PSAK 109 tentang ZIS Menuai Kritik

Pengelolaan zakat, Infaq dan sadaqah (ZIS) yang baru memiliki PSAK (pernyataan standar akuntansi keuangan ) tersendiri dengan disetujuinya PSAK 109 oleh Majelis Ulama Indonesia medio Agustus lalu mendapat kritikan dari Ikhwan A Basri, Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Ia mengkritisi PSAK 109 tersebut hanya menekankan aset tetap atau fixed asset

“ PSAk 109 lebih menekakan kepada aset seperti bangunan, kendaraan atau fasilitas umum, belum ada penyajian bagaimana jika zakatnya dalam bentuk hewan sehinnga saya mempertanyakan dapatkah metode penilaian terhadap aset tetap dipergunakan untuk melakukan penilaian secara finansial bagi hewan- hewan ternak,” ujar Basri Kamis siang ( 19/10/2011) menjadi pembicara dalam sosialisasi PSAK 109 di Jakarta Media Jakarta Center.

Menurut Basri, tidak menutup kemungkinan PSAK 109 mengalami penyesuaian di masa yang akan datang. Walaupun standar, PSAK 109 harus mengikuti perkembangan. Jika perkembangan menuntut adanya perubahan dan tidak ditampung maka tidak akan terjelaskan. .

Dadang Romansyah, akuntan publik dari KAP( kantor akuntan publik ) Ahmad Toha sependapat dengan Basri. Menurut dia, PSAK 109 masih banyak yang harus di perbaiki, misalnya dana zakat untuk diinvetasikan seharusnya tidak perlu diadakan sama sekali, katrena kenyataan secara fiqih sangat susah syaratnya terpenuhi.

Hanya saja, fatwa MUI tentang fatwa zakat boleh diinvestasikan selama fakir miskin sudah tidak ada lagi, maka hal itu diakomodir di paragraph 9 dalam PSAK 109. “Tapi maknanya sebenarnya tidak bisa, sebab mana mungkin fakir miskin sudah tidak ada lagi “ ujarnya , namum berbeda dengan infaq dan sadaqah diperuntukan invetasi sebagai bentuk optimalisasi penggunaan Infak dan sadaqah.

Walaupun Dadang sepakat infaq dan sadaqah bisa diinvestasikan, namun harus menjadi perhatian, khusus bagi pengelolaannya. Menurutnya, dengan PSAK 109 dapat mengatasi kesemrawutan pengelolaan invetasi dari dana sadaqah dab infaq. “ Mereka tahu dana ini memang harus disalurkan cuma agar lebih optimal supaya programnya lebih efektif dan masyarakat dapat memamfaatkan lebih maksimal maka dikelola dulu seperti memberi kail dari pada membei ikan kepada mustahik ( yang berhak menerima zakat) “ ungkapnya. Meski begitu, kata Dadang, terlepas dari kekurangan dari PSAK 109 namun dia melihat PSAK ini akan jauh bermanfaat ketimbang tidak ada sama sekali.(Sumber;akuntanonline)

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s