timbul bebas dari kekejaman kapitalis yang mengerikan dan standardisasi masyarakat komunis yang memaksa.
Disisi lain Zakat di istilahkan dengan shadaqah atau infaq. Sebagian ulama fiqh mengatakan bahwa shadaqah wajib dinamakan Zakat, sedangkan shadaqah sunnah dinamakan infaq. Sebagian yang lain mengatakan infaq wajib dinamakan Zakat, sedangkan infaq sunnah dinamakan shadaqah.
Penyebutan Zakat dan Infaq dalam Al Qur’an dan Hadits

Hukum Zakat
Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok tegaknya Syariat Islam. Tegaknya syariat Islam di muka bumi ini dibuktikan dengan salah satunya adalah dilaksanakannya perintah zakat oleh umat Islam. Zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah wajib sebagaiman shalat, haji dan puasa yang telah diatur tata caranya secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.
Kata Zakat dan sholat diungkap alquran sebanyak 82 kali dalam suatu rangkaian kata tidak seperti kewajiban-kewajiban yang lain semisal puasa dan haji. Hal ini berarti, bahwa kedudukan zakat mempunyai makna penting, yaitu hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia tidak boleh diabaikan, sama-sama berjalan seiring, supaya terjadi keharmonisan dalam kehidupabn manusia.
Zakat merupakan salah satu kewajiban dari banyak kewajiban yang harus dilaksanakan bagi ummat Islam. Kewajiban ini sama pentingnya dengan kewajiban yang diperintahkan Allah swt untuk menjalankan rukun-rukun Islam yang lain. Seperti membaca syahadat, mendirikan sholat, Puasa dan haji. Bahkan kholifah pertama Abu Bakar Ash Shidiq pernah berkata dalam suatu khotbah; Akan aku perangi orang yang mebedakan anrtara sholat dan zakat.” Ini artinya bahwa zakat yang diperintahkan Allah dalam al qur’an itu merupakan ibadah yang sangat penting sebagaimana ibadah-ibadah yang lain.
Untuk mengingatkan kepada umat Islam Nabi saw bersabda:

“Diriwayatkan dari ibnu mas’ud r.a, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: kita diperintah mendirikan sholat dan menunaikan zakat dan siapa saja yang tidak mau menunaikan zakat maka tidak ada sholat baginya. ( Alhadits)
Sabda Rasulullah saw,

Orang yang tidak mau membayar zakat masuk neraka ( HR Thabrani)
Jadi sholat dan zakat harus sama-sama dijalankan supaya ada keharmonisan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Harta yang kita cari dengan susah payah, siang dan malam, tidak akan membawa manfaat diakhirat apabila sebagiannya tidak mau kita sisihkan untuk zakat, infak dan sedekah. Malahan harta yang semacam itu akan menjadi bencana bagi kita. Kalau hal itu yang akan terjadi, buat apa kita bersusah payah mencarinya ?

Macam-macam Zakat
Zakat terbagi dalam dua macam. Yakni Zakat Nafs (jiwa) atau juga disebut zakat fitrah dan Zakat Maal (harta).
Yang dimaksud zakat Fitrah adalah Zakat yang diwajibkan, sebab orang telah berbuka dari puasa ramadhan. Zakat fitrah wajib bagi setiap orang yang memiliki kelebihan makanan pada hari dan malam Idul Fitri. Besarnya zakat yang dikeluarkan satu sha’ atau 2,5 Kg beras atau menurut madzab Hanafi boleh dengan uang yang nilainya setara dengannya.
Sedangkan zakat mal adalah zakat yang diwajibkan atas seseorang yang memiliki kelebihan harta sampai batas tertentu (nisab), selama waktu tertentu (haul), dan diberikan kepada orang-orang yang tertentu pula.

Syarat-syarat Wajib Zakat
Seseorang yang wajib mengeluarkan zakat diharuskan :
1. Seorang Muslim
2. Baligh
3. Berakal
4. Memiliki harta yang mencapai nishab

BAB II
ZAKAT MAL

A. PENGERTIAN MAL
Mal atau harta secara bahasa mengandung pengertian segala sesuatu yang dinginkan sekali oleh manusia untuk dimiliki, menyimpan dan memanfaatkan. (lisaanul arab; 11/636) Namun secara umum mal bisa diartikan segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai)dan dapat dimanfaatkan dengan menurut lazimnya. Jadi ada dua syarat sesuatu itu dapat dikatakan sebagai mal atua harta yakni, pertama,dapat dimiliki, disimpan, dihimpun dan dikuasai. Kedua, sesuatu itu dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya, misalnya mobil, ternak, rumah, emas, perak, dan lain sebagainya.

B. SYARAT KEKAYAAN YANG WAJIB DIZAKATI
Harta atau kekayaan yang dimiliki seseorang muslim menjadi wajib untuk dizakati apabila telah memenuhi syarat-syarat:
1. Harta tersebut dalam pemanfaatan dan penggunaannya berada dalam kontrol dan kekuasaan pemiliknya secara penuh dan didapatkan dengan cara yang dibenarkan oleh syariat Islam. Harta yang diperoleh dengan cara yang dilarang oleh syariat Islam tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Orang yang memilikinya tidak boleh menggunakan karena harta tersebut harta haram. Untuk membebaskan harta tersebut dari statusnya maka harus dikemblikan kepada yang empunya harta atau ahli warisnya. Kalau diperoleh dari hasil korupsi maka untuk membebaskan harta tersebut harus dikembalikan kepada lembaga/instansi atau perusahaan dimana ia bekerja.
2. Harta tersebut dapat berkembang atau bertambah. Karena setiap hata pada hakekatnya mempunyai potensi untuk berkembang, tergantung bagaimana cara mengelola harta tersebut.
3. Harta tersebut telah mencapai batas tertentu (mencapai nisab) sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Jadi harta yang kurang dari nisab belum berkewajiban mengeluarkan zakat. Tetapi untuk membersihkan harta tersebut dari hal-hal yang kotor dan kekotoran, maka bolehlah kita menginfakkan dijalan Allah sebagian rizki yang telah Allah berikan kepada kita sebagai tanda rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
4. Harta tesebut telah dimiliki selama setahun (mencapai haul). Syarat ini tidaklah mutlak, sebab ada harta-harta yang wajib untuk dizakati sebelum dimiliki selama setahun. Misalnya harta hasil pertanian, harta rikaz (harta karun temuan) dan lain-lain yang mengandung “ilat” yang sejenis tidak mensyarakan harus menunggu setahun.

