Pengantar FIkih Muamalah

Fikih Muamalah

Pengantar

            Buku terkait dengan fikih Islam sesungguhnya telah banyak beredar di masyarakat dalam berbagai model pengembangan metode pembahasannya. Pembahasan Fikih Islam pada umumnya membahas tentang thaharah, sholat, zakat, puasa, haji, munakahat, mawaris, hudud dan lain-lainnya. Ulama klasik telah menulis kajian tersebut dalam kitab-kitab tebal yang memberikan pembahasan dari berbagai pandangan dan pendapat ulama pendahulunya. Metode yang dipakai dalam penulisan kitab-kitab tebal tersebut cenderung untuk penguraian masalah dan pendapat para ulama terdahulu yang berkaitan dengan masalah tersebut. Tidak jarang mereka memberikan uraian khusus dan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di masa yang akan datang sesuai dengan pola pikir dan kondisi serta keadaan pada masa itu.

Pembahasan dalam fikih Islam pada dasarnya pembahasan tatacara, aturan atau rambu-rambu dalam menjalani kehidupan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Akan terapi pembahasan lebih sering ditekankan pada hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan antara sesama manusia. Dalam pembahasan fikih muamalah ini, yang dibicarakan adalah hubungan antar sesama manusia.

            Fokus pembahasan buku ini adalah fikih Muamalah, yaitu pembahasan yang berkaitan dengan pedoman dan panduan tatacara melakukan hubungan interaksi sosial kemasyarakatan yang diatur oleh Islam. Di sana ada akad-akad perjanjian, hukum, ketentuan-ketentuan Islam dalam berinteraksi dan bertransaksi dengan orang lain, persyaratan dan lain sebagainya sebagaimana buku-buku fikh muamalah pada umumnya. Hanya saja dalam buku ini ada beberapa kelebihan di bandingkan dengan buku-buku yang sudah ada. Kelebihan itu terletak pada arah dan tujuan pembelajaran fikih muamalah dan penyelesaian yang diambil adalah “jalan tengah” artinya setelah menyimak berbagai pandangan dan pendapat dari para ulama’ fikih para pembaca diajak untuk berpikir, melihat permasalahan secara global dari berbagai sisi dan sudut pandang yang berbeda sehingga para pembaca bisa mengambil kesimpulan sendiri yang menurutnya lebih sesuai dengan syariat Islam tanpa meninggalkan kaidah-kaidah dan kaifiyat peribadatan kepada Allah SWT.

Sebagai awal pembahasan dari buku ini perlu kami sampaikan bahwa banyak sekali permasalahan dalam kehidupan manusia di dunia. Dari permasalahan yang kecil hingga permasalahan yang dianggap besar oleh seseorang, dari yang sifatnya pribadi hingga permasalahan yang bersifat umum, semua membutuhkan penyelesaian. Para ahli dengan berbagai spesifikasi ilmu yang dimilikinya menyarankan berbagai penyelesaian dari macam-macam persoalan yang dihadapi manusia. Tergantung dari kepakaran para ahli tersebut. Apabila seseorang meminta saran kepada seorang yang ahli dalam bidang politik kemungkinan besar saran yang diberikan oleh ahli terkait pula dengan pengaruh-pengaruh yang mempengaruhi persoalan yang dihadapi seseorang tersebut. Akan berbeda apabila dalam menyelesaikan persoalannya seseorang meminta saran kepada seseorang yang ahli dalam bidang agama. Tentu ia akan berusaha menyelesaikan persoalannya dengan pendekatan keagamaan.

Ibarat orang yang akan bertamu menuju rumah besar tentunya kita harus tahu dulu aturan-aturan yang berlaku pada rumah besar tersebut. Bagaimana cara kita memberitahukan kepada tuan rumah kalau kita mau bertamu. Dengan memencet bel yang ada di pagar, atau memukul besi pagar atau berteriak memanggil pembantu yang ada di halaman rumah. Kita tidak bisa hanya berpedoman pada asal bisa masuk. Sehingga seenaknya saja memasuki halaman rumah yang besar dengan memaksa membuka pagar atau melompati pagar dengan memanjat. Lebih parah lagi kalau membuka pagar secara paksa dengan merusak kunci pintu pagar dengan gergaji, palu ataupun dengan obeng. Tentu semua ada aturannya. Kalau misalnya sang empunya rumah menginginkan setiap tamu harus memencet tombol bel di depan agar sebagai isyarat pemberitahuan ada tamu, ya harus dituruti dengan memencet tombol di depan pintu pagar.

