PEMIKIRAN EKONOMI IBNU KHALDUN

A. PENDAHULUAN
Salah satu ajaran yang mengatur kehidupan manusia adalah aspek kehidupan (muamalahiqati shodiyah). Ajaran Islam tentang ekonomi cukup banyak, baik dalam Al Qur’an, Sunnah, maupun ijtihad para ulama. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian Islam dalam masalah ekonomi sangat besar, ayat yang terpanjang dalam Al Qur’an justru berisi tentang masalah perekonomian, bukan masalah ibadah (mahdah) atau aqidah. Ayat yang terpanjang itu adalah ayat 282 dalam surat al-Baqarah, yang menurut Ibnu ‘arabi ayat ini mengandung 25 hukum/masalah ekonomi .
Pada masa kenabian & kekahalifahan, Islam menguasai semua bidang termasuk di dalamnya ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya, disisi lain ternyata abad kegelapan yang dialami oleh dunia barat ternyata berbanding terbalik dengan perkembangan keilmuan pada dunia Islam. Pada masa tersebut adalah masa keemasan Umat Islam, dimana banyak ilmuan muslim yang menulis, meneliti, dan menghasilkan teori-teori ekonomi yang hasilnya hingga sekarang masih relevan untuk dipelajari dan diterapkan .
Beberapa ilmuan muslim yang berhasil menghasilkan karya fenomenal pada teori ekonomi diantaranya adalah Ibnu Taimiyyah, Ibnu Rushd, Ibnu Kholdun, al-Ghazali dan masih banyak lagi. Pada pembahasan masalah ini Penulis akan lebih spesifik membahas mengenai pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun, dan bagaimana implikasinya terhadap perekonomian sekarang ini terutama perekonomian di Indonesia.