C. HARTA YANG WAJIB DIZAKATI
Ada beberapa macam harta yang wajib dizakati yang diwajibkan secara global oleh Al Qur’an :
1. Emas dan perak (QS At Taubah:34)
2. Tanaman dan buah-buahan (QS Al An’am: 141)
3. Segala macam usaha yang baik dan halal (QS Al Baqarah; 267)
4. Apa yang dikeluarkan dari dalam perut bumi (hasil tambang)(QS Al Baqarah; 267)
5. Kekayaan yang dinyatakan secara umum. (QS At Taubah: 103)

D. PRINSIP-PRINSIP SUMBER ZAKAT
Badan Amil Zakat Infak dan Shadaqah (BAZIS) dalam buku Pedoman Pengelolaan Zakat menerangkan ada empat prinsip sumber zakat:
1. Zakat terdapat pada semua harta yang mengandung “ilat” kesuburan atau berkembang, baik berkembang dengan sendirinya atau dikembangkan dengan jalan diternakan atau diperdagangkan.
2. Zakat dikenakan pada semua jenis tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang bernilai ekonomis.
3. Zakat terdapat pada segala harta yang dikeluarkan dari perut bumi, baik yang berbentuk padat maupun yang berbentuk cair.
4. Gaji, honor dan uang jasa yang kita terima didalamnya ada harta zakat yang wajib kita tunaikan.

BAB III
NISAB DAN KADAR ZAKAT

A. ZAKAT TERNAK
Hewan ternak yang wajib dizakati menurut hadits riwayat Bukhori dari Anas bin Malik adalah Unta dan domba. Menurut hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i dan Ibnu Majjah dari Muadz bin Jabbal, sapi juga wajib dizakati. Sehingga Kerbau juga diikutkan hukumnya kepada Sapi.
Dalam wajibnya zakat ternak disyaratkan :
a. Sampai satu nisab
b. Berlangsung selama satu tahun
c. Hendaknya ternak itu merupakan hewan yang digembalakan.
Selain hewan ternak yang disyaratkan seperti tersebut diatas tidak wajib dizakati (misalnya sapi yang digunakan untuk menarik gerobak atau bajak disawah). Sedangkan hewan-hewan yang lain walaupun tidak disebutkan dalam hadits bila dimaksudkan untuk diperdagangkan maka wajib untuk dikeluarkan zakatnya misalnya burung, ayam, kelinci, kuda, keledai, dan lain-lain.
Untuk zakat ternak seperti Lebah, Ulat Sutra, Ayam petelur, Ikan, dan lain sebagainya zakatnya dihitung seperti zakat pertanian. Kalau sudah mencapai nisab (85 gr emas) maka wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 % s/d 10 %

1. Sapi, Kerbau dan Kuda
Nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi yaitu 30 ekor. Artinya jika seseorang telah memiliki sapi (kerbau/ kuda), maka ia telah terkena wajib zakat.
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh At Turmudzi dan Abu Dawud dari Muadz bin Jabbal r.a, maka dapat dibuat tabel sebagai berikut:
Jumlah Ternak (ekor) Zakat
30 – 39 1 ekor sapi jantan/betina tabi’
40 – 59 1 ekor sapi betina musinnah
60 – 69 2 ekor sapi tabi’
70 – 79 1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi’
80 – 89 2 ekor sapi musinnah
Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor tabi’. Dan jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor musinnah. (HR. At Turmuzdi: No. 565)
2. Kambing/domba
Nishab kambing/domba adalah 40 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 40 ekor kambing/domba maka ia telah terkena wajib zakat.
Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik, maka dapat dibuat tabel sebagai berikut :
Jumlah Ternak (ekor) Zakat
40 – 120 1 ekor kambing (2th) atau domba (1th)
121 – 200 2 ekor kambing/domba
201 – 300 3 ekor kambing/domba
Selanjutnya, setiap jumlah itu bertambah 100 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor.
3. Unta
Nishab unta adalah 5 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 5 ekor unta maka ia terkena kewajiban zakat.
Selanjutnya zakat itu bertambah, jika jumlah unta yang dimilikinya juga bertambah
Berdasarkan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Anas bin Malik, maka dapat dibuat tabel sebagai berikut :
Jumlah /ekor Zakat
5 – 9 1 ekor kambing atau domba
10 – 14 2 ekor kambing/domba
15 – 19 3 ekor kambing/domba
20 – 24 4 ekor kambing/domba
25 – 35 1 ekor unta bintu Makhad
36 – 45 1 ekor unta bintu Labun
45 – 60 1 ekor unta Hiqqah
61 – 75 1 ekor unta Jadz’ah
76 – 90 2 ekor unta bintu Labun
91 – 120 2 ekor unta Hiqqah
Selanjutnya, jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor bintu Labun, dan setiap jumlah itu bertambah 50 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor Hiqqah.
4. Ternak Unggas (ayam, bebek, itik, burung, dll) dan Perikanan
Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya sapi, dan kambing. Tapi dihitung berdasarkan skala usaha.
Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang berternak unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 %
Contoh :
Moh. Husain adalah seorang peternak ayam broiler. Ia memelihara 100 ekor ayam perminggu, pada akhir tahun (tutup buku) terdapat laporan keuangan sebagai berikut :
1. Ayam broiler 4800 ekor seharga
2. Uang Kas/ Bank
3. Stok pakaian & obat-obatan
4. Piutang (yang dapat ditagih) Rp 15.000.000
Rp 10.000.000
Rp 2.000.000
Rp 4.000.000
Total Rp 31.000.000
5. Utang yang jatuh tempoh Rp 5.000.000
Saldo Rp 26.000.000
Maka jumlah Zakat yang harus dikeluarkan adalah
= 2,5 % x Rp.26.000.000,- = Rp 650.000,-
Catatan :
 Kandang dan alat peternakan tidak diperhitung-kan sebagai harta yang wajib dizakati.
 Nishab besarnya 85 gram emas murni, jika @ Rp 90.000,00 maka 85 x Rp 90.000,00 = Rp 7.650.000,00

a. Ternak Burung
Ada dua macam tujuan dalam beternak burung. Pertama,diambil manfaatnya untuk dikonsumsi baik daging maupun telurnya. Kedua,diambil manfaatnya untuk didengarkan kemerduan suaranya. Ini termasuk masalah “ijtihadi” karena dizaman Rasulullah masalah seperti ini tidak dipermasalahkan dan tidak banyak mendapat perhatian. Kalau sudah mencapai setahun dan harta yang dihasilkan lebih dari 85 gr emas wajib dikeluarkan zakatnya 2,5 %
Contoh :
Pak Rahmad seorang pengusaha ternak burung puyuh, Ia memelihara 3.000 ekor burung tiap bulan. Setelah satu tahun usaha, terdapat laporan keuangan sebagai berikut:
1. Burung puyuh 12.000 ekor seharga Rp 6.000.000,00
2. Uang kas dan piutang yang dapat ditagih sebanyak Rp 5.000.000,00
3. Telur yang dihasilkan selama setahun seharga Rp 4.500.000,00
4. Stok makanan dan obat-obatan yang tersisa seharga Rp 500.000,00
Jumlah kekayaan Rp 16.000.000,00
5. Cicilan kredit rumah yang harus dibayar pertahun Rp 4.800.000,00
6. Cicilan kredit sepeda motor yang harus dibayar/ tahun Rp 3.000.000,00
Jumlah cicilan kredit pertahun Rp 7.800.000,00
Zakat yang harus dibayarkan 2,5% x Rp 8.200.000,00 = Rp 205.000,00

