MERENUNGKAN KEMBALI PENGELOLAAN ZAKAT FITRAH

Oleh: April Purwanto

Menjelang akhir bulan ramadhan, umat Islam banyak disibukkan dengan pengelolaan zakat fithri atau lebih dikenal dengan zakat fitrah,yakni semacam amal sosial-praktis yang menjadi kewajiban setiap muslim yang mampu. Zakat fitrah, yang waktunya telah diten-tukan, dipandang merupakan amal penghabisan sebagai penyucian jiwa setiap muslim. Zakat ini dipandang sebagai amal penyempurna ibadah puasa di bulan ramadhan. Karenanya, keberadaan zakat fitrah bagi seorang muslim, adalah keniscahyaan. Hanya saja, fungsi sosial zakat fitrah selama ini masih belum tampak. Paling maksimal, ia (zakat fitrah) hanya berfungsi sebagai karitatif, hanya menyelesaikan persoalan lahiriyah yakni untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Zakat fitrah, belum mengarah pada dataran subtansial yaitu mengerahkan seluruh energinya pada pengentasan kemiskinan yang menjadi ruh atau semangat awal dari Zakat itu. Zakat, dalam bentuk ini (fitrah) adalah “mandul” karena sama sekali belum mampu menghadirkan fungsi sosialnya.
Dalam masyarakat kita, bentuk zakat yang “mandul” diperparah lagi dengan organisasi dan kinerja pengelolaan yang buruk, mengakibatkan tidak saja ‘kekaburan’ sasaran, akan tetapi juga ‘ketidaktepatan’ mana prioritas yang hendak dituju. Kekaburan berikut ketidaktepatan karena organisasi yang buruk, menjadi tipologi umum pengelola Zakat di masjid-masjid sean-tero nusantara. Sehingga, dari tahun ke tahun, kehadiran panitia pengelola Zakat ini tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Jadi, amanat fungsi sosial zakat yang diembannya semakin jauh dari kenyataan.
Seharusnya, persoalan ini tidak terjadi jika diadakan perombakan nilai atas zakat fitrah. perom-bakan nilai ini setidaknya menyangkut dua hal; makna dan instrumen. Perombakan nilai makna zakat fitrah, berlandas-tumpu atas dasar filosofinya. Tidak sebagai-mana alur pikir normatif mengenai zakat, landas filosofi mempertanyakan eksistensi zakat fitrah; mengapa harus ada Zakat fitrah? Apakah kehadirannya dirasa perlu dalam tata-sosial muslim? Dan juga apa fungsi yang diembannya jika keberadaannya diakui di dunia muslim?
Jawabannya,zakat fitrah memang perlu adanya karena (ia) merupakan bagian – yang integral dengan zakat mal — dalam hal distribusi pendapatan. Bahwa siapa pun sepakat tentang adanya tata-sosial yang timpang; kaya-miskin, dzalim-madzlum, kuat-lemah (Hasan Hanafi:1981), adalah sebuah argumen logis mengapa harus dimulai dari zakat. Lebih gamblangnya, karena sebuah struktur sosial yang senantiasa tidak adil menyebabkan seseorang menjadi miskin.
Islam, melalui seperangkat aturannya, mafhum jika struktur sosial ini tidak serta-merta mudah dimusnahkan. Merobohkan struktur sosial secara revolusioner, dalam angan-angan Islam, adalah hal yang utopis. Karena, yang demikian sama halnya, dengan mengingkari sunnatullah. Sunnatullah menegaskan selalu ada jurang ekonomi antar kelas sosial yang berbeda. Dengan ini, maka yang dikembangkan Islam bukanlah kesamaan ekonomi, akan tetapi kesamaan sosial.
Dalam rangka kesamaan sosial, Islam menandaskan pentingnya kesempatan yang sama dalam pemerataan distribusi kekayaan. Kata kunci “pemerataan yang sama”, oleh Islam, disinambungkan dengan gagasan kewajiban zakat bagi setiap muslim yang mampu. Zakat, dalam koridor ini, bukan merupakan rasa belas kasih orang kaya terhadap mereka yang miskin. Tapi, lebih merupakan kewajiban yang meniscaya karena dalam harta setiap orang yang mampu terdapat hak kaum miskin. (QS. Ad-Dzariyat:9).
يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ
Dipalingkan daripadanya (rasul dan Al-Quran) orang yang dipalingkan.
Paling tidak, dengan zakat, timbunan harta di segelintir elite kaya senantiasa akan berkurang. (QS.Al-Hasyr: 7)
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.
Karenanya, menjadi logis, jika yang diemban utama dalam zakat adalah misi keadilan sosial. Tidak salah, jika dalam misi ini, perombakan struktur menuju tatanan yang berkeadilan sosial dijadikan cita ideal Islam sepanjang zaman.
Pengentasan kemiskinan, adalah sebuah medium pertama dan utama dalam penegakan tata sosial yang berkeadilan. Seluruh energi dalam zakat, semestinya diabdikan untuk pengentasan kemiskinan. Karenanya, dalam pembahasan zakat secara umum pilihan zakat jenis produktif (dalam bentuk pemberian modal misalnya), daripada zakat konsumtif sudah seharusnya dijadikan rujukan utama.
Demikian ini karena Islam menghargai usaha-usaha produktif manusia, yang dalam Islam dilukiskan sebagai “karunia Tuhan”. (QS. Al-Jumu’ah, 9-10).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Pun, paralel dengan ini, Islam juga mendorong manusia agar berfaedah bagi dirinya sendiri dari kesempatan yang banyak sekali diberikan untuk berusaha produktif sebagai karunia Tuhan yang tak berhingga.
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Dan sungguh Telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, Maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.(QS. al-An’am: 10)
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). ( QS Ibrahim: 34)
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ . وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ
Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. 20. Dan kami Telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.(QS. al-Hijr: 19-20)

Melihat catatan sejarah, Nabi Muhammad SAW sendiri lebih memilih memberikan kapak daripada kayu terhadap seorang yang miskin. (Sunan Ibnu Majah: I: 338). Melihat ini, tampak bahwa yang dikehendaki Islam adalah zakat produktif karena lebih berupaya mengentaskan kemiskinan struktural umat.
Revitalisasi lain, yang juga urgen dilakukan adalah tentang organisasi Zakat fitrah. Organisasi zakat fitrah, yang saya maksud di sini, adalah Panitia-Panitia Amil Zakat yang berserakan secara mandiri di berbagai pelosok negeri. Secara umum, organisasi ini bergerak sendiri-sendiri, tidak terkoordinasi, antarsatu dengan yang lainnya. Ciri utama lainnya; bahwa organisasi hanya seolah untuk memenuhi kewajiban syar’i dalam menunaikan zakat. Sehingga, organisasi harus bubar ketika selesai pelaksanaan zakat fitrah.
Organisasi ini, dipandang tidak profesional – selain lantaran bekerja setahun sekali – juga tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Apalagi, visi dan misi keadilan sosial, sebagaimana telah diungkapkan di atas, ia tidaklah serius dalam pengelolaan organisasi zakat fitrah. Organisasi ini bergerak seolah tanpa ruh yang melandasinya, menyebabkan sasaran yang dituju kurang mengena. Seringkali, dijumpai zakat fitrah yang teruntuk kaum miskin, diambil alih oleh mereka yang lebih mampu secara finansial. Atau pula, zakat fitrah yang semestinya terdistribusi secara merata kepada “atsnafus tsamaniyah” (QS. at-Taubah: 60) secara tidak sadar diambil oleh amil-amil yang juga merasa sebagai mustahik zakat.
Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang musti dilakukan, baik oleh amil Zakat maupun umat Islam, dalam menghadapi pelaksanaan zakat fitrah.