Sebagai pintu masuk pembahasan muamalah secara panjang lebar maka perlu adanya pedoman atau panduan syariah tentang mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Semua itu dilakukan dalam rangka untuk mendapatkan kemanfaatan dalam berhubungan menjalin komunikasi dengan orang lain. Untuk itu harus ada sesuatu yang prinsip yang harus dilakukan dan dipahami terlebih dahulu sebelum melakukan muamalah tersebut.

Prinsip-prinsip Muamalah

Manusia dalam melakukan aktifitasnya, selalu didasari atas berbagai pertimbangan. Seseorang yang melakukan aktifitas kerja, tentu didasari atas pertimbangan mendapatkan imbalan atau upah, membantu orang lain, bersilaturahmi, tanggungjawab terhadap nafkah keluarga dan lain-lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut tidak semuanya sesuai dengan yang kita kehendaki. Boleh jadi seseorang yang bekerja mengantarkan barang dengan upah tinggi tetapi tidak dikehendaki dan memiliki resiko yang besar. Mengantar barang adalah pekerjaan yang mulia selama barang tersebut legal, tidak terlarang dan tidak membahayakan orang lain. Tetapi kalau barang tersebut adalah barang yang haram (semisal ganja), tentu tidak semua orang mau, walaupun mendapatkan upah yang tinggi. Tidak ada yang salah dalam jasa pengantaran. Hanya penyalahgunaan saja yang dipersalahkan.

Oleh karena itu dalam hal bermuamalah, harus ada dasar dan tumpuan dalam berpikir dan bertindak. Sehingga tidak dipersalahkan dalam melakukan aktifitas muamalah dengan orang lain. Dasar dan tumpuan untuk berpikir dan bertindak itulah yang sering disebut juga dengan prinsip. Yaitu dasar atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir dan bertindak.

Prinsip-prinsip tersebut antara lain adalah;

a.      Prinsip rabbaniyah. Prinsip rabbaniyah atau ketuhanan ini juga sering disebut sebagai prinsip tauhid atau prinsip ilahiyah. Prinsip rabbaniyah merupakan prinsip dan sumber utama dalam menimbang perilaku kehidupan manusia. Perilaku manusia dalam segala kehidupannya tidak dapat lepas dari tanggungjawabnya kepada Allah SWT. Sehingga setiap bangunan aktifitas kehidupan manusia harus didasarkan pada nilai-nilai ketauhidan. Kehidupan manusia tidak akan luput dari ketentuan-ketentuan dan harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam Quran surat al Hadid ayat 4;

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ [٥٧:٤]

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al hadid; 4) .

Disini dijelaskan bahwa manusia bukan hanya memiliki tanggungjawab saja tetapi juga diminta untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Baik bertanggungjawab kepada diri sendiri, tanggung jawab kepada keluarga, tanggung jawab kepada masyarakat maupun tanggung jawab kepada sang Pemberi Kehidupan yaitu Allah SWT. Sehingga manusia, dalam menjalankan aktifitasnya harus berhati-hati, tidak boleh sekehendak hatinya, karena nantinya pasti akan mendapatkan balasannya. Intinya segala akifitas kehidupan manusia didasarkan atas kesesuaian dengan kehendak Allah yang dituangkan dalam kitab suci Al Quran yang dipedomaninya sebagai pendorong dan pengendali aktifitas kehidupan manusia di dunia ini.

b.     Prinsip Kebebasan. Manusia memiliki kebebasan atas segala tindakan dan perilakunya. Apapun yang ia lakukan pada dasarnya diperbolehkan asal tidak menganggu prinsip-prinsip umum yang ada di masyarakat. Prinsip-prinsip umum yang ada di masyarakat itu antara lain; kepentingan diri pribadi dan orang lain, kepentingan umum, norma-norma yang berlaku di masyarakat baik norma adat, norma susila, maupun norma agama. Jadi pada dasarnya kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang terbatas. Kebebasan yang didasari aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Aturan –aturan itu sesungguhnya diberlakukan bukan untuk kepentingan orang lain tetapi untuk kepentingan diri sendiri.