Demikian pula zakat burung piaraan yang dipiara untuk didengar kemerduan suaranya. Zakatnya 2,5% dengan nisab 85 gram emas. Dihitung zakat perdagangan.
Contoh:
Pak Cholidin adalah seorang yang suka berbagai macam burung piara. Selama setahun ia berhasil menjual 6 ekor burung perkutut dengan harga yang berfariasi. Jumlah total penjualan burung perkutut sebesar 8,2 juta. Selain itu ia juga berhasil menjual beberapa ekor burung yang lain seperti puter, murai, jalak dan lain-lain seharga 13 juta. Jumlah total penjualan selama setahun adalah 21,2 juta. Karena kekayaan hasil usaha pak Cholidin sudah memenuhi nisab maka zakat yang dikeluarkan pak Choliddin adalah 21,2 Juta x 2,5 % = Rp 530.000,00

b. Zakat Lebah
Dasar Hukum,

“Sesungguhnya Rasulullah mengambil zakat madu sebesar 10%” (HR Ibnu Majah dan Daru Qutni)

“Abu Sayarah al Mut’i berkata:Saya bertanya pada Rasulullah saw bahwa saya punya lebah. Beliau bersabda: Keluarkanlah 10%. Saya meminta kepada Rasulullah, agar gunung saya dilindungi, Rasulullahpun melindungi gunung tersebut untuk saya (HR Ahmad & Ibnu majah)

Besar Zakat madu 10 % berdasarkan hadits-hadits yang telah disebutkan diatas dan dikiaskan pada zakat tanaman dan buah-buahan. Sekiranya memerlukan biaya yang besar untuk mengambilnya seperti di gunung atau hutan, atau biaya peternakannya maka zakatnya 5%.

5. Zakat produk hewani
Sekarang ini banyak orang memelihara ayam untuk diambil telurnya, memelihara sapi untuk diambil susunya, memelihara ulat Sutra untuk diambil benang sutranya, dan lebah untuk diambil madunya. Zakatnya 5 s/d 10%.
Tetapi ada ulama fikih seperti madzab Zaidiyah berpendapat bahwa zakat susu dan benang sutra dikenakan zakatnya seperti barang perdagangan yaitu 2,5 %. Nilainya diperhitungkan setelah satu tahun. Menurut hemat penulis, termasuk telur ayam, sarang burung walet, telur burung puyuh dan lain-lain, lebih baik mengikuti madzab Zaidiyah dalam perhitungan zakat produk hewani, karena agak sukar menghitungnya setiap panen seperti zakat pertanian.Sehingga dimasukkan zakat perdagangan dan zakatnya 2,5%.

B. ZAKAT EMAS DAN PERAK

1. Zakat emas dan perak
Emas simpanan dikenakan zakat baik berupa mata uang atau batangan asal telah cukup satu tahun dan jumlahnya sudah sampai nisab.Nishab emas adalah 20 Dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 Dinar atau perak 200 Dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %.
Demikian juga segala macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam “emas dan perak”, seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya. Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak, artinya jika seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah terkena wajib zakat (2,5 %).
Contoh :
Pak Tholib memiliki simpanan harta sebagai berikut:Tabungan Rp 5 juta, Uang tunai (diluar kebutuhan pokok) Rp 2 juta,
Utang harus dibayar (jatuh tempo) Rp 1.5 juta, Perhiasan emas (berbagai bentuk) 100 gram, Perhiasan emas atau yang lain tidak wajib dizakati kecuali jika melebihi dari jumlah maksimal perhiasan yang layak dipakai.
Jika layaknya seseorang memakai perhiasan maksimal 40 gram maka yang wajib dizakati pak Tholib hanyalah perhiasan yang selebihnya dari 40 gram yaitu 60 gram.
Dengan demikian jumlah harta pak Tholib tersebut, sbb :
1. Tabungan
2. Uang Tunai
3. Perhiasan 60 gram @ Rp 90.000 Rp 5.000.000
Rp 2.000.000
Rp 5.400.000
Total Rp 12.400.000
4. Utang yang jatuh tempoh Rp 1.500.000
Saldo Rp 10.900.000
Maka besar zakat = 2,5% x Rp 10.900.000 =Rp 272.500,-
Catatan:
 Perhitungan harta yang wajib dizakati dilakukan setiap tahun pada bulan yang sama.

2. Zakat Perhiasan, bejana dan seni
Perhiasan emas dan perak, ada dua macam. Pertama, perhiasan untuk rumah tangga seperti bejana dan benda-benda seni. Kedua, perhiasan untuk dipakai.
Para ulama sepakat mengharamkan benda-benda seni tebuat dari emas dipamerkan di dalam rumah. Karena tidak menjadi manfaaat dan tidak berkembang sebagai modal usaha. Ini dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan sosial. Oleh karena itu perlu dibebani zakat kepada mereka, supaya orang tidak menggunakan emas dan perak sebagai hiasan rumah tangga. Tetapi kalau perhiasan emas itu dipakai oleh wanita sebatas kewajaran dan tidak dipamerkan maka tidak ada zakat atasnya.