Pertama, peneguhan visi dan misi zakat fitrah yang berkeadilan sosial sebagai basic utama umat Islam dalam memahami zakat. Lebih lanjut, visi dan misi ini disosialisasikan kepada seluruh umat, untuk dijadikan sebagai ‘pedoman aksi’ dalam melaksanakan zakat fitrah. Dengan begitu, terdapat kemauan kuat umat Islam, dalam penyelenggaraan pengentasan kemiskinan khususnya, penegakan tata sosial yang berkeadilan umumnya.
Kedua, mengembalikan ruh keadilan sosial dan pengentasan kemiskinan ke dalam organisasi-organisasi badan amil zakat fitrah. Secara tidak langsung, langkah kedua juga mengharuskan organisasi-organisasi zakat fitrah untuk senantiasa merapatkan barisan sepanjang tahun, memantapkan visi, misi, strategi maupun taktik yang akan digunakan. Juga senantiasa diadakan pertemuan koordinasi antara jaringan amil zakat yang ada, sebagai komparasi dan juga memantapkan sasaran-sasaran prioritas yang hendak dituju. Profesionalitas kerja harus pula diperlihatkan badan-badan amil atau pengelola Zakat fitrah, sebagai hal yang inheren, dalam pembangunan organisasi tersebut.
Ketiga, menghendaki aneka eksperimentasi bentuk zakat produktif sebagai produk unggulan dalam organisasi-organisasi pengelola zakat secara umum. Demikian ini perlu dikembangkan mengingat lebih mendekatkan pada upaya pengentasan kemiskinan secara total. Kalkulasi sederhana penduduk muslim Indonesia, andaikan hanya 150 juta (dari totalitas 230 juta penduduk Indonesia) yang membayar zakat fitrah dengan 2,5 Kg beras seharga Rp 20.000 per orang, bisa dibayangkan berapa modal yang akan diperoleh? Tentunya akan kita dapatkan gambaran perolehan dana zakat fitrah yang jumlahnya 3 Trilyun. Belum lagi ditambah dengan perolehan dana Zakat mal, infak, shadaqah serta wakaf. Akan banyak orang yang tiap tahun dapat dientaskan dari jurang kemiskinan dengan modal Trilyunan rupiah tersebut?.
Dari gambaran yang saya sampaikan diatas tadi, bisa direnungkan betapa banyaknya dana umat. Namun sayang sangat sedikit yang perhatian terhadap permasalahan ini. Sehingga dalam lingkungan masyarakat yang 100% muslim, apabila ada warga masyarakat yang kurang beruntung, miskin, fakir, terlunta-lunta hidupnya, kurang sejahtera, tidak ada yag peduli. Ini adalah kedhaliman yang besar bagi umat Islam apabila sampai terjadi semacam ini. Orang kaya lebih cinta terhadap hartanya dan enggan membayarkan zakatnya. Orang kaya mau membayar zakatnya tetapi salah urus, yang menyebabkan tingkat kemiskinan yang semakin membengkak.
Maksud dan tujuan saya menulis buku ini, tidak lain adalah memberikan kesadaran kepada setiap muslim untuk melakukan perubahan sistem pengelolaan zakat. Karena apabila sistem pengelolaan zakat dibuat lebih baik akan menghasilkan sikap positif dari masyarakat yang menjadikan pengelolaan zakat ini lebih elegan dan profesional. Ini saja ternyata tidak cukup. Perlu juga, dipilih orang-orang yang memiliki itegritas, mumpuni, dipercaya masyarakat dan memiliki visi ke depan untuk pengembangan zakat di masyarakat. Tidak ada artinya sebuah lembaga dengan sistem yang baik dan modern tanpa adanya kepercayaan dari masyarakat.
Harapan saya, dengan hadirnya buku Manajemen Pengelolaan Zakat Fitrah ini akan ada perubahan yang lebih baik lagi dalam pengelolaan zakat yang biasa dilakukan masyarakat di masjid-masjid, ataupun lembaga-lembaga pengelola zakat. Dari adanya niat untuk perubahan ini akan muncul upaya menata diri kembali sehingga menjadi lebih baik dan membawa kemaslahatan yang lebih banyak.

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Zakat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s