Seandainya di jalanan tidak ada tanda-tanda atau rambu-rambu lalu lintas, seolah kita bebas memacu kendaraan semau kita. Tentu ini akan sangat membahayakan kita. Oleh karena itu dipasangnya rambu-rambu dijalanan akan sangat membantu dalam menjaga keselamatan kita. Kita jadi tahu kapan harus mengurangi kecepatan untuk berbelok, kapan waktunya mengurangi kecepatan karena jalan naik dan berbelok, kapan waktunya kita bisa melanggar orang lain, kapan waktunya jalanan naik dan kapan waktunya jalanan turun. Jadi dengan adanya rambu-rambu kita bisa mengendalikan kecepatan kendaraan kita agar kita mendapatkan keselamatan.

Demikian juga aturan syariah diberlakukan untuk keselamatan umat manusia. Islam memberikan kebebasan kepada para pihak untuk melakukan suatu perjanjian dengan segala bentuknya. Tetapi perjanjian itu harus seimbang dan mementingkan para pihak. Tidak boleh merugikan salah satunya. Kebebasan disini tidaklah kebebasan mutlak. Kebebasan dapat digunakan apabila tidak bertentangan dengan syariat Islam, sehingga tercapai kebahagiaan dan keselamatan di antara para pihak.

Dalam bermuamalah, kita bebas menentukan pilihan aturan yang kita buat, tetapi harus dipertimbangkan untuk kemaslahatan bersama. Bukan untuk kepentingan diri sendiri saja. Aturan dibuat untuk melindungi para pihak dan memberikan keselamatan atas harta yang dititipkan kepada kita. Memberikan rasa aman atas harta orang lain merupakan bagian dari aktifitas keislaman kita. Jangan sampai kita disebut sebagai orang yang bukan Islam hanya karena rekayasa dan tipudaya kita dalam bertransaksi merugikan orang lain. Rasulullah SAW menyampaikan, “Islamnya seseorang itu adalah apabila orang lain merasa selamat (aman ) dari gangguan tangan dan lisannya.”

c.      Prinsip Kesetimbangan. Dalam memenuhi kebutuhannya manusia tidak lepas dari peran penting orang lain. Maka tidak layak bagi seseorang merendahkan orang lain dalam menjalin hubungan sosial. Tidak ada yang lebih seseorang dengan seseorang yang lain. Manusia diberi kemampuan yang sama oleh Tuhan. Hanya seberapa jauh seseorang itu mampu mengembangkannya kemampuannya. Ada yang dilebihkan, ada juga yang dikurangkan. Semuanya ini bertujuan agar tercipta saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain.

Sebagai contoh misalnya; kita selalu memakai pakaian yang setiap hari kita pakai. Dari mana pakaian itu? Kita membeli di pasar. Oke. Dari mana orang pasar mendapatkan pakaian itu? Orang mungkin akan mengatakan bahwa orang pasar mendapatkan pakaian dari pabrik garmen. Apakah orang yang membuat pakaian memiliki kemampuan memasarkannya tentu akan memiliki jawaban yang relatif. Ada yang bisa ada juga yang tidak mampu. Pertanyaan selanjutnya adalah pabrik garmen mendapatkan bahan dari mana? Mungkin akan di jawab dari pabrik tekstil atau perajin tenun. Selannjutnya pabrik tekstil mendapatkan bahan tekstil dari mana? Bisa dari petani kapas, bisa dari peternak ulat sutra, bisa juga dari peternak domba.

