MEMAHAMI ETIKA AL QURAN

Book Review
Judul Buku : Konsep-konsep etika Religius dalam Qur’an
Judul Asli : Religious Concept in the Qur’an
Penulis : Thoshihiko Izutsu
Penterjemah : Agus Fahry Husein, dkk
Penerbit : PT. Tiara Wacana
Tebal : xiv + 324 hal
Peresensi : April Purwanto

MEMAHAMI ETIKA AL QURAN

Tulisan ini merupakan catatan singkat tentang pokok-pokok inti buku Thoshihiko Izutsu Ethico –Religious Concept in the Qur’an diterbitkan oleh McGill University, Montreal, 1966 dalam dua edisi terjemahan bahasa Indonesia, yang say abaca terjemahnya; 1. Konsep-konsep etika Religius dalam Qur’an, diterjemahkan oleh Agus Fahry Husein dkk., penerbit PT. Tiara Wacana, Yogyakarta, 1993, dan 2. Etika Beragama dalam Qur’an, diterjemahkan oleh Mansuruddin Djoely, penerbit Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993. Saya tidak bermaksud memperbandingkan kedua terjemahan tersebut. Yang ingin saya kemukakan isi dan jangkauan buku ini.

Pendahuluan
Yang pertama muncul dalam hati saya adalah sebuah pertanyaan, mengapa buku ini yang saya pilih untuk didiskusikan pada mata kuliah “Pendekatan dan Pengakjian Islam” ini. Ketika tengah membaca buku ini timbul kesan bahwa pokok persoalan demikian dalam garis besarnya sudah pernah kit abaca dalam beberapa literature tafsir al Qur’an. Tetapi setelah dibaca lebih lanjut, ternyata ada hal yang menarik dalam buku ini. Pengkhususannya ada pada masalah etika, yang pada dasarnya sebagian merupakan perbandingan antara etika sekuler, yang dalam al ini diambil dari etika jahiliyah, dengan banyak mengacu pada syair-syair dan adat istiadat Arab pra Islam dengan etika keagamaan dengan dalil-dalil yang diambil dari Qur’an.
Disamping itu, yang tak kurang pula pentingnya, sistematika dan cara pembahasannya, meskipun tafsir yang digunakan oleh penulis tampaknya terbatas pada tafsir al Baydawi dan tafsir ar Razi, serta satu-satunya terjemahan al Quran dala, bahasa Inggris oleh Pickthall. Kepustakaan berbahasa Arab juga tidak seberapa. Dia lebih banyak memakai literature barat dan tidak banyak mengacu pada penulis-penulis muslim, apalagi yang muasir.Tetapi mudah-mudahan ini bukan karena pengaruh kesombongan sebagian diantara para orientalis.
Untuk membicarakan buku ini lebih detail, barangkali kita juga perlu membaca buku yang lain oleh pengarang ini, yaitu God and Man in the Qur’an, sebab sepanjang tulisannya itu banya mengacu kepada buku tersebut.
Etika Al Qur’an
Sebagai patokan etika al Qur’an mula-mula penulis memadukan dengan rumusan ahli fikih al ahkam al khamsah sebagai titik tolak dengan istilah yang sudah diabakukan.
Peristilahan etika zaman jahiliyah, mendapat pengertian yang sebaliknya pada masa Islam. “Rendah hati”, “penyerahan diri”, dan sebagainya dalam pengertian jahiliyah dianggap memalukan, hina, tidak pantas,Kata-kata seperti “sombong”, “kerans hati” , “membangkang” diangap baik. Apa yang dinilai oleh jahiliah baik oleh Islam dinilai buruk, dengan suatu penafsiran, rasional. Jadi terjadi proses islamisasi dalam pengertian ini. /tetapi disamping itu juga ada nilai-nilai yang oleh keduanya dipertahankan, seperti pengertian “murah hati” atau “keberanian” misalnya. Karam jahiliyah yang hanya berarti “pemurah”, dalam Islam lebih luas pengertiannya; “pemurah” “taqwa”,”mulia”. Batasan tentang “jahiliyah” diuraikan baik sekali.
