NILAI-NILAI ISLAM DALAM TRADISI BUDAYA PERUSAHAAN

Oleh: April Purwanto, S Ag*)

Abstrak

Islam adalah agama universal yang mewarnai segala aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya aspek ekonomi dan budaya. Sebagai agama yang universal inilah, perlunya setiap muslim mempelajari dan mengamalkan Islam dalam setiap aspek budayanya sehingga membentuk kebudayaan Islam atau budaya yang islami. Baik dalam budaya kerja yang dilakukan oleh individu-individu hingga budaya perusahaan yang terdiri dari individu-individu yang membutuhkan manajemen yang baik dan profesional. Ketika suatu perusahaan dikelola dengan baik dan profesional walaupun bukan dari seorang muslim (milik seorang muslim) ternyata jika ditilik dari ajaran Islam (Qur’an dan hadits) justru mereka yang melaksanakan nilai-nilai Islam dalam budaya perusahaan bukan orang Islam sendiri. Mengapa ?.

Kata Kunci; Agama universal, budaya perusahaan, Perusahaan profesional, Nilai-nilai Islam.

Pendahuluan
Pada pertengahan abad dua puluh, lahir doktrin ekonomi Islam, sebuah doktrin yang mulai diperkenalkan oleh para ulama muslim sebagai alternatif yang memberikan keadilan dan kedamaian bagi masyarakat muslim,selain doktrin-doktrin ekonomi yang berkembang pada saat itu. Pada waktu itu masyarakat dunia kurang mendapatkan nilai-nilai keadilan, dan dinilai hanya menguntungkan pihak-pihak yang memiliki modal besar. ”Homo homini lupus” sebagai way of life. Manusia memakan manusia lain sebagai pandangan hidup masyarakat pada umumnya karena modal yang dimilikiya. Masyarakat dikotak-kotakan sebagai kaum borjuis dan proletar. Sebagai juragan dan buruh. Seorang juragan merasa bangga dengan kejuraganannya yang memiliki kewenangan untuk menindas dan memperlakukan buruh semaunya karena merasa memiliki modal. Perbudakan serasa masih menyelimuti dunia walaupun dalam konteks yang berbeda. Ekonomi yang berkembang pada saat itu adalah ekonomi neoklasik, ekonomi marxian, dan doktrin ekonomi lainnya yang berakar dari pemikiran sosial barat.
Ekonomi Islam meletakkan dasar perekonomian mereka dalam konteks ”homo homini socious” manusia sebagai mitra dalam bermuamalah, merasa saling membutuhkan dan merasa saling membantu. Tidak ada manusia sukses dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain. Dia butuh bantuan orang lain. Kesuksesan diperoleh karena bermitra dengan orang lain. Tidak memperbudak, tidak sebagaimana dalam praktek kehidupan bermuamalah pada umumnya. Bahkan Rasulllah menyampaikan sebuah hadits” bayarlah upah buruhmu sebelum keringatnya kering”. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian yang besar bagi perkembangan budaya membangun usaha dan perusahaan.
Ada tiga karakter yang membedakan antara ekonomi Islam dan ekonomi yang lain; yakni pertama ekonomi Islam diilhami dan bersumber dari Al Quran dan hadits. Kedua, memandang peradaban Islam sebagai sumber perspektif dan wawasan ekonomi yang tidak ada dalam tradisi filosofi sekuler. Ketiga bertujuan menemukan dan menghidupkan kembali nilai ekonomi, prioritas, dan adat istiadat umat muslim awal di arab pada abad ke tujuh. (John L Esposito, Ensiklopedia Oxford dunia Islam modern jilid 2,Mizan, Bandung, 2001, hal 1).
Dalam berbagai buku sejarah perjalanan hidup rasulullah tercatat bahwa sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad bekerja sebagai buruh dagang ditempat Khadijah yang kemudian menjadi Istrinya. Pemuda umur duapuluh lima tahun itu diserahi kepercayaan untuk memimpin kafilah perdagangan. Ia mengarungi padang pasir yang luas dan tandus menuju sebuah negeri yang pada waktu itu sebagai pusat perdagangan, yaitu negeri Syam, melalui Wadl’ al Qura, Madyan dan Diat Thamud serta daerah lain, yang dulu pernah dilintasinya bersama pamannya Abu Tholib, semasa umurnya baru duabelas tahun. (Muhammad Husein Haikal, Sejarah hidup Muhammad, Litera Antar Nusa, Jakarta, 1992, hal 63)
Setiap kali ia berjumpa dengan peminat barang dagangan yang dibawanya, Ia selalu dengan jujur mengatakan harga pokok dan beban biaya untuk menghadirkannya. Ditegaskannya juga berapa keuntungan yang ingin diperolehnya. Mereka kemudian bernegosiasi tentang tingkat laba yang diinginkannya. Tiap peminat merasa dirinya diperlukan sebagai sahabat dan mitra, penuh kepercayaan diri dan serba terbuka. Tiap peminat memang kamudian menjadi pelanggan. Muhammad mengutamakan mencari pelanggan dari pada mengejar keuntungan dan laba yang besar.