Satu kebutuhan saja, pakaian yang kita pakai setiap hari, membutuhkan banyak orang yang memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menjadikan satu kebutuhan. Karena kebutuhan kita sangat banyak sehingga kita membutuhkan sangat banyak orang yang memiliki kemampuan berbeda-beda, yang antara satu dengan yang lain mungkin tidak kenal. Oleh karena itu dalam bermuamalah maka tidak boleh saling merendahkan, walaupun kita tidak pernah kenal dengan seseorang tersebut. Memberi penghargaan kepada setiap orang dengan memenuhi hak-haknya menjadi kewajiban kita. Karena boleh jadi orang yang tidak pernah kenal tersebut berjasa pada kita yang tidak pernah kita ketahui.

Kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan masing-masing orang memiliki keistimewaan, sehingga satu dengan lainnya bisa saling menutupi kekurangannya untuk menuju kesempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa di antara sesama manusia memiliki kekurangan dan kelebihan.

d.     Prinsip keadilan, ada yang beranggapan bahwa adil merupakan titik tengah, tidak berpihak kepada salah satu di antara dua perbedaan, atau memberikan porsi yang sama diantara dua kepentingan yang berbeda. Dalam bidang muamalah tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang merugikan. Tidak ada kedzaliman di antara para pihak. Semua sama-sama diuntungkan.

Manusia dalam melakukan transaksi dalam bidang muamalah entah itu bisnis, perdagangan, jasa dan lain sebagainya harus memberikan haknya sesuai dengan hak masing-masing sesuai peran dan aktifitasnya atau berlaku adil dengan berlandasakan pada syariah Islam.

Harus ada pedoman yang mendasari keadilan. Islam menjadikan syariah yang berdasarkan pada kitab suci Al quran dan Sunah nabi sebagai pedoman yang dijadikan pertimbangan bagi rasa keadilan dalam menentukan keputusan untuk suatu keadilan. Boleh jadi menurut akal budi manusia suatu aktifitas muamalah dinilai adil tetapi disisi lain tidak adil. Oleh karena itu bagi orang-orang yang menginginkan keadilan hendaklah memahami dulu nilai-nilai keadilan yang diberikan Tuhan dalam al Quran, tanpa mengedepankan rasa egois, tamak, serakah untuk mendapatkan kemenangan. Karena kebanyakan orang bermasalah dengan orang lain karena dipicu rasa egois, tamak, rakus dan serakah. Tanpa keinginan yang demikian semua akan menjadi dinamis. Perasaan berkeinginan mendapatkan sesuatu yang lebih inilah yang menjadi penyebab kerusakan di dunia. Oleh karena itu al Quran mengajarkan agar dalam memperoleh keadilan dari Tuhan, perlu dikendalikan emosi, egois, rasa lebih atau sombong, rasa ingin menang sendiri, rasa tamak, serakah dan perasaan-perasaan lain yang negatif.

Dalam melakukan perikatan diantara beberapa pihak dituntut untuk berlaku benar dalam mengungkapkan kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah dibuat dan memenuhi semua kewajibannya. Dalam Q S Al Hadid ayat 25 disebutkan Allah berfirman;

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ [٥٧:٢٥]

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS Al Hadid ; 25)

e.      Prinsip ridho, Ridho atau rela adalah prinsip yang digunakan untuk mendapatkan ketentraman dalam hidup. Seseorang yang aktifitasnya selalu diridhoi oleh orang lain tentu dia akan menjadi aman hidupnya, dan ketenangan dalam hidup akan mudah tercapai. Islam menghargai upaya untuk mendapatkan ketenangan hidup. Ridho merupakan salah satu upaya untuk meraih ketenangan hidup itu. Mengharapkan ridho orang lain menjadi keharusan untuk mendapatkan ketenangan. Termasuk di dalamnya ketika bermuamalah. Allah berfirman dalam al Quran QS an Nisa ayat 29;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا [٤:٢٩]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An Nisa ; 29)

Dalam melakukan transasksi atau perjanjian bisnis hendaklah didasari dengan cara suka sama suka, atas dasar kerelaan diantara pihak-pihak yang berurusan, sehingga tidak ada yang merasa terpaksa dalam bertransaksi. Apabila ada rasa keterpaksaan hendaklah transaksi itu dibatalkan karena akan merugikan seorang diantara mereka yang bertransakasi.