3. Zakat pertambangan dan Kekayaan laut
Zakat yang dikeluarkan dari harta hasil tambang, Kekayaan laut, Pertanian Garam, Peternakan Ikan dan Harta Karun berkisar antara 2,5 % hingga 20 %. Ulama berbeda pendapat dalam masalah besarnya zakat. Kalau untuk memperolehnya dengan usaha keras dan biaya mahal menurut Imam Syafi’i 2,5 %.
Bagaimana dengan batu-batuan yang memiliki nilai ekonomis ? Padahal ada hadits yang menyatakan “tidak ada zakat atas batu”. Imam Ahmad dan sebagian ulama yang lain mewajibkan zakat atas barang tambang baik yang berupa benda padat maupun cair. Jelasnya semua barang yang keluar dari tanah yang bernilai ekonomis wajib dikenakan zakat.
Contoh:
Pak Alfath seorang pengusaha tambang batu permata. Dari hasil usaha ini tiap bulan ia bisa mengantongi uang yang cukup untuk keluarganya. Ini sudah cukup untuk menghidupi anak dan istrinya. Ia tiap bulan bisa menjual batu permata atau menyisihkan keuntungan Rp 800.000,00. Kewajiban zakat yang harus dibayar pak Alfath adalah selama setahun bekerja menambang batu permata 2,5 % x Rp 9.600.000,00 = Rp 240.000,00
Demikian pula dengan usaha yang lain yang mengambil kekayaan dari bumi untuk diperdagangkan seperti perusahaan batako yang mengambil bahan baku dari pasir tanah, pengusaha genting, pengusaha batu bata merah dan lain-lain, zakatnya dihitung setelah selama setahun atau setiap menerima yang besarnya 2,5 %.

5. Pertanian Garam dan Peternakan Ikan
Yang dimaksud dengan peternakan ikan disini adalah ikan tambak baik ikan air asin maupun air tawar (kolam ikan). Pertanian garam dan peternakan ikan itu zakatnya dapat disamakan dengan hasil tanaman, karena ditinjau dari penguasaan sarana dan proses penanaman serta pemeliharaannya.

C. ZAKAT PERNIAGAAN

1. Dasar Hukum

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah)sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik….(QS Al Baqarah: 267)

“Rasulullah SAW memerintahkan kami supaya mengeluarkan shadaqah dari segala yang kami jual” (HR Abu Dawud)

“Bayarlah zakat kekayaan kamu” (HR Turmudzi)

2. Zakat Perniagaan
Harta perniagaan, baik yang bergerak di bidang perdagangan, industri, agroindustri, ataupun jasa, dikelola secara individu maupun badan usaha (seperti PT, CV, Yayasan, Koperasi dll) nishabnya adalah 20 Dinar (setara dengan 85 gram emas murni).Artinya jika suatu badan usaha pada akhir tahun (tutup buku) memiliki kekayaan (modal kerja dan untung) lebih besar atau setara dengan 85 gram emas (jika pergram Rp 90.000,- = Rp 7.650.000,-), maka ia wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 %
Pada badan usaha yang berbentuk syirkah (kerjasama), maka jika semua anggota syirkah beragama Islam, zakat dikeluarkan lebih dulu sebelum dibagikan kepada pihak-pihak yang bersyirkah. Tetapi jika anggota syirkah terdapat orang yang non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari anggota syirkah yang muslim saja (bila jumlahnya telah melebihi nishab)
Cara menghitung zakat:
Kekayaan yang dimiliki badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga bentuk di bawah ini :Kekayaan dalam bentuk barang, Uang tunai, Piutang.
Contoh:
Pak H. Rameli adalah seorang pengusaha cor logam di desa Batur. Ceper. Klaten. Pada tutup buku per Januari 2003 dengan keadaan sebagai berikut:
1. Produk jadi yang belum terjual seluruhnya memiliki nilai nominal
2. Uang Tunai
3. Piutang
Rp 10.000.000.-
Rp 15.000.000.-
Rp 2.000.000.-
Total Rp 27.600.000
Utang yang harus dilunasi Rp 7.000.000
Saldo Rp 20.000.000
Besar zakat = 2,5 % x Rp 20.000.000,00 =Rp 500.000,00

Pada harta perniagaan, modal investasi yang berupa tanah dan bangunan atau lemari, etalase pada toko, dan lain lain, tidak termasuk harta yang wajib dizakati sebab termasuk dalam kategori barang tetap (tidak berkembang).
Usaha yang bergerak dibidang jasa, seperti perhotelan, penyewaan apartemen, taksi, rental mobil, bus/truk, kapal laut, pesawat udara, dan lain lain, dikeluarkan zakatnya dengan cara dapat dipilih diantara dua cara:
1. Pada perhitungan akhir tahun (tutup buku), seluruh harta kekayaan perusahaan dihitung, termasuk barang (harta) penghasil jasa, seperti hotel, taksi, kapal, dan lain lain, kemudian dikeluarkan zakatnya 2,5 %.
2. Pada Perhitungan akhir tahun (tutup buku), hanya dihitung dari hasil bersih yang diperoleh usaha tersebut selama satu tahun, kemudian zakatnya dikeluarkan 10%. Hal ini diqiyaskan dengan perhitungan zakat hasil pertanian, dimana perhitungan zakatnya hanya didasarkan pada hasil pertaniannya tanpa menghitung harga tanahnya.

D. ZAKAT PERTANIAN

1. Zakat Tanaman
Berpedoman dari prinsip bahwa zakat itu dikenakan pada semua jenis tanaman yang bernilai ekonomis maka tanam-tanaman yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah luas sekali. Tanam-tanaman tersebut antara lain adalah ;
1. Biji-bijian, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, jelai, dan sebagainya.
2. Umbi-umbian dan sayur-sayuran; umbi kentang, ubi kayu, bengkoang, bawang, Cabe, pete, kol dan lain-lain.
3. Buah-buahan; kelapa, pisang, durian, rambutan, duku, sawo, salak, apel, jeruk, pepaya, alpokat dan lain-lain.
4. Tanaman hias; Anggrek, segala jenis bunga dan sebagainya.
5. Rumput-rumputan; serai (minyak serai), bambu, rumput ngaladana dan lain-lain
6. Tanaman keras; Karet, kelapa sawit, cengkeh, kopi, kayu cendana, kayu jati, kayu manis dan lain-lain.
7. Daun-daunan; teh dan tembako.
Besarnya zakat tanaman berkisar antar 5 hingga 10 %, tergantung dari mudah susahnya, dan biaya yang dikeluarkan selama proses perawatan selama tanam hingga panen. Nisab hasil tanaman adalah 85 gram emas atau kalau yang bisa ditakar seperti biji-bijian setara dengan 520 kg beras.
Contoh:
Pak Nugroho Prasetyo seorang pengusaha kebun cengkeh. Pada panen tahun ini menghasilkan 600 kg cengkeh. Kalau harga cengkeh perkilogram Rp 20.000,00 maka zakat yang harus dikeluarkan pak Nugroho prasetyo adalah:
a. 10% x 12.000.000,00 = Rp 1.200.000,00 (kalau tidak membutuhkan biaya perawatan kebun cengkeh)
b. 5% x 12.000.000,00 = Rp 600.000,00 (kalau membutuhkan biaya perawatan kebun cengkeh)
Jadi untuk tanaman kopi, cengkeh, lada, jambu monyet, pisang, kelapa sawit dan lain lain yang kadang-kadang bisa panen tiap hari maka bisa dimasukkan dalam kelompok perdagangan dan yang paling penting adalah tidak menghindari kewajiban zakat.
Untuk hasil tanaman yang diperdagangkan yang dipanen dari kebun sendiri dizakati ketika saat panen. Tetapi kalau hasil tanaman itu diperoleh dari beli dan dijual kembali untuk mendapatkan untung maka yang dizakati adalah keuntungannya setelah mencapai nisab dan sampai batas haul (satu tahun).
Contoh:
Pak Eko Susanto seorang pengusaha emping belinjo. Setahun yang lalu Ia mendapat bahan baku emping dari panen belinjo kebun sendiri. Untuk setahun ini Ia mendapat bahan baku emping dari membeli belinjo dari orang lain. Produksi yang dihasilkan pak Eko perbulan 150 Kg emping dengan tenaga sendiri. Ia membeli belinjo mentah perkilogram Rp 8000. Maka zakat yang harus dikeluarkan oleh pak Eko tahun yang lalu adalah:
1. Zakat pak Eko setahun yang lalu
Produksi emping setahun seharga 150 x 12 x Rp 24.000,00 Rp 43.200.000,00
Kebutuhan minyak dan lain-lain setahun Rp 1.800.000,00
Zakat yang harus dikeluarkan 10% x 41.400.000,00 Rp 4.140.000,00
(Zakatnya 5% kalau untuk panen belinjonya dengan biaya misalnya harus mengupah beberapa orang)