Empat belas abad kemudian, seorang pakar manajemen, Peter F Drucker, memberikan gambaran bahwa ”there is only one valid definition of bussiness purpose; to create a customer” (hanya ada satu definisi yang sah mengenai tujuan bisnis yaitu; menciptakan pelanggan).( Peter F Drucker,The Age of productivity, Heinemann, London, 1980, hal 17) Menciptakan pelanggan, bukan lagi mengejar laba sebesar mungkin. Nabi Muhammad saw adalah orang yang jujur, al amin, telah membukakan gambaran yang jelas dan gamblang bagaimana kita meneladaninya dalam usaha, berbisnis, dan bekerja. Disini Drucker hanya memberikan pembenaran ilmiyah saja.
Kalau Rasulullah berorientasi pada pelanggan bukan laba. Bagaimana dengan fungsi laba? Bukankah dalam setiap usaha keuntungan yang kita peroleh itu dari laba ? Drucker menjelaskan bahwa ” Profit is a condition of survival. It Is the cost of future, the cost of staying in business” (Laba adalah suatu syarat bagi kelangsungan hidup, Laba adalah biaya untuk masa depan, biaya untuk meneruskan bisnis). Selajutnya Drucker melanjutkan bhawa laba bukanlah kuasa tetapi hasil karya kegiatan pemasaran, inovasi dan produktifitas. Ia dibutuhkan dan mempunyai fungsi ekonomis yang essensial. Beberapa alasan bisa disebutkan disini. Diantaranya adalah pertama, laba berfungsi sebagai tolok ukur bagi prestasi. Ia bahkan merupakan tolok ukur satu-satunya yang efektif. Kedua, Laba adalah imbalan bagi resiko dan ketidak pastian yang terkandung di masa depan. Laba yang dipetik dari selisih antara nilai yang dihasilkan oleh kegiatan ekonomi dengan biaya, memungkinkan masyarakat mengembangkan diri, bukan hanya pada jalur bisnis semata tapi juga secara keseluruhan.
Laba hanya mungkin akan diperoleh secara terus-menerus, tidak terputus dan jika pelanggan merasa dipuaskan kebutuhan dan keinginannya atau –lebih tapat jika disebut-jika keinginan (yang bersumber dari kebutuhan) dipuaskan. Seorang yang lapar membutuhkan makan dimanapun. Namun yang satu menginginkan makan soto yang enak dan panas, sedangkan yang lain menginkan nasi padang, atau sego pecel dan seterusnya. Kebutuhan sama makan tetapi yang dimakan berbeda karena berbeda keinginan. Pengusaha selalu menciptakan keinginan-keinginan baru, yang berakar pada pola kebutuhan yang pada dasarnya sudah ada sejak manusia dilahirkan.
Menciptakan pelanggan adalah menciptakan orang-orang yang menyandang keinginan-keinginan baru yang juga diciptakan, dan melayaninya hingga mereka puas dan datang kembali untuk mencari. Jika pelanggan ini berhasil dipuaskan, mereka tidak akan keberatan untuk membayar lebih, yang kemudian menghadirkan selisih yang disebut dengan laba. Jelas disini laba memang akibat bukan tujuan.
Tidak terdapat indikasi bahwa Drucker dalam mengungkap teorinya telah mempelajari sejarah hidup Muhammad karya Husein Haikal atau yang lain. Tetapi ini bisa ditarik kesimpulan bahwa yang benar itu pada akhirnya akan tampil juga sebagai kebenaran. Dan Muhammad adalah suri tauladan bagi sebuah kebenaran.