Ayat diatas menunjukkan bahwa dalam melakukan suatu perdagangan hendaklah dilakukan atas dasar suka-sama suka atau sukarela. Tidak dibenarkan dalam suatu perbuatan muamalah perdagangan dilakukan dengan cara curang, menipu ataupun memaksa. Jika hal itu terjadi, dapat membatalkan perbuatan tersebut. Unsur sukarela ini menunjukkan keikhlasan dan upaya itikad baik di antara para pihak yang saling membutuhkan.

  1. Prinsip kejujuran. Kejujuran merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan kepercayaan. Kejujuran merupakan bekal utama untuk meraih keberkahan. Namun, kata jujur tidak semudah mengucapkannya, sangat berat memegang prinsip ini dalam kehidupan. Seseorang bisa meraup keuntungan berlimpah dengan lipstick kebohongan dalam bertransaksi. Sementara, orang yang jujur harus menahan dorongan materialisme dari cara-cara yang tidak semestinya. Perlu perjuangan keras untuk membumikan kejujuran dalam setiap langkah kehidupan.

Kejujuran tidak akan pernah melekat pada diri orang yang tidak memiliki nilai keimanan yang kuat. Seseorang yang tidak pernah merasa bahwa ia selalu dalam kontrol dan pengawasan Allah SWT. Dengan kata lain, hanyalah orang-orang beriman yang akan memiliki nilai kejujuran. Untuk itu, Rasulullah memberikan apresiasi khusus bagi orang yang jujur, “Seorang pedagang yang amanah dan jujur akan disertakan bersama para Nabi, siddiqin (orang jujur) dan syuhada” .

Satu hal yang bisa menafikan semangat kejujuran dan amanah adalah penipuan. Dalam konteks bisnis, bentuk penipuan ini bisa diwujudkan dengan melakukan manipulasi harga, memasang harga tidak sesuai dengan kriteria yang sebenarnya. Menyembunyikan cacat yang bisa mengurangi nilai obyek transaksi. Dalam hal ini, Rasulullah bersabda, “Tidak dihalalkan bagi pribadi muslim menjual barang yang diketahui terdapat cacatnya, tanpa ia memberikan informasinya” .

Sebenarnya, masih terdapat beberapa prinsip pokok yang harus diperhatikan dalam kehidupan muamalah. Di antaranya, menjauhi adanya gharar dalam transaksi, ketidakjelasan (uncertainty) yang dapat memicu perselisihan dan pertengkaran dalam kontrak bisnis. Semua kesepakatan yang tertuang dalam kontrak bisnis harus dijelaskan secara detil, terutama yang terkait dengan hak dan kewajiban, karena hal ini berpotensi menimbulkan konflik.

Ketika kontrak bisnis telah disepakati, masing-masing pihak terkait harus melakukan kewajiban yang merupakan hak bagi pihak lain, dan sebaliknya. Sebisa mungkin dihindari terjadinya wan prestasi. Memiliki komitmen untuk menjalankan kesepakatan yang tertuang dalam kontrak bisnis. Allah berfirman dalam QS al-Maidah ayat 1.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

Dan yang terpenting, dalam menjalankan kontrak bisnis harus dilakukan secara profesional. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba yang profesional dalam menjalankan pekerjaannya

            Prinsip-prinsip inilah yang mendasari aktifitas kegiatan manusia dalam mendapatkan keselamatan hidup yang berupa ketentraman, keamanan serta kenyamanan dalam hidupnya. Inilah prinsip –prinsip dasar kehidupan bermasyarakat yang menjadikan setiap orang menghargai sesuatu yang dilakukan orang lain. Sekecil apapun aktifitas yang dihasilkan seseorang akan dihargai ketika setiap orang menggunakan prinsip-prinsip dasar tersebut diatas.

Pengertian Muamalah

Setiap aktivitas kehidupan manusia yang berhubungan dengan manusia lain dinamakan muamalah. Misalnya seorang guru yang sedang mengajar anak didiknya di ruang kelas, seorang pedagang yang sedang menawarkan dagangannya di pasar, seorang dokter yang memberikan pelayanan kesehatan pada pasiennya, seorang perawat yang sedang melakukan perawatan pada pasien, seorang tukang rumput yang sedang memotong rumput dengan mesin pemotong rumputnya, seorang petani yang sedang menggarap sawahnya pada musim tanam dan lain sebagainya merupakan bagian dari aktivitas muamalah atau gambaran umum dari muamalah.