B. PEMBAHASAN
1. Biografi Ibnu Khaldun
Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Wali Ad-Din’ Abd Al-Rahman Ibn Muhammad Ibn Al-Hasan Ibnu Al-Jabir, Ibnu Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Al-Rahman Ibn Khaldun. Ulama ini lahir di Tunisia pada tahun 1332 M dan meninggal di Mesir tahun 808 H/1406 M. Leluhurnya berasal dari Hadramaut, Yaman. Mereka hijrah ke Spanyol pada abad ke delapan bersamaan gelombang penaklukan Islam di Semenanjung Andalusia.
Bani Khaldun lahir dan tumbuh di kota Qaramunah di Andalusia. Disana ia menetap bersama kakeknya, Khalid bin Usman. Keluarga ini pertama kali dikenal dengan disebut-sebut setelah Daulah Muwahidin yang menguasai Andalusia lemah. Ayah Ibnu Khaldun seorang ulama yang ahli dalam ilmu agama. Banyak dintara keturunannya menjadi ulama terkemuka di Magribi dan Andalusia. Diantaranya adalah Umar bin Khaldun (wafat 3 abad sebelum lahirnya Ibnu Khaldun) yang terkenal dalam ilmu matematika dan astronomi. Seluruh nenek moyangnya merupakan orang-orang istana yang pandai dan mereka juga seorang ilmuwan yang bekerja di Istana Hafsid di Bone dan Tunisia.
Ibnu Khaldun hidup pada masa antara 1332-1405 M ketika peradaban Islam dalam proses penurunan dan disintegrasi. Khalifah Abbasiyah diambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun. Dinasti Mamluk (1250-1517), selama periode kristalisasi gagasan Ibnu Khaldun hanya berkontribusi pada percepatan penurunan peradaban akibat korupsi dan inefisiensi yang mendera kekhalifahan, kecuali pada masa awal-awal periode pertama yang singkat dari sejarah kekhalifahan Mamluk. [Periode pertama Bahri/Turki Mamluk (1250-1382) yang banyak mendapat pujian dari tarikh, periode kedua adalah Burji Mamluk (1382-1517), yang dikelilingi serangkaian krisis ekonomi yang parah].
Sebagai seorang muslim yang sadar, Ibnu Khaldun tekun mengamati bagaimana caranya membalik atau mereversi gelombang penurunan peradaban Islam. Sebagai ilmuwan sosial, Ibnu Khaldun sangat menyadari bahwa reversi tersebut tidak akan dapat tergambarkan tanpa menggambarkan pelajaran-pelajaran dari sejarah terlebih dahulu untuk menentukan faktor-faktor yang membawa sebuah peradaban besar melemah dan menurun drastis.
Sejak kecil Ibnu Khaldun telah belajar menghafal Al-Qur’an, dan ilmu pengetahuan lain dari guru-gurunya. Tempat belajar Ibnu Khaldun, yaitu masjid Al-Quba. Ayahnya adalah guru pertama yaitu kewajiban orang tua mengurus pendidikan anaknya sebaik mungkin. Kemudian Ibnu Khaldun mempelajari bahasa pada sejumlah guru kemudian ia belajar tentang hadits, fiqh, dan ilmu-ilmu rasional/filosofis yakni teologi, logika, ilmu-ilmu kealaman, matematika dan astronomi.
Pendidikan formal tersebut hanya sempat ditempuh sampai usia 18 tahun karena ketika Ibnu Khaldun berusia 18 tahun terjadi 2 peristiwa penting yang menyebabkan berhenti belajar secara formal. Pada tahun 789 H/1349 M disebagian besar belahan timur dan barat terjangkit wabah penyakit pes ganas. Dalam bencana itu Ibnu Khaldun kehilangan orang tuanya dan sejumlah guru-gurunya.
Dalam usia yang relatif muda Ibnu Khaldun telah menguasai berbagai disiplin ilmu Al-Aqliyyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan metafisika). Dalam bidang fiqh dia berafiliasi ke mazhab maliki. Disamping itu dia tertarik pada ilmu-ilmu sosial termasuk ilmu pendidikan. Setelah itu, Ibnu Khaldun memasuki masa belajar mandiri, Ibnu Khaldun mendalami setiap disiplin ilmu yang berkembang pada saat itu disamping tugasnya sebagai diplomat, hakim agung, guru besar pada beberapa perguruan tinggi terkenal pada masa itu.
Diantara jabatan yang pernah dipegangnya yaitu: Ibnu Khaldun pernah menjabat sebagai perdana mentri pada masa Dinasti Bani Hafidz yang berkuasa di Tunisia kemudian dia menjabat perdana mentri di Maroko pada masa dinasti Bani Marin yang berkuasa setelah itu dia menjabat sebagai penasehat Khalifah pada dinasti Abd Al-Wad di Al-Jazair. Selain itu Ibnu Khaldun juga merupakan seorang guru besar di Universitas Qasabah. Dengan demikian dia telah memadukan antara kegiatan ilmu dalam saat yang bersamaan.