2. Zakat pak Eko tahun ini
Produksi emping setahun seharga 150 x 12 x Rp 24.000,00 Rp 43.200.000,00
Beli bahan baku belinjo setahun 150 x 12 x Rp 8.000,00 Rp 14.400.000,00
Kebutuhan minyak dan lain-lain setahun Rp 1.800.000,00
Jumlah Rp 27.000.000,00
Zakat yang harus dikeluarkan 2,5% x Rp 27.000.000,00 Rp 675.000,00

2. Zakat Pertanian
Nishab hasil pertanian adalah 5 wasq atau setara dengan 520 kg beras. Dasar hukumnya Hadist yang diriwayatkan Abu Sa’id Al khudri, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

“Tak ada zakat pada biji-bijian yang kurang dari lima wasq”
Apabila hasil pertanian termasuk makanan pokok, seperti beras, jagung, gandum, kurma dan lain-lain, maka nishabnya adalah 520 kg dari hasil pertanian tersebut.
Tetapi jika hasil pertanian itu selain makanan pokok, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga dan lain-lain, maka nishabnya disetarakan dengan harga nishab dari makanan pokok yang paling umum di daerah (negeri) tersebut (di negeri kita = beras).
Kadar zakat untuk hasil pertanian, apabila diairi dengan air hujan, atau sungai, mata air, maka 10%, apabila diairi dengan cara disiram, irigasi (ada beaya tambahan) maka zakatnya 5%.
Dari ketentuan ini dapat dipahami bahwa pada tanaman yang disirami zakatnya 5%. Artinya 5% yang lainnya didistribusikan untuk biaya pengairan.
Imam Az Zarqoni berpendapat bahwa apabila pengolahan lahan pertanian di airi dengan air hujan (sungai) dan disirami (irigasi) dengan perbandingan 50;50, maka kadar zakatnya 7,5 % atau 3/4 dari 1/10.
Pada sistem pertanian saat ini, beaya tidak sekedar air, akan tetapi ada beaya lain seperti pupuk, insektisida dan lain-lain. Maka untuk mempermudah perhitungan zakatnya, biaya pupuk, intektisida dan sebagainya diambil dari hasil panen, kemudian sisanya (apabila lebih dari nishab) dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% (tergantung sistem pengairannya).
3. Zakat Tanah yang disewakan
Islam menganjurkan kepada umatnya yang memiliki lahan atau tanah supaya diolah sedemikian rupa agar mendapatkan hasil. Tanah harus diolah, baik diolah sendiri maupun diserahkan kepada orang lain. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh:
a. Tanah dipinjamkan kepada orang lain untuk diolah dan ditanami, tanpa memungut imbalan. Yang demikian ini adalah perbuatan terpuji yang dianjurkan dalam Islam. Apabila sampai nisab zakatnya dibebankan kepada si peminjam.
b. Tanah diserahkan kepada si penggarap dengan suatu perjanjian bagi hasil atau dengan ketentuan yang lain. Maka bila sampai nisab zakatnya dibebankan kepada kedua belah pihak. Atau dikeluarkan zakatnya dulu sebelum dibagi.
c. tanah yang disewakan kepada orang lain dalam bentuk uang. Disini timbul masalah, siapa yang membayar zakatnya ? pemilik atau penyewa ? Menurut hemat penulis apabila uang sewa mencapai nisab maka wajib bagi pemilik membayar zakat begitu juga penyewa. Apabila hasil telah sampai nisab, wajib pula baginya mengeluarkan zakatnya.
Apabila lahan tanah ditanami dengan berbagai macam tanaman maka cara menghitung zakatnya (walaupun zakat pertanian) sebaiknya dihitung hasilnya dengan uang dan apabila telah sampai nisab maka dikeluarkan zakatnya 2,5%.
Bagaimana dengan aset kekayaan tanah yang kita miliki? Aset tanah yang tidak diolah berarti tanah tersebut tidak berkembang. Harta atau kekayaan yang tidak berkembang tidak dikenakan zakat. Termasuk rumah dan perabot rumah tangga. Isam menganjurkan kepada umatnya agar tidak menyia-nyiakan harta benda. Apabila kita membiarkan lahan tanah kita nganggur/tidak diolah berarti kita telah menyia-nyiakannya.
Apabila kita mau membeli tanah atau rumah alangkah baiknya kalau uang yang dipergunakan untuk beli tanah dan rumah tersebut dizakati terlebih dahulu.