Usaha dan budaya
Islam adalah agama yang mengedepankan rasional, menghargai ilmu. Sehingga menjadi agama yang ilmiyah. Sehingga orang yang memeluk Islam harus berusaha untuk senantiasa “berilmu amaliyah baramal ilmiyah”. Mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Indikator bahwa Islam merupakan agama ilmiah dan rasional adalah ketika Allah menurunkan wahyu al Quran pertama kali di gua Hira. Yakni “iqra’” bacalah !. Bukan berimanlah, rukuklah atau sujudlah !. Orang yang membaca berdialog dengan dunianya. Baik dunia yang telah lalu, sekarang maupun dunianya di masa mendatang. Orang yang membaca bahkan berdialog dengan alam semesta, dengan tanda-tanda kebesaran Tuhan dan dengan Sang Maha Pencipta sendiri. Lebih lengkapnya kata-kata tersebut adalah;
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Memang kata-kata itu ditujukan pada Nabi Muhammad saw yang ”umi” buta huruf, tetapi sensitif dan cerdas dalam memahami perintah Tuhan, menunjukkan bahwa yang dimaksud bukanlah sekedar membaca alif, ba’, ta, tsa’, jim . Tetapi membaca segala isyarat. Tetapi Muhammad yang arif dan terpilih itu kemudian sempat bersabda bahwa belajar itu dimulai dari buaian ibu hingga ke liang kubur, dan bahwa belajarlah sesuai dengan kemapuan, ke negeri China sekalipun. Ada apa dengan negeri cina kala itu ? Rupanya China kala itu sudah mashur, dan tempat cerdik pandai. Sehingga rasululah perlu menyebutkan secara jelas dalam salah satu haditsnya!.
Ada beberapa ilmuwan besar yang lahir dari daratan china ini. Misalnya Lao Tse, Confucius, Mencius, dan Mao Tse Tung. Mereka adalah para guru di daratan china, khususnya yang paling terkenal adalah Lao Tse, Confucius dan Mencius. Pada 551 hingga 479 sM, Confucius hidup dan mengajar di China jauh sebelum Rasulullah lahir. Ia dan Lao Tse mengembangkan ajaran Tao yang berarti jalan menuju kebahagiaan. Bagi Conficius tao adalah jalan manusia. Jalan para raja purba, dan jalan kebajikan. Bagi Lao Tse, Tao adalah jalan alam. Lao Tse mengajarkan konsep yang begitu khas, hingga alirannya kemudian lebih dikenal dengan ajaran Tao. Tiap aliran Tao mengajarkan aspek keseimbangan di alam raya, yin dan yang. Tao yang terkandung dalam diri manusia adalah kebajikan(Te). Bagi aliran confucius, kebajikan yang paling utama adalah jen, humanitas atau cinta dan I, keseluruhan. Sebagian konsep-konsep itu bersifat metafisik, dan sebagian yang terbesar bersifat etis. Falsafah yang diajarkan itu kemudian dianut dan dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi budaya. (Elizabeth Seeger, Sedjarah Tiongkok Selajang Pandang, Groningen, Djakarta, 1951, Hal 97-110, Lihat juga Harold H Titus dkk, Living Issue In Philosophy, wadsworth Publishing company, California, 1979. hal 484-490). Para ilmuwan sosial mengemukakan suatu rumusan tentang budaya sebagai suatu sistem yang diciptakan secara historis mengenai pola kehidupan, baik eksplisit maupun implisit, yang menjadi tanggungjawab semua pihak atau orang-orang tertentu dari suatu kelompok pada suatu waktu tertentu.(Geert Hofstede,”Cultural dimensions in management and Planning” dalam The asia pasific journal of management edisi Januari 1984)
Karena pengaruh rumusan ini, Geert Hofstede dalam tulisannya mengemukakan, ”kebudayaan merupakan kode pemikiran kolektif yang membedakan anggota-anggota dari suatu kelompok/masyarakat yang lainnya. Meskipun pada dasarnya kebudayaan terdapat dalam pemikiran masyarakat, dalam prosesnya ia akan mengendap atau mengkristal dalam bentuk institusi-institusi dan merupakan hasil nyata dari masyarakat, yang pada gilirannya akan memperkuat program-program mental.
Selanjutnya Hofstede mengemukakan pula,” manajemen dalam masyarakat sangat ditentukan oleh konteks kebudayaannya, karena tidak mungkin dapat mengkoordinasi kegiatan-kegiatan manusia tanpa mengerti mengenai nilai-nilai, kepercayaan dan ekspresi-ekspresi mereka”.
Manajemen, mengikuti jalan pikiran Hofstede, terselenggara dalam bingkai budaya suatu lingkungan yang kemudian mengejawantah dalam institusi yang dikelola. Jika institusi itu bergerak dalam jalur bisnis dan usaha –dalam bentuk suatu perusahaan- nilai-nilai budaya itulah yang kemudian dikenal sebagai budaya perusahaan yaitu budaya atau nilai-nilai yang dibudayakan dalam lingkungan suatu perusahaan. Nilai-nilai dalam wujud suatu sistem rancangan kehidupan dijabarkan melalui collective programming the minds, tampil dalam bentuk sikap dan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan perusahaan lain. Seringkali nilai-nilai itu harus hadir kokoh walaupun menempuh perjalanan sejarah yang dasyat.