2. Karya-karya Ibn Khaldun
Banyak sekali karya Ibnu Khaldun, dan uraian karya karya beliau yang masih banyak dibahas para ahli sampai saat ini adalah:
a. Al-I’bar
Al-I’bar merupakan karya utama Ibnu Khaldun. Lengkapnya buku tersebut berjudul Al-I’bar wa Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Ayyam al-‘Arab wa al-Barbar wa man ‘Atsharahum min Dzawi al-Sultan al-Akbar. Terjemahan bebas ke bahasa Indonesia: “Kitab I’tibar dan catatan sejarah terdahulu dan kemudian, tentang peristiwa bangsa arab, asing, dan barbar serta penguasa-penguasa besar yang semasa dengan mereka”.
Karena nama kitab tersebut begitu panjang, dalam berbagai referensi pada umumnya disingkat dengan sebutan kitab al-I’bar saja. Kitab ini diselesaikan Ibnu Khaldun ketika bermukin di Qal’ah Ibn Salamah, daerah Al-Jazair sekarang. Ditengah kesunyian padang pasir, ia memulai hidup baru. Ditempat itu ia menghabiskan waktunya selama empat tahun (776-780 H). Ia mengisolasi diri dari dunia politik dan berkonsentrasi menulis Al-I’bar sebagai suatu karya sosiohistoris yang terkenal.
Beberapa penjelasan yang berkaitan dengan buku tersebut, baik isi, metode maupun karakteristiknya diutarakan sendiri oleh Ibnu Khaldun. Dalam hal ini Ibnu Khaldun menulis:
“Dengan buku ini, aku berusaha menyingkap tabir keadaan dari berbagai generasi. Aku menyusunnya dengan metode teratur. Dalam menyusun dan membagi bab-babnya aku menggunakan metode yang tak pernah digunakan selama ini.”
b. Muqaddimah
Pada awalnya buku muqaddimah hanyalah merupakan muqaddimah (pendahuluan) dalam pengertian sesungguhnya yaitu suatu pendahuluan untuk buku utama al-I’bar, namun bagian ini kemudian dipisahkan dari bagian-bagian lain kitab al-I’bar hingga akhirnya menjadi karya yang berdiri sendiri, sebagaimana yang kita kenal sekarang dengan nama muqaddimah Ibnu Khaldun.
Muqaddimah diselesaikan pada november 1377 adalah buah karya dari cita-cita besarnya tersebut, Muqaddimah secara harfiyah berarti “pembukaan” atau “introduksi” dan merupakan jilid pembuka dari tujuh jilid tulisan sejarah yang secara bebas diterjemahkan ke dalam buku “The Book of Lessons and the Record of Cause and Effect in the History of Arabs, Persian and Barbers and Their Poweful Contemporaries.” Muqaddimah mencoba untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang menentukan kebangkitan dan keruntuhan dinasti yang berkuasa (daulah) dan peradaban (‘umran). Tetapi bukan hanya itu saja yang dibahas, muqaddimah juga berisi diskusi ekonomi, sosiologi dan ilmu politik. Yang merupakan kontribusi orisinil Ibnu Khaldun untuk cabang-cabang ilmu tersebut. Ibnu Khaldun juga layak mendapatkan penghargaan atas formula dan ekspresinya yang lebih jelas dan elegan dari hasil karya pendahulunya atau hasil karya ilmuwan yang sejaman dengannya. Wawasan Ibnu Khaldun terhadap beberapa prinsip-prinsip ekonomi sangat dalam dan jauh kedepan sehingga sejumlah teori yang dikemukakannya hampir enam abad yang lalu sampai sekarang tidak diragukan merupakan printis dari beberapa formula teori modern.
c. Al-Ta’rif
Al-Ta’rif merupakan buku autobiografi Ibnu Khaldun. Beliau menyelesaikan penulisan buku tersebut pada awal tahun 797 H. semula buku tersebut berjudul Al-Ta’rif Ibnu Khaldun Mu’alif Hadza Al-Kitab. Kitab ini kemudian direvisi ibnu Khaldun dan dilengkapi dengan hal-hal baru hingga akhir tahun 808 H, beberapa bulan sebelum beliau wafat. Dengan demikian karya itu menjadi lebih tebal dan kemudian ia beri judul Al-Ta’rif bi Ibnu Khaldun Muallif Hadza al-kitab wa Rihlatuhu Gharban wa Syarqan.
Karya lainnya adalah berupa komentarnya terhadap beberapa buku, seperti Al-Burdah, dia juga mengikhtisarkan banyak karangan Ibnu Rusyd, Al-Muhassal karya Al-Razy, menyusun sebuah karya dibidang ushul fiqh dengan uraian yang benar-benar bermutu. Sebenernya masih banyak karya-karya Ibnu Khaldun, namun tidak sampai keterangan kita, antara lain Al-Syifa’ Al-Sa’il li tahzib al masa’il dan Lubab al-Muhassal fi Ushul al-din.