E. ZAKAT PROFESI

1. Dasar Hukumnya
Firman Allah SWT:

“dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak dapat bagian”. (QS. Adz Dzariyat:19)
Firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, infaqkanlah (zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik”. (QS Al Baqarah 267)
Demikian pula Hadist Nabi SAW yang artinya:
“Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu”. (HR. Al Bazar dan Baihaqi)

2. Hasil Profesi
Hasil profesi (pegawai negeri/swasta, konsultan, dokter, notaris, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu), oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khusunya yang berkaitan dengan zakat. Lain halnya dengan bentuk kasab yang lebih populer saat itu, seperti pertanian, peternakan dan perniagaan mendapatkan porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail.
Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin diantara mereka (sesuai dengan ketentuan syara’).
Dengan demikian apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu zakat, akan tetapi jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup dia dan keluarganya, maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat). Sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya, atau lebih sedikit maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok, yakni, papan, sandang, pangan dan biaya yang diperlukan untuk menjalan-kan profesinya.
Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.
Contoh:
Ahmad Mukti adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di kota Bogor, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Penghasilan bersih perbulan Rp. 1.500.000,00 ,maka jumlah kekayaan yang dapat dikumpulkan dalam kurun waktu satu tahun adalah Rp 18.000.000 (lebih dari nishab). Dengan demikian Ahmad Mukti berkewajiban membayar zakat sebesar 2.5% dari saldo. Dalam hal ini zakat dapat dibayarkan setiap bulan sebesar 2.5% dari saldo bulanan atau 2.5 % dari saldo tahunan.

.F. SAHAM DAN OBLIGASI
Pada hakekatnya baik saham maupun obligasi (juga sertifikat bank) merupakan suatu bentuk penyimpanan harta yang potensial berkembang. Oleh karenannya masuk ke dalam kategori harta yang wajib dizakati, apabila telah mencapai nishabnya. Zakatnya sebesar 2.5% dari nilai kumulatif riil bukan nilai nominal yang tertulis pada saham atau obligasi tersebut, dan zakat itu dibayarkan setiap tahun.
Contoh:
Pak Khoiruddin memiliki 500.000 lembar saham PT. WULAN PERMATA, harga nominal Rp 5.000/lembar. Pada akhir tahun (tutup buku) tiap lembar mendapat deviden Rp 300,- Total jumlah harta (saham) =
Rp 500.000,- x Rp 5.300,- = Rp 2.650.000.000,-
Maka Zakat yang harus dikeluarkan Pak Khoiruddin = 2,5% x Rp 2.650.000.000,- = Rp 66.750.000,-

G. UNDIAN ATAU KUIS BERHADIAH
Harta yang diperoleh dari hasil undian atau kuis berhadiah merupakan salah satu sebab dari kepemilikan harta yang diidentikkan dengan harta temuan (Rikaz). Dasar Hukumnya adalah Hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a

“…. Dan timbunan ma’dinpun tak ada bayarannya dan terhadap barang temuan itu seperlima zakatnya”
Oleh sebab itu jika hasil tersebut memenuhi kriteria zakat, maka wajib dizakati sebasar 20% (1/5).
Contoh:
Pak Bimo memenangkan kuis berhadiah tebak olimpiade berupa mobil sedan seharga Rp.52.000.000,00. Zakat = 20% x Rp.52.000.000,00= Rp.10.400.000,00

Undian atau kuis berhadiah ada dua macam. Pertama, undian atau kuis berhadiah yang mengandung unsur perjudian (ada yang dipertaruhkan untuk mendapatkan hadiah). Kedua, undian atau kuis yang tidak mengandung unsur judi. Kalau undian yang mengandung unsur judi tidak ada zakat atasnya.

H. PROPERTI (HASIL PENJUALAN RUMAH)
Harta yang diperoleh dari hasil penjualan rumah (properti) atau penggusuran, dapat dikategorikan dalam dua macam:
A. Penjualan rumah yang disebabkan karena kebutuhan, termasuk penggusuran secara terpaksa , maka hasil penjualan (penggusurannya) lebih dulu dipergunakan untuk memenuhi apa yang dibutuhkannya. Apabila hasil penjualan (penggusuran) dikurangi harta yang dibutuhkan jumlahnya masih melampaui nisab maka ia berkewajiban mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5% dari kelebihan harta tersebut.
Contoh:
Pak Mansur terpaksa menjual rumah dan pekarangannya yang terletak di sebuah jalan protokol malioboro, di Yogyakarta, sebab ia tak mampu membayar pajaknya. Dari hasil penjualan Rp.150.000.000,- Ia bermaksud untuk membangun rumah di pinggiran kota yang terletak di desa Minomartani dan diperkirakan akan menghabiskan anggaran Rp.90.000.000,- selebihnya akan ditabung untuk bekal hari tua.
Zakat yang harus dikeluarkan Pak Mansur adalah 2.5% x (Rp.150.000.000 – Rp.90.000.000)= Rp.1.500.000,-
B. Penjualan rumah (properti) yang tidak didasarkan pada kebutuhan maka ia wajib membayar zakat sebesar 2.5% dari hasil penjualannya.

BAB IV
ZAKAT FITRAH

Zakat fitrah adalah zakat pribadi yang bertujuan membersihkan diri, sebagaimana zakat harta untuk membersihkan harta. Para Ulama dan umat islam di Indonesia telah telah bersepakat bahwa besarnya zakat fitrah apabila berujud beras 2,5 Kg disamankan dengan satu sha’ tamar atau satu sha’ sya’ir. Hal ini didasarkan pada Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar:

‘ “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ tamrin atau satu sha’ sya’ir”
Satu sha’ = 4 Mud, satu Mud kira-kira 0,6 Kg. Jadi Satu sha’ setara dengan kira-kira 2,4 Kg. Lalu dibulatkan menjadi 2,5 Kg.

1. Dasar Hukum

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan satu sha’ tamrin (kurma) atau satu sha’ sya’ir (gandum) atas setiap orang yang merdeka atau hamba sahaya laki-laki maupun perempuan muslim” (HR Jama’ah)

“dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat” (QS Al Baqarah: 110)

“Drikanlah sholat dan tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Rasul agar kamu mendapat rahmat” (QS An Nur: 56)

2. Orang yang Wajib Zakat Fitrah
Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap pribadi dari kaum muslimin tanpa membedakan antara orang yang merdeka dengan hamba sahaya , laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, orang kaya maupun miskin.
Hadits Nabi, dari Abu Hurairah r.a :

“Dari Abu Hurairah r.a, diwajibkan zakat fitrah atas orang merdeka dan hamba sahaya laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, fakir dan kaya.

3. Waktu mengeluarkan Zakat Fitrah
Zakat fitrah boleh diberikan pada awal bulan ramadhan, tetapi wajibnya zakat fitrah diberikan menjelang sholat idul fitri atau akhir bulan ramadhan. Bayi yang lahir sebelum sholat Idul fitri wajib zakat fitrah atasnya.