Pra-Islam membanggakan budak dan istri banyak, dalam Islam dihapus secara berangsur-angsur dan jumlah istri dibatasi, yang secara tersirat satu istri.
Penafsiran yang pada mulanya merupakan pendekatan linguistic ini dapat kitalihat dalam menguraikan pngertian “jahiliyah” misalnya, yan selama ini sering disamakan dengan “kebodohan” atau lawan dari “ilmu”, telah didudukkan ke dalam pengertian yang sebenarnya, yakni hilm, bijaksana, insight, reason, understanding dengan contoh-contoh derivasinya; jahil, tajahala dan seterusnya yang membawa konotasi negative; “sombong”, “pemarah”,”syirik”, “keras kepala”, “tak dapat menahan nafsu” dan semacamnya. Sebagai ciri khas pembahasan, istilah ini rupanya lebih dikhususkan, yang selain dalam pengertian linguistic, dalam pengertian religiusnya dicoba dengan mengutip ayat-ayat al Qur’an. Uraiana yang cukup panjang ini mungkin akan dijadikan dasar uraian selanjutnya.
Dari pendahuluan sampai BAB II masalah semantic kata mendapat porsi cukp banyak, seperti persamaan dan perbedaan antara “mukmin”, “kafir”, “fasik” atau antara “iftara”, “kazb”, “azlama” atau antara kafir dengan “zalim” dan “fasik” dengan mengutip ayat-ayat seperti;
ومن لم يحكم بماانزل الله فأولائك هم الكفرون
ومن لم يحكم بماانزل الله فأولائك هم الظالمون
ومن لم يحكم بماانزل الله فأولائك هم الفاسقون
Dengan mengutip الا غانبي penulis membahas masalah moralitas Arab pra Islam; keyakinan hidup hanya untuk di dunia (al Furqon;24), tidak ada kebangkitan sesudah mati (al An’am; 29, al Mukminun;83, Qaf;23) dan seterusnya dengan mengacu pda syair-syair yang ada pada waktu itu. Lalu bicara soal khulud. Tetapi ada juga beberapa pemikir diantara yang ingat akan kefanaan dunia, seperti yang diingatkan al Qur’an berulang-ulang sebagaimana syair-syair Abid al Abras. (Sebenarnya yang lebih terkenal penyair Umayya bin Abis’ Salt, yang kata Rasulullah syairnya sudah beriman, tetapi hatinya kafir). Hedonism pada peyair Tarafah dan Labid bin Rabiah.
Suasana kehidupan rohani jahiliyah menurut al Qur’an, kegembiraan dan mengabaikan agama (al An’am;70, al A’raf;51)
وذر الذين اتخذوادينهم لعباولهواوغرتهم الحياة الدنيا
Tidak semua adat dihilangkan. Tetapi kesukuan benar-benar diberantas. (saying pada masa Abbasiyah timbul unsur Syu’ubiyah atau rasialisme yang cukup kental). Kesetiaan kesukuan pada masa jahiliyah sangat diagungkan, seperti kisah Samawa’il. (seharusnya Samaw’il yag beragama Yahudi). Dalam Islam kesetiakawanan atau al wafa’ dipertahankan.
Taqwa atau takut kepada Allah sebagai dasar agama, dalam pengertian demikian tidak dikenal pada masa jahiliyah.
Uraian seterusnya penulis banyak membandingkan arti istilah-istilah dalam Qur’an dalam pengertian sinonim dan antonym, pra islam dan masa Islam, seperti kata ;
الصدق والافتراء,والوفاء, الامانة, الكذب والخيانة dst
Arti “sabar” dan “tabah” lawan “jaz”. Dikotomi “mukmin” dan “kafir”, “hak” dan “bathil”, cukup meyakinkan.
Pembahasannya mengenal pengertian “surga” dan “neraka” tidak menarik. Tak ada pedalaman filosofis, selain menguraikan tantang pengertian TWB (توب)dan AWB (اوب) yang konfensional dari segi semantic, dengan mengutip beberapa ayat Qur’an tanpa menyebut referensi yang dapat dipandang lebih otentik.