3. Cara Pemikiran Ibnu Khaldun
Suatu ciri yang spesifik latar belakang kehidupan Ibnu Khaldun adalah dilahirkan dari keluarga politikus dan sekaligus intelektual. Meskipun hukum-hukum realitas telah berpola di dalam kerangka pikir ilmiahnya, akan tetapi gagasan-gagasannya tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an sebagai akar pikir Islamnya. Kontruksi teoritiknya atas dasar observasi yang realitas juga berdasarkan pemikiran filosofit yang dijiwai Al-Qur’an.
Pemikiran Ibnu Khaldun dalam pengertian luas adalah hasil proses perkembangan yang terus menerus dari filsafat dan pemikiran Islam. Menurut beberapa penulis, Ibnu Khaldun adalah pengikut Al-Ghazali, menurut yang lainnya, Ibnu Khaldun adalah pengikut Ibnu Rusyd. Sementara lainnya lagi mengatakan Ibnu Khaldun sekaligus pengikut Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Dia mengambil dari Al-Ghazali permusuhannya terhadap logika aristoteles, pada saat yang sama mengambil sikap baik Ibnu Rusyd terhadap massa, dengan kombinasi yang unik, ia membangun teorinya yang modern.
Sebagaimana Al-Ghazali, Ibnu Khaldun menyerang filosof-filosof Hellenistik yang mencoba merekonsiliasi syarat dan wahyu dengan rasio dan filsafat. Orang merekonsiliasi umumnya adalah bahwa keduanya berbeda jauh, karena itu berbeda pula daya-daya dan metode-metode yang diterapkan untuk menjelaskan keduanya. Dalam hal ini menurut Ibnu Khaldun, para filosof mencoba mempertemukan (reconcile) sesuatu yang tidak dapat dipertemukan (isreconcilable). Akal (reason) tidak akan pernah menjangkau kebenaran-kebenaran spiritual, karena kebenaran-kebenaran spiritual itu bukanlah Objek (akal)nya. Sebagaimana halnya mata tidak mungkin menangkap suara, atau telinga tak mungkin menangkap cahaya. Semua kebenaran transendental hanya dapat diterima melalui kenabian bukan melalui akal.
Dalam muqaddimah, Ibnu Khaldun menerangkan keterbatasan akal lewat diskusi masalah-masalah filsafat serta beberapa teori ilmu pengetahuan yang dianggapnya mempunyai kelemahan karena terlalu mengandalkan akal. Masih banyak masalah yang tak dapat dijangkau oleh akal. Yang tak dapat dijangkaunya itu bukan berarti tidak ada seperti soal-soal ketuhanan, eskatologi, kerohanian, wahyu dan kenabian.
Meskipun demikian, akal dalam pandangan Ibnu Khaldun ini memang lebih radikal dari pada ahli fiqh. Akan tetapi, akal dalam pandangannya mempunyai daya yang tidak lebih besar dari wahyu. Dalam hal ini ia sejalan dengan al-kindi filosof muslim pertama, berpendapat agama dan filosof membahas persoalan yang sama: sedangkan perbedaan terletak pada sasaran yang dipergunakannya. Filsafat memperoleh kebenaran melalui wahyu yang ditutunkan pada nabi. Keduanya menghasilkan dalil-dalil yang kuat.
Ibnu Rusyd menjelaskan penelitian akal tidak menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dibawa agama, sebab kebenaran tidak bertentangan dengan kebenaran tetapi sesuai dan saling memperkuat. Tampaknya dalam hal ini Ibnu Khaldun sepaham dengan Ibnu Rusyd, menurut Ibnu Rusyd filsafat itu benar dan Islam juga benar, dan kebenaran itu tidak mungkin dapat dipisahkan dengan sesamanya.
Al-Ghazali terkenal dengan mempertahankan tasawuf dan menentang filsafat, sedangkan ibnu Khaldun menguraikan tasawuf itu hanya dari segi ilmiyah saja tanpa menunjukan sikap suka atau tidak suka. “hanya Ibnu Khaldunlah yang memasuki tasawuf dengan sepenuhnya berjiwa ilmiyah.” Tetapi Ibnu Khaldun sangat menghargai Al-Ghazali yang dinilainya sebagai orang yang paling berjasa mengembalikan tasawuf ketempat semestinya. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun tidak pernah mengkritik tasawuf yang dikembangkan Al-Ghazali.
Dari kenyataan tersebut, dapat ditegaskan bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang pemikir besar dan ilmuwan yang kritis dan objektif, rasional tetapi juga agamawan yang taat. Dilandasi oleh iman yang kuat dengan penuh kesadaran. Suatu kehidupan yang berimbang dalam dirinya. Dalam menghayati agama dan imu.

4. Pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun
Diantara sekian banyak pemikiran masa lampau yang mengkaji ekonomi Islam, ibnu khaldun merupakan salah satu ilmuan yang paling menonjol. Ibnu Khaldun sering disebut raksasa intelektual paling terkemuka di dunia. Ia bukan saja bapak sosiologi tetapi juga bapak ekonomi, karena banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Richardo. Akhirnya, ia lebih dari 3 abad mendahului para pemikir barat tersebut.
Muhammad hilmi murad secara khusus telah menulis sebuah karya ilmiah berjudul Abdul Iqtishad: ibnu khaldun artinya-Bapak ekonomi : Ibnu Khaldun (1962) dalam tulisan tersebut ibnu khaldun dibuktikannya secara ilmiah sebagai penggagas pertama ilmu ekonomi secara empiris. Karya itu disampaikannya pada symposium tentang Ibnu Khaldun di Mesir 1978.
Sebelum Ibnu Khaldun, kajian-kajian ekonomi barat masih bersifat normatif, adakalanya dikaji dari perspektif hukum, moral dan ada pula dan perspektif filsafat, karya-kaya tentang ekonomi oleh para ilmuan barat, seperti ilmuan yunani dana zaman Scholastic bercorak tidak ilmiah, karena pemikiran zaman pertengahan tersebut memasukkan kajian ekonomi dalam kajian moral dan hukum.Sedangkan Ibn Khaldun mengkaji problem ekonomi masyarakat dan negara-negara secara empiris, ia menjelaskan fenomena ekonomi secara aktual.
Ibnu Khaldun menemukan keutamaan dan kebutuhan suatu pembagian kerja sebelum ditemukan Smith dan prinsip tentang nilai kerja sebelum Richardo. Ia telah telah mengolah teori tentang sebelum Maltuis dan mendesak peran negara di dalam perekonomian sebelum Keynes. Bahkan lebih dari itu, ibnu Khaldun telah menggunakan konsepsi-konsepsi ini untuk membangun suatu sistem dinamis yang mudah dipahami dimana mekanisme ekonomi telah mengarahkan kegiatan ekonomi Fluktuasi jangka panjang.
Demikian gambaran maju dan berkembangnya ekonomi Islam di masa lampau, tetapi sangat disayangkan dalam waktu yang relatif panjang yaitu sekitar 7 abad (sejak abad 13 sampai dengan pertengahan abad 20), ajaran-ajaran Islam tentang ekonomi diterlantarkan dan diabaikan kaum muslimin. Akibatnya ekonomi Islam terbenam limbo sejarah dan mengalami kebekuan (stagnasi). Dampak selanjutnya umat Islam tertinggal dan terpuruk dalam bidang ekonomi.
Dalam kondisi demikian, masalah kolonialisme mendesakkan dan mengajarkan doktrin-doktrin ekonomi ribawi (kapitalisme), khususnya sejak abad 18 sampai dengan abad 20. Proses ini berlangsung lama, sehingga paradigma dan sibgah umat Islam terbiasa dengan sistem kapitalisme dan malan sistem, konsep dan teori-teori itu menjadi berkarat dalam pemikiran ummat Islam.
Maka sebagai konsekuensinya, ketika ajaran ekonomi Islam mau ditawarkan kembali kepada umat Islam, mereka melakukan penolakan, karena dalam pikirannya telah mengkristal pemikiran ekonomi ribawi, pemikiran ekonomi kapitalisme. Padahal ekonomi syari’ah adalah ajaran Islam yang harus diikuti dan diamalkan.

Adapun diantara teori-teori ekonomi ibnu kaldun adalah sbb:
Teori tentang harga
1) Tingkat keuntungan yang wajar akan mendorong tumbuhnya perdagangan, tingkat keuntungan yang rendah jika berlanjut perniagaan akan macet, dan pasar menjadi hancur serta modal tidak kembali (Muqaddimah, h. 398)
2) Kemerosotan harga dari produk pertanian akan membawa kegoncangan petani, jika berlanjut petani akan jatuh pada kemiskinan modal mereka tidak kembali
3) Kerendahan harga yang melampaui batas, serta kemahalan harga yang ekstrim akan merugikan kaum pedagang (muqaddimah)
4) Emas dan perak merupakan logam mulia yang menjadi ukuran harga dan akumulasi modal/kapital, serta menjadi simpanan dan kekayaan bagi penduduk (muqaddimah)