Impian yang jadi kenyataan
Merujuk kembali apa yang telah disampaikan rasulullah saw, dalam haditsnya tuntutlah ilmu walaupun hingga negeri China. Ada sebuah hikmah yang bisa dipetik dari seorang Stan Shih seorang direktur dan (Chief Executive Officer)CEO ACER Group.(-dalam sebuah wawancara dengan sebuah media tahun 1990an-). ACER adalah perusahaan yang luar biasa. Perkembangannya sangat cepat. Dari Taiwan mereka mengembangkan perusahaan dalam waktu tidak lebih dari 13 tahun assetnya mencapai US$25.000 dengan 11 tenaga kerja. Dari perusahaan yang sepenuhnya lokal menjadi perusahaan yang multinasional.
Stan Shih menyatakan bahwa sukses yang diraihnya bersumber dari kerja keras yang dipadukan dengan nilai-nilai Tao, Kebajikan sebagaimana yang diajarkan oleh Confucius dan teknologi mutakhir. Perpaduan ini diejawantahkan dalam budaya perusahaan ACER.
Ia berangkat dengan kesadaran penuh akan kondisi faktual bahwa ia mulai beroperasi dengan sumber daya manusia yang seluruhnya China. Ia kemudian berupaya menyelami nilai-nilai aspirasi mereka untuk masa depan. Ia tidak menunggu perusahaannya menjadi besar untuk memikirkan perusahaannya di masa depan. Kalau ia menunggu perusahaannya menjadi besar dulu untuk berpikir ke depan maka akan sulit bagi mereka untuk menempa konsesnsus masa depannya. Ia memulai dari awal. Dapat dipahami bahwa budaya perusahaan yang ditegakkannya adalah budaya perusahaan yang berakar pada budaya dan nilai nilai China. Ia bahkan mengungkapkan secara China dan dengan gaya China pula, agar lingkungan lebih mudah menyerap dan serasi untuk menghayatinya. Orang China menganut pendirian bahwa lebih baik menjadi kepala seekor ayam daripada menjadi buntut seekor sapi. Maknanya lebih baik menjadi bos diperusahaan sendiri yang kecil sekalipun, daripada menjadi bawahan ditempat lain, perusahaan raksasa-sekalipun. Mereka beraspirasi menjadi atasan bukan bawahan, lebih enak jadi juragan dari pada jadi karyawan. Stan Shih menjelaskan dengan mengikuti alur pemikiran prinsip-prinsip manajemen modern dengan cara memlimpahkan wewenang sejauh mungkin kepada bawahan, agar mereka bangga dan senang dengan wewenang itu merasa dirinya menjadi bos bukan karyawan perusahaan. Ia tidak berhenti hanya sampai urusan pelimpahan wewenang urusan pekerjaan saja tetapi juga diberikan hak untuk berinvestasi dan memiliki sebagian besar saham yang dimiliki perusahaan untuk dibagikan pada para karyawannya. Ia sendiri pada tahun 1990an hanya memiliki saham 15%. Sebanyak 70% saham dilepaskannya. Dengan strategi ini ia mengukuhkan persepsi bahwa mereka, baik dari segi wewenang maupun dari segi kepemilikkan, memang majikan pada perusahaan itu. Ia menyebutnya dengan Small boss achievement strategy.
Ada ungkapan China ”zi fu shi guan rong” yang mengandung makna harus bangga apabila kaya. Kaya disini dalam arti kaya yang bertanggungjawab, dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Karena banyak orang yang bangga dengan kekayaannya tetapi tidak bertanggungjawab. Misalnya membanggakan kakayaan yang berlimpah ruah tetapi menghindar dari kewajiban membayar pajak. Ini sangat jauh dari semangat ”zi fu shi guan rong”. Disisi lain dia sisihkan sebagian harta kekayaannya untuk aktifitas sosial.
Ajaran confusius yang dikuatkan oleh Mencius dilaksanakan hampir 25 abad sebagai ajaran budi pekerti. Hal inilah yang berpengaruh dalam perkembangan peradaban China. Sejak tahun 1949 dengan didirikannya Republik Rakyat China oleh Mao tse tung adat kebiasaan masyarakat China jadi berubah. Ajaran Confucius berubah menjadi budaya confucianistis partriarkal( Harold H Titus, hal 484)
Banyak institusi dan perusahaan China menganut sikap budaya demikian, bukan saja yang masih berpangkalan dan beroperasi ditanah leluhur dan sekitarnya, semisal Hongkong, Taiwan, Singapura, tetapi juga yang beroperasi dan berpangkalan di luar jauh dari daerahnya sendiri semisal Amerika Serikat. Umumnya mereka adalah perusahaan keluarga. Dan umumnya pula, mereka berguguran dan rontok satu persatu setelah pandirinya meninggal duania. Usianya hanya satu generasi.