Pengertian muamalah pada mulanya memiliki cakupan yang luas, sebagaimana dirumuskan oleh Muhammad Yusuf Musa, yaitu Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan dita’ati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia”. Namun belakangan ini pengertian muamalah lebih banyak dipahami sebagai aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda atau lebih tepatnya dapat dikatakan sebagai aturan Islam tentang kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia.( M. Yatimin Abdullah, MA, Studi Islam Kontemporer ,157)

Fiqih Muamalah adalah pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil Islam secara rinci. Ruang lingkup fiqih muamalah adalah seluruh kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam yang berupa peraturan-peraturan yang berisi perintah atau larangan seperti wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. hukum-hukum fiqih terdiri dari hukum-hukum yang menyangkut urusan ibadah dalam kaitannya dengan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. (M. Yatimin Abdullah)

Tujuan

            Semua aktivitas tadi tentunya memiliki tujuan dan orientasi yaitu untuk memenuhi segala kebutuhan hidup didunia. Seperti seorang dosen yang mengajar mahasiswanya tentu memiliki tujuan yakni untuk mendapatkan penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Demikian juga seorang dokter, seorang perawat, seorang pekerja sosial, seorang arsitek dan apapun pekerjaan dan profesi seseorang tentu memiliki tujuan yang salah satunya adalah mensejahterakan hidupnya. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan keduniawian.

Selain tujuan tersebut diataas Islam mengatur seluruh aktivitas kehidupan manusia dengan tujuan untuk mendapatkan maslahah[1] dalam hidup di dunia. Menurut istilah umum Maslahah adalah mendatangkan segala bentuk kemanfaatan atau menolak segala kemungkinan yang merusak. Yang kami maksudkan dengan kemanfaatan disini adalah ungkapan dari sebuah kenikmatan atau segala hal yang masih berhubungan dengannya, sedangkan kerusakan adalah hal-hal yang menyakitkan atau segala sesuatu yang ada kaitan dengannya.

Pandangan para pemikir Islam kontemporer terhadap maslahah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu pandangan maslahah menurut kaum Sosialis[2] serta pandanganya menurut syara’(hakikat syara’), dalam pembahasan pertama al Syatiby mengatakan: “ maslahah ditinjau dari segi artinya adalah segala sesuatu yang menguatkan keberlangsungan dan menyerpurnakan kehidupan manusia, serta memenuhi segala keinginan rasio dan syahwatnya secara mutlak”( Al ghozali .1997. “al mustasfa,Juz 1” Bairut. daar al ihya’ al turats al ‘araby. 217). Sedangkan menurut arti secara Syara’ (hakikat) adalah segala sesuatu yang menguatkan kehidupan di dunia tidak dengan cara merusaknya serta mampu menuai hasil dan beruntung di akhirat, dalam hal ini al Syatiby mengatakan, “ menarik kemaslahatan dan membuang hal-hal yang merusak bisa juga disebut dengan melaksanakan kehidupan di dunia untuk kehidupan di akhirat” ( Wahba Zuhaili,ilmu ushl al fiqh., juz II. hlm.799-800). Sedangkan menurut al Ghozali maslahah adalah: “memelihara tujuan daripada syari’at”. sedangkan tujuan syara’ meliputi lima dasar pokok, yaitu: 1.melindungi agama (hifdu al diin), 2.melindungi jiwa (hifdu al nafs), 3.melindungi akal (hifdu al aql), 4.melindungi kelestarian manusia (hifdu al nasl), 5.melindungi harta benda (hifdu al mal).( Abd. Wahbah Khalaf. Ilmu ushul fiqh hlm. 86 )