Sektor pertanian
Pertanian pada dasarnya merupakan sektor penghidupan yang dapat mendorong pertumbuhan sektor lain (muqaddimah, h. 383)

Sektor industri
Industri akan berkembang, jika permintaan konsumen meningkat dan industri akan bangkrut jika permintaan konsumen merosot (muqaddimah, h. 408)

Faktor Tumbuhnya Produksi
– Alam (kekayaan alam)
– Pekerja
– Modal
– Pasar (muqaddimah, h. 403)

Teori tentang mata uang
1) Mata uang sebagai alat pengukur harga barang
2) Fungsi uang yang pertama sebagai alat penukaran dan kedua sebagai nilai kekayaan (muqaddimah, h.381)
3) Kekayaan suatu negara tidak ditentukan oleh banyaknya uang disuatu negara melainkan ditentukan oleh tingkat produksi suatu negara.

Kaitan pertumbuhan penduduk dan pertambuhan ekonomi
Bertambahnya penduduk akan menciptakan kreatifitas kerja, dan menambah kebutuhan kerja di masyarakat. Ibnu Khaldun mengaitkan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, seperti halnya Ibnu Taimiyah. Ibnu Khaldun dalam pemikiran ekonominya tidak bisa dilepaskan pula dengan pemikiran politiknya, menurutnya manusia itu pada dasarnya adalah:
1. Makhluk Politik (Zoon Politicon)
Artinya manusia itu harus hidup bermasyarakat
2. Manusia tidak bisa hidup sendiri secara individual dia membutuhkan orang lain.
a. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
b. Dalam mempertahankan dirinya dia harus hidup berkelompok keduanyabisa terpenuhi dengan adanya kerjasama dengan sesamanya.

Uang menurut ibnu khaldun
Ibnu Khaldun menegaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan banyaknya uang di negara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkat produksi negara tersebut dalam neraca pembayaran yang positif. Bisa saja suatu negara mencetak uang sebanyak-banyaknya tetapi bila hal itu bukan merupakan refleksi misalnya pertumbuhan sektor produksi. Uang yang melimpah itu tidak ada nilainya, sektor produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga, meningkatkan pendapatan pekerja dan menimbulkan permintaan atas faktor produksi lainnya.
Pendapat ini menunjukan pula bahwa perdagangan internasional telah menjadi bahasan utama para ulama ketika itu. Negara yang telah mengekspor berarti mempunyai kemampuan berproduksi lebih besar dari kebutuhan domestiknya. Sekaligus menunjukkan bahwa negara tersebut lebih efisien dalam produksinya.
Sejalan dengan pendapat Al-Ghazali, Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa uang tidak perlu mengandung emas dan perak menjadi standar nilai uang. Uang tidak mengandung emas dan perak merupakan jaminan pemerintah menetapkan nilainya. Karena itu, pemerintah tidak boleh mengubahnya (muqaddimah, 1: 407)
Ibnu khaldun selai menyarankan digunakannya uang standar emas/perak, beliau juga menyarankan konstannya harga emas dan perak. Harga-harga lain boleh berfluktuasi, tetapi tidak untuk harga emas perak (muqaddimah, 2: 274)
Dalam keadaan uang yang tidak berubah, kenaikan harga atau penurunan harga semata-mata ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Setiap barang akan mempunyai harga keseimbangan bila lebih banyak makanan dan yang diperlukan disatu kota, harga makanan menjadi murah demikian sebaliknya (muqaddimah 2:240)