Dalam menguraikan istilah-istilah bahasa Arab Quran selanjutnya , sering punya pengertian semantic sangat khusus seperti yang telah diuraikannya dalam BAB XI. Meskipun disertai kutipan-kutipan ayat Qur’an, saya rasa buku-buku acuan yang dipakai tidak terlalu tepat. Izutsu hanya memakai kamus-kamus bahasa umum saja, seperti معجم مقايس اللغة oleh Ibn Faris, atau الذبيدى/تاج العروس dan محيط المحيط oleh البستانى dan kamus Edward Lane An Arabic-English Lexicon yang sangat terkenal itu, skalipun secara keseluruhan menurut hemat saya tak tampak kesalahan semantic yang mencolok. Kedua nama yang disebut belakangan ini bukan muslim, yang sudah tentu dalam pengertian al Qur’an kurang dapat dihayati sebagaimana mestinya. Dalam studi yang cukup penting ini saya ras diperlukan “alat-alat” yang lebih “tajam”. Memang ada di bagian lain ia menyebut juga kitab تفسير الكبير/الرازي dan Hasan Basr melalui Ritter, khusus ketika menguraikan “nifak”, “thayyib”, “khabis”, “halal” dan “haram” tentang makanan/ minuman, tetapi rasanya jauh dari memadai.
Ada kelanjutannya, yang saya rasa harus didiskusikan, yaitu mengenai etika “yang netral”, atau yang belum diketahui halal haramnya, atau karena terpaksa. Etika lain yang penting sekali dalam Islam, oleh penulis tidak disinggung, yakni etika NKH ( ن ك ح ) berikut derivasinya. Etika ini sangat besar artinya dalam hubungan suami istri serta akibatnya dalam pertalian kekerabatan uumnya yang luas; anak keturunannya, waris dan hokum-hukum sampingan yang berlaku selanjutnya; zina, zihar, dan lain-lain. Semantic nakaha dalam etika agama serta akibatnya, dan perbedaanya dengan etika sekuler. Etika kekeluargaan dalam Islam sangat diperhatikan, dan sepatutnya ini menjadi bahan kajian yang serius sebagai suatu struktur social yang sangat menentukan. Kedudukan perempuan pra Islam dan di masa Islam. Akibat selannjutnya, janda, duda dan anak yatim. Dalam hubungan social semua ini menyangkut maslaah besar sebagai suatu etika yang oleh Islam sudah dilembagakan.
Tentang pengertian “rizq” (sustenance) terasa terbatas pada pengertian lahir, materi, tidak diuraikan pengertiannya yang lain, pengertian ruhani dan mental.
Penulis sudah membahas bagus sekali mengenai ” bak dan buruk” seperti disebutkan di atas, sebagai istilah al Qur’an.
Sekadar perandingan saya ingin mengutip pengertian FSQ ( فسق ) ini sebagai salah satu contoh. Dalam buku-buku referensi al Qur’an diuraikan dalam beberapa pengertian, ringkasnya sebagai berikut; المعنى اللغوى والخسى والمادي yang pada masa jahiliyah kata ini tidak dikenal, baik dalam syair atau dalam percakapan. Dalam syariat Islam berarti fashiyah dan tidak taat kepada Allah. Kata ini dianggap kosa kata Islam. Dalam al Qur’an artinya lawan Iman;
1. kufr وما يكفربهاالاالفاسقون
2. nifaq ان المنافقين هم الفاسقون
3. dalal فمنهم مهتد وكثتد منهم فاسقون
(معجم الفاظ القرآن الكريم) dan sekian banyak lagi contoh lain, yang dapat membentuk perbedaan etika jahiliyah dan Islam.
Ada kesan selah penulis melihat al Qur’an dan Islam dalam jakauannya yang terbatas, hanya di jazirah Arab serta dunia pemikiran dan lingkungan orang Arab masa itu.
Penulis tidak menyinggung cara al Qur’an beretika, yakni bahwa dalam al Qur’an tidak terdapat kata-kata kotor dan jorok, sekalipun yang berhubungan dengan soal seks. Perlu dibandingkan puisi-puisi masa jahiliyah dan kebiasaannya.