4. Yang Berhak menerima Zakat Fitrah
Yang berhak menerima zakat fitrah, sama halnya dengan yang berhak menerima zakat, artinya zakat fitrah itu hendaknya dibagikan kepada delapan golongan (At Taubah: 60). Tetapi fakir miskin merupakan golongan yang lebih utama untuk menerimanya. Sebagaimana hadits ; “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan kosong dan keji,dan sebagai pangan bagi orang-orang miskin”

BAB V
ZAKAT DAN PAJAK

1. Antata zakat dan pajak
Antara zakat dan pajak keduanya memiliki persamaan sekaligus perbedaan. Persamaan antara zakat dan pajak adalah;
1. Didalam zakat dan pajak ada unsur kewajiban dan paksaan. Bila seorang muslim terlambat membayar zakat, karena iman dan islamnya belum kuat, pemerintah Islam bisa memaksanya bahkan memerangi mereka yang enggan membayar zakat.
2. Pajak harus disetor kepada lembaga pemerintah (negara), di pusat atau daerah.sedangkan zakat disetorkan ke Amil.
3. Para wajib zakat maupun pajak sama-sama tidak memperoleh imbalan.
4. Pajak pada masa sekarang memiliki tujuan kemasyarakatan, ekonomi,politik dan sebagainya. Sama halnya zakat memiliki tujuan yang sama disamping ada nilai tambah untuk kehidupan pribadi dan masyarakat.
Perbedaan antara zakat dan pajak antara lain adalah sebagai berikut;
1. Zakat mengandung pengertian suci, bertambah dan berkah. Orang yang mengeluarkan zakat jiwanya suci dan bersih, jauh dari sifat tamak dan kikir. Karena hak orang lain telah ditunaikan kepada yang berhak menerimanya. Harta yang dizakati juga bertambah dan berkah. Sedangkan pajak artinya hutang yang wajib dibayar, sehingga kesan pajak adalah beban yang berat yang dipaksakan walaupun hasil pajak itu dimanfaatkan untuk pembangunan dan kepentingan negara.
2. Zakat adalah ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam sebagai tanda syukur kepada Allah dan mendekatkan diri kepadanya. Sedangkan pajak adalah kewajiban atas warga negara baik muslim maupun non-muslim yang tidak ada kaitannya dengan ibadah kepada Allah.
3. Zakat adalah ketentuan dari Allah dan rasulnya. Sedangkan pajak adalah ketentuan tergantung dari kebijakan penguasa (pemerintah) dari suatu negara.
4. Zakat bersifat permanen, artinya kewajiban zakat tidak bisa dihapus kapanpun dan oleh siapapun. Sedangkan pajak bisa bertambah ataupun berkurang bahkan bisa dihapus sesuai dengan kepentingan negara.
5. Dalam hal penyaluran, zakat telah ditentukan oleh Allah dan rasulnya. Sedangkan pajak penyalurannya lebih bersifat umum.
6. Maksud dan tujuan zakat mengandung bimbingan spiritual yang tinggi, sedangkan pajak tidak.

2. Menghitung zakat sebagai pengurang Penghasilan kena pajak
Dalam menghitung penghasilan kena pajak , zakat yang boleh dikurangkan dari penghasilan adalah zakat atas penghasilan saja yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi yang memeluk agama Islam dan wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada Badan Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah berdasarkan bukti-bukti setoran zakat yang sah. Dengan demikian zakat zakat bukan sebagai pengurang pajak penghasilan secara langsung akan tetapi sebagai pengurang penghasilan kena pajak.
Untuk dapat mengurangkan zakat dari penghasilan kena pajak maka wajib pajak harus mendaftar dan memiliki NPWP terlebih dahulu. Zakat yang diterima oleh Badan Amil zakat atau Lembaga Amil Zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah tidak termasuk obyek pajak. Zakat yang diterima oleh para penerima zakat yang berhak (mustahik) tidak termasuk obyek pajak.
Zakat atas penghasilan yang telah dikenakan pajak penghasilan final tidak boleh dikurangkan dari penghasilan kena pajak.
Contoh:
Pak Didik adalah seorang pengusaha yang bergerak dibidang perdagangan, dengan penjualan tahun 2002 sebesar Rp 90.000.000,00, harga pokok penjualan Rp 50.000.000,00, Beaya umum dan administrasi Rp 15.000.000,00,
Perhitungannya adalah sebagai berikut:
1. Penghasilan Bruto Rp 90.000.000,00
2. harga pokok penjualan Rp 50.000.000,00
Laba bruto Rp 40.000.000,00
3. Beaya umum dan administrasi Rp 15.000.000,00
Penghasilan neto sebelum zakat Rp 25.000.000,00
4. Zakat telah dibayar 2,5% x Rp 25.000.000,00 Rp 625.000,00
Penghasilan kena pajak Rp 24.375.000,00
PPh harus dibayar 5% x Rp 24.375.000,00 Rp 1.218.750,00

Atau sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan undang-Undang no 17 tahun 2000

BAB VI
PENYALURAN ZAKAT

Islam memberi petunjuk kepada siapa saja yamg pantas dan perlu dibantu dengan dana zakat menurut keadaan yang sebanarnya. Sebenarnya apabila ekonomi umat Islam sudah baik, tentu penyaluran zakat tidaklah susah dan rumit. Sebab sudah jelas tempat penyalurannya (QS At Taubah: 60) namun kecermatan dan ketelitian para amil sangat diperlukan, karena ada diantara anggota masyarakat yang tidak mau memperlihatkan ketidakberadaannya, dan ada pula yang dengan sengaja dan terang-terangan memperlihatkan kemiskinannya dengan cara minta-minta.
Apabila amil tidak teliti, penyaluran zakat itu tidak mengenai sasaran atau ada orang yang terlewatkan tidak mendapat bagian.
Ada sebagian orang (walaupun tidak banyak), mengemis atau meminta-minta sebagai profesi dan tugas rutin sebagai pekerjaan, karena cepat mendapat hasil. Ibarat petani begitu dia tanam langsung menuai hasilnya.
Orang yang berhak menerima zakat sesuai dengan QS At Taubah: 60 adalah sebagai berikut;

1. Fakir Miskin
Pengertian fakir dan miskin ada perbedaan pendapat diantara ulama;
a. Orang fakir mempunyai usaha tetapi tidak mencukupi kebutuhan hidup, sedangkan orang miskin tidak ada mata pencaharianuntuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. (QS Al Balad: 6). Pendapat ini dianut oleh madzab Hanafi.
b. Orang miskin mempunyai usaha tetapi tidak mencukupi kebutuhan hidup, sedangkan orang fakir tidak ada mata pencaharianuntuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. (QS Al Kahfi: 79, Al Baqarah: 273). Pendapat ini dianut oleh madzab Maliki, Syafi’i dan Hambali.
c. Sama-saja antara fakir dan miskin sama-sama tidak memiliki apa-apa. Pendapat ini dianut oleh Al ‘Arabi.
Menurut penulis, kita perlu melihat dari segi keperluan mereka, siapa yang pantas didahulukan dan tidak usah terlalu kaku berpegang pada istilah.