Keseimbangan harga menurut ibnu khaldun
Didalam muqaddimah, Khaldun menulis secara khusus sati Bab berjudul “harga-harga di kota-kota” ia membagi jenis barang menjadi barang kebutuhan pokok dan barang mewah. Nah, menurut dia bila suatu kota berkembang dan selanjutnya populasinya bertambah banyak, harga-harga barang kebutuhan pokok akan mendapat prioritas pengadaannya. Akibatnya, penawaran meningkat dan ini berarti turunnya harga. Adapun untuk barang-barang mewah, permintaan akan meningkat sejalan dengan berkembangnya kota dan berubahnya gaya hidup akibatnya, harga barang mewah meningkat.
Ibnu Khaldun juga menjelaskan mekanisme, penawaran dan permintaan dalam menentukan harga keseimbangan. Secara rinci, ia menjabarkan pengaruh persaingan diantara konsumen untuk mendapatkan barang pada sisi permintaan. Setelah itu, ia menjelaskan pula pengaruh meningkatnya biaya produksi karena pajak dan pungutan-pungutan lain di kota tersebut, pada sisi penawaran (muqaddimah 11: 276)
Ibnu Khaldun menjelaskan secara rinci, menurut dia keuntungan yang wajar akan mendorong tumbuhnya perdagangan sedangkan keuntungan yang sangat rendah akan membuat lesu perdagangan karena pedagang akan kehilangan motivasi. Sebaliknya bila pedagang mengambil keuntungan sangat tinggi, juga akan membuat lesu perdagangan karena lemahnya permintaan konsumen (muqaddimah 340-341)

C. KESIMPULAN
Paparan diatas menunjukkan bahwa tak disanksikan lagi Ibnu Khaldun adalah bapak ekonomi yang sesungguhnya. Dia bukan hanya bapak ekonomi Islam, tetapi bapak ekonomi dunia, dengan demikian, sesungguhnya beliau lah yang lebih layak disebut bapak ekonomi dibanding Adam Smith yang dikalaim Barat sebagai bapak ekonomi melalui buku The Wealfh of Nation. Karena itu sejarah ekonomi perlu diluruskan kembali agar umat Islam tidak sesat dalam memahami sejarah intelektual umat Islam. Makalah ini tidak bisa menguraikan pemikiran Ibnu Khaldun secara detail, karenanya ruang yang terbatas dan lagi pula pemikirannya terlalu ilmiah dan tekhnis jika dipaparkan disini.
Teori ekonomi Ibnu Khaldun secara detail lebih cocok dimuat dalam journal atau buku.

DAFTAR PUSTAKA
Al-faruqi. 1984.Ismail Raj’i Islamisasi Ilmu Pengetahuan.(alih bahasa anas mahyudin).Bandung: Perpustakaan salman ITB.
Farrukh,Umar.1962.Tarikh al-fikr al-arabi.Beirut: Matba’ah al-tijari.
Iqbal,Muhammad. 1981.The Reconstruction of Religion Though in Islam.New Delhi :kitab bauana.
Iqbal,Muhammad. 1981.The Reconstruction of Religion Though in Islam.New Delhi :kitab bauana.
Jayyusi,Salma Khandra.1994.The Legacy of Muslim Spain. Leiden: Brill.
Jum’ah,Luthfi.tarikh al-falasifah al-Islami fi al-masyriq wa al-maghrib.Mesir: AIN Syams .t.t.
Mahdi,Muhsin. 1971.Ibnu Khaldun pilosophy of history.Chicago: the university of chicago press.
Nasution,Harun.1986.Akal dan Wahyu dalam Islam.Jakarta:Universitas Indonesia press
Shafiudin.2007.Negara Islam Menurut Konsep Ibnu Khaldun.Yogyakarta:Gama Media
Sulaiman,Fathiyah Hasan.1987. pandangan Ibnu Khaldun tentang ilmu pendidikan.(alih bahasa henry noer ali).Bandung:Diponegoro .
The Muqaddimah of Ibnu Khaldun
Wauliddin,Wanit. 2003.konstelasi pemikiran padagogik Ibnu Khaldun perspektif pendidikan modern.Yogyakarta:Tim Nadya Foundation
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option.com,content&task.view&id.1112&itemed=f
http://arif perdana. Word Pers.com/2007/11/22/ Konstribusi Ilmuan-Muslim-Terhadap-Ilmu-Ekonomi/
http://www.halalguide.info/index2.php?options=com.cintent&dopdf=1&id=433-8k
http://www.halalguide.info/content/view/432/46/
http://www.halalguide.info/index2.php?options=com.cintent&dopdf=1&id=433-8k
http://blogekonomi syariah:word pre/2010/03/29/ Memacu Pertumbuhan Bank Syari’ah

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s