Pada umunya para ahli dalam mengartikan kata-kata dan istilah-istilah dalam al Qur’an mengacu pada buku-buku referansi besar seperti مفردات فى غريب القرآن/ الاسفهانى (yang kemudian diganti judulnya menjadi مفردات الفاظ القرآن ) atau yang lebih khusus lagi dengan pengertian yang lebih luas dan lebih dalam, yaitu معجم الفاظ القرآن الكريم dan kalau akan mengacu pada kamus-kamus umum juga jelas yang akan di pakai ابن منظور/لسان العرب atau المعجم اللغوى التاريخى . demikian juga mengenai tafsir-tafsir al Qur’an jika hendak mengacu kepada bahasa dan seluk beluknya, saya rasa tidak mungkin orang meninggalkan tafsir al kasyaf oleh Zamakhsary. Semua ini tidak terdapat dalam daftar pustaka buku Izutsu. Bukan tidak mungkin ini dapat menimbulkan kerancuan. Seperti kita ketahui, untuk mempertanggungjawabkan ilmiah, buku-buku referensi sering ikutmenentukan juga.
Izutsu tidak banyak mengacu pada hadits Nabi SAW, untuk mendukung pendapatnya itu; kalaupun ada, sedikit sekali, dengan menggunakan syarah shohih bukhory yang terbatas dalam memberikan definisi, bukan nihayah oleh Ibn Katsir.
Bagaimanapun juga uraian-uraiannya mengenal istilah-istilah itu dari segi fisiologi memang mendalam dan cemerlang,seperti dalam BAB II sama halnya dengan BAB VII dari segi “konsep struktur bathin” dihadapkan dengan pengertian “iman” dan ” syakur”. Semua itu diperkaya dengan beberapa contoh dari sejarah.
Dalam penulisan tafsir al Qur’an, saya rasa buku iniakan berguna sekali jika dijadikan salah satu bahan referensi.
Pada penutup bukunya ini penulis menjanjikan penulisan buku lain secara semantic- yang masih ada hubungannya dengan buku ini. Mengenai etika Al Qur’an di Madinah yang banyak membicarakan kehidupan komunitas.
Penutup
Akhirnya kita bicara juga selntas tentang kita sendiri. Apa kesan kita setelah membaca buku ini?. Kita kagum pada “penemuan” dan cara pembahasannya, sebagai seorang pengkaji bukan musim. Tetapi apa yang bias kita lakukan setelah itu ? . Tentu bukan hanya sekedar mengagumi hasil kajiannya. Adakah kita juga terangsang hendak melakukan hal yang sama, artinya kitapun akan mampu, kalau kita mau bersungguh-sungguh dan focus ?
Pembahasan dalam buku ini hendaklah dapat memacu kita, terutama para cendekiawan muslim untuk lebih bersunguh-sungguh memahami isi al Qur’an dengan penalaran yang lebih jernih dan rasional, untuk memahami keadaan umat Islam Indonesia dan aspirasi Islam yang sebenarnya, bukan membuat konsep-konsep semu. Rasanya kurang pantas bila kalangan akademisi muslim hanya punya pemikirn kecil – terbatas pada lingkungan yang ada hubungannya dengan persoalan global dan lebih besar yang harus dihadapinya, terutama untuk menghadapi masa-masa yang akan datang.

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke MEMAHAMI ETIKA AL QURAN

  1. tami berkata:

    thanks a lot. tulisan tentang terjemahan Ethico Religious in the Qur,an ini sangat membantu saya dalam tugas membuat paper. ada kelanjutannya tidak

    • pistaza berkata:

      Tulisan ini hanya sebatas komentar terhadap tulisannya Toshihiko Isutsu yang berjudul Ethico-Religious Concept in The Qur’an yang diterbutkan oleh Mc Gill University Press pada tahun 1966. Dalam Edisi bahasa Indonesia sudah diterjemahkan oleh Agus Fahri Husein, dkk dengan Judul Konsep-konsep Etika Religius dalam al Qur’an diterbitkan oleh Tiara Wacana, Yogyakarta. tahun 1993. Anda bisa membaca buku tersebut untuk lebih memahami ringkasan tulisan tersebut diatas.. Terima kasih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s