2. Amil
Amil zakat adalah petugas yang ditunjuk pemerintah atau masyarakat untuk mengumpulkan zakat, menyimpannya dan kemudian mendistribusikan kepada yang berhak. Seseorang diberi tugas sebagai amil apabila memenuhi syarat-syarat :
a. Seorang muslim, karena ia mengurusi zakat yang berhubungan dengan kaum muslimin.
b. Seorang mukallaf yang sehat akal pikirannya, bertanggungjawab dan mempertanggungjwabkan tugasnya itu.
c. Seorang yang jujur, karena ia menerima amanah harta kaum muslimin, jangan sampai disalahgunakan.
d. Seseorang yang memahami seluk beluk zakat, mulai dari hukumnya sampai kepada pelaksanaannya.
e. Seorang yang dipandang mampu melaksanakan tugasnya, apalagi kalau amil itu benar-benar difungsikan.
Amil sebagai petugas zakat, diberi upah yang wajar dan pantas. Tidak terlalu besar dan tidak terlelu kecil, sesuai dengan kesepakatan bersama dan tidak ditentukan oleh amil itu sendiri.

3. Mualaf
Menurut Musthofa al Maraghi dalam tafsirnya disebutkan bahwa yang termasuk mualaf adalah;
a. Orang kafir yang diperkirakan atau diharapkan mau beriman dan masuk Islam. Contoh dalam sejarah bahwa Nabi SAW pernah memberikan zakar kepada Shafwan bin Umayyah pada saat penaklukan mekah.
b. Orang yang baru masuk Islam yang dengan harapan imannya meningkat dan tidak goyah lagi sesudah masuk Islam.
c. Orang islam yang tinggal di perbatasan untuk menjaga keamanan atau dapat menghalangi serangan pihak musuh.
d. Orang yang dikhawatirkan kelakuan jahatnya merusak ummat Islam dan agama Islam dan bla tidak diberi mereka menceladan melecehkan islam.
e. Tokoh yang berpengaruh yang sudah memeluk islam, yang masih memiliki shahabat-shahabat yang masih kafir. Dengan pengaruhnya diharapkan merekapun turut memeluk islam.
f. Tokoh kaum muslimin yang cukup berpengaruh dikalangan kaumnya akan tetapi imannya masih lemah. Dengan pemberian zakat ini diharapkan imannya semakin mantap dan kuat.
Menurut hemat penulis, pembagian seperti tersebut duatas dapat dipahami dalam kondisi dan dengan situasi tertentu. Sebab disinyalir dalam masyarakat ada orang yang ingin memeluk Islam karena alasan ekonomi (mendapat bagian zakat) dan tentu saja secara lahiriah dapat diterima. Sekiranya para mualaf ditakdirkan dalam kondisi fakir miskin, maka ia berhak atas zakat tersebut.

4. Riqab (Budak belian)

5. Gharim (orang yang berhutang)
Orang berhutang ada dua sebab: Hutang untuk kepentingan sendiri dan hutang untuk kemaslahatan ummat. Demikian menurut pendapat Imam syafi’i, Malik dan Ahmad. Menurut madzab Hanafi, orang yang berhutang (karena bangkrut, bencana alam atau ditipu orang), zakat dapat diberikan sebanyak utangnya itu.
Apabila seseorang yang berhutang itu untuk kepentingan pribadi masih melarat, maka dapat dikelompokkan dalam golongan fakir miskin.

6. Fiisabilillah
Fiisabilllah dalam pengertian luas mencakup seluruh kemaslahatan umat Islam, untuk kepentingan agama dan lain sebagainya yang tidak mengandung maksiyat dan yang bukan untuk kepentingan perorangan.

7. Ibnu Sabil
Ibnu sabil bisa diartikan musafir yang tidak bertujuan untuk maksiyat dan kehabisan bekal dalan perjalananya.

Mengenai penyaluran zakat ini, para ulama masih banyak terdapat perbedaan pendapat. Tetapi menurut pendapatpenulis lebih baiknya amil yang memiliki kebijakan bisa lebih teliti dan lebih bijaksana dalam menentukan mustahik, jangan sampai salah sasaran. Yang terpenting adalah bagaimana amil bisa memberikan keteladanan lewat cara bicara yang santun, sopan dan jujur, sehingga dapat menyejukkan hati para calon mustahik dan tidak menimbulkan maslah dikemudian hari.
.
BAB VI
HIKMAH ZAKAT
Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan ummat manusia, terutama Umat Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan antara sesama manusia, antara lain :
1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT
2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya kepada yang berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
3. Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan batin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.
4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatan Wahidah (Umat yang satu), Musaawah (persamaan derajat, dan kewajiban) Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijtima’ (tanggung jawab bersama)
5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta (social distribution), dan keseimbangan tanggungjawab individu dalam masyarakat
6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dengan golongan miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah
7. Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang aman, tentram lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya komunisme (atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT, akan terciptalah sebuah masyarakat yang Baldatun Thoyibatun Wa Rabbun Gafuur.

Sumber:
o Ali bin Habib Al Mawardi, Al Hawy Al Kabir, Beirut, 1414H/1994M.
o Ali Hasan, Tuntunan puasa dan Zakat, Srigunting, Jakarta 1997.
o Al Faridy, Hasan Rifa’I,Panduan Zakat Praktis, Dompet Dhuafa Republika, 1996.
o Al Maraghi, Ahmad Musthofa, Tafsir Al Maraghi,Jilid I, Darul Fikri, Beirut, 1974.
o Depag, Pedoman Zakat, Proyek pembinaan zakat dan Wakaf, Jakarta, 1985
o Imam An Nawawy, Al Majmu’, Beirut, 1996.
o Manan M.Abdul, Islamic Economic, Theory and Practice, Michigan University, USA, 1990.
o Mohammad bin Ismail Ashon’any, Syekh, Subul As Salam, Beirut, 1379H/1958M.
o Said Sabiq, Fiqh As Sunnah, Cairo, 1995.
o Yusuf Qaradawi, Hukum Zakat, (Terj) Litrea Antar Nusa, Jakarta, 1993

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Zakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s