Di Taiwan, Tatung dan Formosa plastics berusaha keras untuk melunakkan kekakuan partriarkal itu dan menyesuaikannya dengan prinsip-prinsip manajeman modern. Stan Shih dengan Small boss achievement strategy yang ditempuhnya sekaligus mengatasi dua sikap budaya, aspirasi menjadi kepala seekor ayam dan memodifikasi wajah kaku partriarkal. Ia tidak sekedar menyimak nilai-nilai budaya tua itu, tetapi juga mencoba menghayati denyut nadi aspirasi kalangan muda. Ditemuinya kenyataan bahwa semua anak China yang berskolah dilingkungan budaya sendiri, nyaris terus menerus dijejali kisah kejayaan China masa lalu, yang memang aktual historis.
Sejarah mencatat bahwa nenek moyang merekalah yang pertama kali menemukan seni cetak-mencetak, pedoman arah mata angin, api yang kemudian lazim disebut lampion, bahkan juga konsep-konsep dasar roket. Dalam konteks itu, anak-anak diindoktrinasi pula bahwa orang China itu lebih hebat dan lebih cerdas ketimbang banyak bangsa lainnya di bumi ini. Indoktrinasi ini berbeda dengan kenyataan yang mereka hadapi, begitu usai sekolah dan terjun kemasyarakat.
Stan Shih juga mengalami indoktrinasi serupa. Ia juga dijejali kisah kejayaan masa lampau yang kemudian melahirkan mimpi-mimpi aspiratif generasi baru china. Impian-impian itulah yang kemudian bisa menjadi kenyataan. Dikumpulkannya sejumlah tenaga-tenaga muda yang memiliki semangat kerja dan berbakat untuk bergabung, diupayakannya agar mereka bekerja sama secara terpadu dan terangsang untuk mencapai sasaran yang harus dituju dan terus ditingkatkan. Sasaran itu memang terasa terlalu tinggi. Untuk mengatasi perasaan kurang berdaya itu, ia ciptakan sasaran sedang yang difungsikan sebagai motivator untuk mengatasi perasaan kurang berdaya tersebut. Begitu mereka mampu melampaui tunggak sasaran selang itu, sasaran akhir yang semula dirasa berat dan terlalu tinggi untuk diraih, tidak lagi terasa diluar jangkauannya. Disisi lain, kemampuan melampaui sasaran menghadirkan kenikmatan dan kepuasan, ia mencoba merealisasikan impian itu dalam lingkungan ACER sebagai budaya kerja.
Cukup banyak terdapat ilmuwan dan perusahaan China yang merekayasa membantu perusahaan-perusahaan Amerika mengembangkan produk-produk teknologi tinggi. Demikian juga dengan negeri kita tercinta Indonesia, cukup banyak tenaga-tenaga ahli yang dikontrak perusahaan asing untuk memajukan perusahaannya.Mengapa mereka tidak bisa melakukan pekerjaan itu di negeri sendiri? Menurut Stan Shih, bukan sisi teknologinya yang menentukan tetapi lebih pada segi keterpaduan kerjasama dan pada manajemen yang modern, termasuk sumber daya manusianya yang cukup mendukung.
Diyakininya bahwa, sebagaimana terbukti selama ini, perusahaan China yang dikelola secara tradisonal tidak akan mampu melakukannya. Namun, perusahaan China yang memadukan nilai-nilai tradisi China dengan prinsip-prinsip manajemen modern, akan mampu meraihnya. Sejarah memang kemudian mencatat, Stan shih dengan ACERnya berhasil mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. Stan Shih berhasil menempa suatu budaya perusahaan dengan memadukan nilai-nilai budaya China yang sudah lapuk usia dengan manajemen modern. Pencapaiannya itu dirangsang dengan motivasi mewujudkan impian yang aspiratif, sehingga menjadi kenyataan.

MOTIVASI
Stan Shih, yang menyimak dan menafsirkan secara tepat falsafah yang dianut kebanyakan orang china, yang lebih baik menjadi kepala seekor ayam daripada buntut seekor sapi, berhasil menghadirkan motivasi dengan pelimpahan wewenang sepenuhnya kepada para bawahannya termasuk merelakan sebagian besar saham-saham yang dimilikinya sehingga disusunnya Small boss achievement strategy.
Perasaan turut memiliki perusahaan yang ditegakkan Stan Shih melalui Small boss achievement strategy memberikan teladan rela berkorban sebagaimana jaminan masa depannya, seiring dengan maju berkembangnya perusahaannya. Perusahaan akan maju berkembang jika mereka terus mampu meningkatkan produktifitas.
Peter F Drucker menyatakan; teori ekonomi mengasumsikan bahwa tujuan kebijakan ekonomi adalah mencapai equilibrium, atau keseimbangan. Dipahami bahwa orang tidak mungkin mencapai suatu posisi keseimbangan yang stabil. Perekonomian adalah bagaikan sepeda yang hanya dapat seimbang apabila dalam kondisi berjalan. Produktifitaslah yang menjadi pusat penggeraknya(Drucker, 1980)
Sementara itu, sebuah penelitian lain mengungkapkan bahwa efisiensi, efektifitas dan nilai adalah faktor-faktor kunci yang terkait dengan produktifitas. Kerja dapat menjadi lebih efisien. Tetapi jika dikerjakan dengan kadar efektifitas yang rendah, kerja hanya akan menghasilkan sedikit nilai atau bahkan tanpa nilai sama sekali. Sebaliknya kerja bisa jadi efektif dan bernilai, namun dilaksanakan sangat tidak efisien.
Pohon pisang tumbuh bergerak. Dalam gerakan tumbuhan ini hadir keseimbangan. Dari kecil hingga besar dan menumbuhkan pisang yang siap dipanen, hingga siklus ini genap dengan kematian, sementara itu sudah diproses generasi selanjutnya. Apakah yang menjadi penggeraknya ? Penggeraknya, sebagaimana dinyatakan oleh Drucker, adalah produktifitas, yang faktor-faktor kuncinya tampil dalam wujud yang efisiensi, efektivitas dan nilai. Semuanya hadir pada pohon pisang yang perilakunya bisa disimak dan dibaca, kemudian dituangkan dalam butir-butir yang dirangkum menjadi falsafah usaha yang melandasi suatu budaya perusahaan, yang pada gilirannya mampu menumbuhkan dan merangsang motivasi.
Contoh yang lain adalah Matsushita, seorag pengusaha dari jepang yang sukses. Ia menganut falsafah air mengalir yang antara lain menyandang tabiat selalu berpermukaan rata, selalu mengalir ke tempat yang rendah dan berfungsi menghadirkan kehidupan. Dengan falsafah air mengalir ini Matshushita mampu menghadirkan budaya perusahaan yang memotivasi para karyawannya untuk bekerja lebih efektif dan efisien.
Prestasi sedemikian tentunya didukung oleh suatu budaya perusahaan yang tangguh pula, yang mampu menghadirkan motivasi untuk selalu berprestasi selangkah lebih maju, selalu mengejar perbaikan, selau berupaya agar masyarakat pelanggan terpuaskan. Kalangan bisnis Jepang, yang nyaris dalam segala sektor bisnis selalu berhasil mengungguli saingan-saingan mereka di barat, menganut falsafah dasar yang melandasi budaya perusahaan masing-masing secara umum, yang disebut kaizen, yang berarti perbaikan yang bersifat terus-menerus mencakup semua pihak, manajemen dan non-manajemen. Kaizen kemudian tampil dalam berbagai wajah seperti TQC (Total Quality Control) atau Concepts QCC (Quality Control Circles Concepts)dan segala konsep lain yang ditajamkan di Jepang, yang sering kali dianggap sumber bagi kemampuan Jepang untuk selalu mengungguli saingan mereka.TQC dan lain-lain ini hanyalah fase-fase, yang inti dasarnya adalah kaizen. Motivasi terhadap kaizen ini ditumbuhkan oleh budaya masing-masing. (Okusa, F.TQC-For What Purpose?.Hinshitsu Kanri (Total Quality Control),Tokyo, 1985,Vol 36, hal 88 )(Lihat Tabel 1)
Kesimpulannya bahwa budaya perusahaan yang berlandaskan falsafah air mengalir di kelompok Matshushita mampu menumbuhkan motivasi untuk ber-kaizen sedemikian rupa sehingga, melalui TQC atau QCC atau cara dan gaya lain, mereka menjadi terbesar.

Manajemen Dalam Al Qur’an
Pada awal pembahasan tulisan ini telah dikemukakan alur pemikiran Geert Hofstede yang pada intinya menyatakan bahwa manajemen terselenggara dalam bingkai budaya suatu lingkungan, yang kemudian mengejawantah dalam institusi yang dikelola. Jika institusi yang dikelola itu adalah perusahaan, budaya itu dikenal sebagai budaya perusahaan. Nilai-nilai merupakan landasan dan inti bagi tiap budaya perusahaan, sebagai pintu masuk bagi falsafah yang disandang perusahaan dalam rangka upaya mencapai keberhasilan. Nilai-nilai menghadirkan suatu kesadaran akan adanya arah dan tujuan bersama bagi setiap karyawan. Ia juga menghadirkan petunjuk atau arahan bagi perilaku harian mereka. Dalam QS Al Baqarah; 30 Allah berfirman;
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Selanjutnya, pada QS Fatir;39 Allah berfirman;
39. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Kedua ayat tersebut, ditambah beberapa ayat lagi, menyatakan fungsi manusia di muka bumi . Ia adalah khalifah fil ardh . Dalam fungsi dan posisi itu, manusia menerima limpahan wewenang dari Allah dan bertanggungjawab kepada-Nya. Terdapat suatu garis vertikal antara makhluk dan Khaliq. Garis vertikal tersenut lazim disebut habl min Allah.
Karena manusia bergaul dengan sesamanya, terdapat garis horisontal antara sesama manusia, yang lazim disebut habl min al-Nas. Dalam fungsinya sebagai khalifah, manusia bertanggungjawab secara pribadi kepada Allah. Wewenang dapat dilimpahkan, tetapi tanggungjawab, tegas dan jelas tidak!
Selanjutnya dalam keterangan Hadits disebutkan; tiap kamu adalah pemimpin, akan diminta pertanggungjawaban kelak atas apa yang kamu pimpin. Dalam manajemen sebagai proses, kepemimpinan termasuk dalam fungsi dasar pengorganisasian . (Lihat Tabel 2)
Walaupun posisinya terletak pada jalur sub-fungsi, pada hakekatnya kepemimpinan (Leadership) berperan sangat penting bagi keberhasilan proses manajemen. Bukankah orang, jika berbicara tentang manajemen, terutama yang mengacu pada pola pokok manajemen yang berlandaskan konsep barat, selalu berpegang pada adagium bahwa, ”Management is getting things done through people” (manajemen adalah mengupayakan agar sesuatu dapat terlaksana melalui orang lain)?.
Adagium ini menyiratkan peranan sentral yang disandang oleh kepemimpinan dalam proses manajemen. Namun jika disimak lebih cermat, adagium inipun mengandung cacat yang melekat pada dirinya terutama jika disandingkan pada hadits tentang kepemimpinan. Konsep ini sesuai dengan konsep khaifah fil ardh, khalifah Tuhan di bumi. Setiap manusia adalah khalifah. Konsep ini mengandung pengertian yang sangat mendasar, yang menegaskan bahwa manajemen berawal dari diri sendiri. Tidak perlu ada orang lain, baru ada manajemen. Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa manajemen yang islami, yang mengacu pada petunjuk-petunjuk dari firman dan lingkungannya, hadits dan perilaku Rasulullah adalah manajemen yang bertolak dari dirinya sendiri terlebih dahulu.
Bukti-bukti sejarah disekelilig kita banyak sekali menampilkan kenyataan tentang kegagalan tokoh-tokoh masyarakat yang dikagumi sebagai pemimpin, namun akhirnya hancur ditelan kegagalan kepemimpinannya sendiri, karena tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri lebih dahulu. Sebaliknya tokoh yang mampu mengelola dirinya sediri terekam oleh sejarah sebagai pemimpin yang berhasil hingga akhir hayatnya.
Merujuk pada uraian-uraian terakhir tentang manajemen dan firman Allah dalam al Qur’an dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen yang islami adalah manajemen khalifah Allah fil ardh, yang berpegang pada tali vertikal kepada Allah dan tali horisontal kepada sesama manusia, dan yang memperoleh limpahan dan wewenang yang berasal dari sumber segala sumber wewenang yaitu Allah aza wajala. Disini seseorang dapat memperoleh limpahan wewenang yang dapat pula melimpahkannya, tetapi tetap bertanggungjawab secara pribadi dan tidak dapat melimpahkan tanggungjawabnya.

Menuju lebih baik dan mencegah Keburukan
Nilai-nilai –sebagaimana yang telah dibicarakan- adalah inti budaya perusahaan. Lebih tepat lagi jika disebut sebagai nilai-nilai yang disepakati, shared values. Suatu budaya perusahaan yang ditegakkan dalam manajemen yang islami tentu saja harus berintikan nilai yang disepakati yang islami. Nilai-nilai yang bersumber dari ajaran Al Quran dan hadits, yang kemudian terjabar melalui struktur yang berlandaskan konsep pelimpahan wewenang yang bersumber pada Tuhan dengan tanggung jawab pribadi yang tidak dapat dilimpahkan, dengan ketrampilan yang pantas untuk menyandang predikat sebagai khalifah fil ardh, sistem yang berpegang pada dua tali yakni tali vertikal dan tali horisontal, dan diarahkan untuk mencapai sasaran dengan strategi amar ma’ruf nahy munkar, bukan strategi yang menghalalkan segala cara. (lihat Tabel 3)
Merujuk pada kerangka ini, mungkin sekali jika dikaji secara mendalam dan rinci, budaya perusahaaan yang ditegakkan Stan Shih dilingkungan ACER adalah yang menyandang karakteristik dasar yang berjiwa Islami, sedangkan islam minimal melafadzkan dua kalimat syahadat.
Dengan demikian budaya perusahaan yang berakar pada budaya manapun, sejauh ia memnuhi kriteria diatas, ia bersifat islami, dalam pengertian ia sejalan dengan konsep-konsep Islam dalam menegakkan perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan bisnis. Pada awal tulisan ini dikemukakan teladan Rasulullah dalam menegakkan kegiatan bisnis. Teladan itu sepenuhnya sesuai dengan teori yang 14 abad kemudian dikemukakan oleh Peter F drucker, bahwa the main purpose of every business enterprise is no more profit maximization. It is to create customer. Teori Drucker tentang tujuan menegakkan kegiatan bisnis adaah juga islami.
Kemudian pernyataan yang timbul adalah dimana letak kedudukan budaya perusahaan yang menganut falsafah pohon pisang dan air mengalir yang telah direnungkan oleh Matshushita. Jelas ia bertolak dari penghayatan terhadap posisi manusia dibandingkan dengan makhluk lain, sebagaimana diajarkan oleh QS At Thin ayat 4. Segalanya kemudian dikembalikan pada posisi dasar yang komparatif ini. Ia jelas Islami, bahkan ia adalah Islam yang direfleksikan oleh budaya perusahaan.
Dengan demikian pula kita dapatkan; budaya perusahaan ACER digali dari nilai-nilai budaya China dan aspirasi generasi muda China yang mungkin Islami.
Akhirnya barangkali melalui kerangka acuan yang telah diuraikan terdahulu orang akan dapat menjawab sendiri pertanyaan; namakah yang lebih baik bekerja di suatu lingkungan dengan budaya perusahaan yang islami, tetapi tidak Islam dengan bekerja di suatu lingkungan yang formal islam tetapi dengan budaya kerja yang tidak Islami atau diragukan kadar islamnya.Wallahu a’lam.
Referensi;
Elizabeth Seeger, Sedjarah Tiongkok Selajang Pandang, Groningen, Djakarta, 1951
Geert Hofstede,”Cultural dimensions in management and Planning” dalam The asia pasific journal of management edisi Januari 1984
Harold H Titus dkk, Living Issue In Philosophy, wadsworth Publishing company, California, 1979
John L Esposito, Ensiklopedia Oxford dunia Islam modern jilid 2,Mizan, Bandung, 2001
Muhammad Husein Haikal, Sejarah hidup Muhammad, Litera Antar Nusa, Jakarta, 1992
Okusa,TQC-For What Purpose?, Hinshitsu Kanri (Total Quality Control),Tokyo, 1985
Peter F Drucker,The Age of productivity, Heinemann, London, 1980

Tabel 1
Perbandingan Manajemen antara ACER dan Matshushita
Kelompok ACER -Menggali nilai-nilai budaya kuo China dan menjabarkannya menjadi manajemen modern -Mewujudkan impian menjadi kenyataan
Kelompok Matshushita (falsafah air mengalir) -Dengan falsafah air mengalir memotivasi segenap jajaran karyawan agar ber-Kaizen melalui TQC dan lain-lain -Mengungguli saingan dan menjadikan Jepang sebagai yang terbaik

Tabel 2
Fungsi Manajemen
Fungsi-fungsi dasar pada manajemen sebagai proses Fungsi dasar perencanaan
Fungsi dasar pengorganisasian Fungsi Strukturisasi (Penyusunan Struktur Organisasi)
Fungsi Pengawasan (Staffing)
Fungsi Pengarahan(directing) yang terdiri dari subfungsi kepemimpinan dan subfungsi motivasi
Fungsi Pengarahan /aktuasi

Tabel 3
Budaya Perusahaan yang Islami
Nilai yang disepakati Nilai –nilai yang bersumber pada al quran dan Hadits
Struktur Berkonsep dasar pelimpahan wewenang bersumber pada Tuhan yang dapat dilimpahkan berjenjang, dengan tanggungjawab yang tak dapat dilimpahkan
Ketrapilan Yang pantas untuk posisi dan fungsi khalifah Allah fil ardh
Sistem Yang berpegang pada tali vertikal dan tali horisontal
Strategi Berdasarkan konsep amar ma’ruf nahi Munkar (buka bertujuan menghalalkan segala cara)

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s