Obyek Kajian

Islam adalah agama yang sempurna (komprehensif) yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, baik aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Salah satu ajaran yang   sangat penting adalah bidang muamalah/ iqtishadiyah (Ekonomi Islam). Buku-buku Islam tentang muamalah (ekonomi Islam) sangat banyak dan berlimpah, Jumlahnya lebih dari seribuan judul buku. Para  ulama tidak pernah mengabaikan kajian muamalah dalam kitab-kitab fikih mereka dan dalam halaqah (pengajian-pengajian) keislaman mereka. Seluruh Kitab Fikih membahas Fikih ekonomi. Bahkan cukup banyak para ulama yang secara khusus membahas ekonomi Islam, seperti kitab Al-Amwal oleh Abu Ubaid, Kitab Al-Kharaj karangan Abu Yusuf, Al-Iktisab fi Rizqi al-Mustathab oleh Hasan Asy-Syaibani, Al-Hisbah oleh Ibnu Taymiyah, dan banyak lagi yang tersebar di buku-buku Ibnu Khaldun, Al-Maqrizi, Al-Ghazali, dan sebagainya.

Begitu pentingnya mengetahui Fikih Muamalah ini karena setiap muslim tidak pernah terlepas dari kegiatan kebendaan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhannya. Maka dikenallah objek yang dikaji dalam Fikih muamalat,  walau para fuqaha (ahli Fikih) klasik maupun kontemporer berbeda-beda, namun secara umum Fikih muamalah membahas hal berikut : teori hak-kewajiban, konsep harta, konsep kepemilikan, teori akad, bentuk-bentuk akad yang terdiri dari jual-beli, sewa-menyewa, sayembara, akad kerjasama perdagangan, kerjasama bidang pertanian, pemberian, titipan, pinjam-meminjam, perwakilan, hutang-piutang, garansi, pengalihan hutang-piutang, jaminan, perdamaian, akad-akad yang terkait dengan kepemilikan: menggarap tanah tak bertuan, ghasab (meminjam barang tanpa izin), merusak, barang temuan, dan syuf’ah (memindahkan hak kepada rekan sekongsi dengan mendapat ganti yang jelas).

Semua aktifitas kerja yang menjadikan seseorang berinteraksi dengan orang lain ini diatur Islam dalam fikih muamalah. Berbeda dengan aturan yang mengatur hubungan antara individu dengan Sang kholiq yang biasa disebut dengan fikih ibadah, fikih muamalah lebih bersifat luas, fleksbel dan eksploratif. Dalam hal ibadah pada dasarnya seluruh aktifitas ibadah itu haram kecuali ada dalil yang memerintahkannya. Sehingga dalam hal ibadah ada kesan sempit, kaku dan tertutup. Sementara dalam hal muamalah sebaliknya yaitu semua aktifitas pada mulanya boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Husein Shahhathah (Dosen Universitas Al-Azhar) dalam buku Al-Iltizam bi Dhawabith asy-Syar’iyah fil Muamalat Maliyah (2002) mengatakan, “Fiqh muamalah ekonomi, menduduki posisi yang sangat penting dalam Islam. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam aktivitas muamalah, karena itu hukum mempelajarinya wajib ‘ain (fardhu) bagi setiap muslim. Husein Shahhatah, selanjutnya menulis,  “Dalam bidang muamalah maliyah ini, seorang muslim berkewajiban memahami bagaimana ia bermuamalah sebagai kepatuhan kepada syari’ah Allah. Jika ia tidak memahami muamalah maliyah ini, maka ia akan terperosok kepada sesuatu yang diharamkan atau syubhat, tanpa ia sadari. Seorang Muslim yang bertaqwa dan takut kepada Allah swt, Harus berupaya keras menjadikan muamalahnya sebagai amal shaleh dan ikhlas untuk Allah semata”. Memahami/ mengetahui hukum muamalah maliyah wajib bagi setiap muslim, namun untuk menjadi  expert (ahli) dalam bidang ini hukumnya fardhu kifayah.

Oleh karena itu, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling pasar dan berkata :

لا يبع في سوقنا  الا من قد تفقه في الدين

Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang benar-benar telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam (H.R.Tarmizi)

Berdasarkan ucapan Umar di atas, maka dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa umat Islam :

  • Tidak boleh beraktifitas bisnis, kecuali faham tentang fikih muamalah
  • Tidak boleh berdagang, kecuali faham fikih muamalah
  • Tidak boleh beraktivitas perbankan, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas asuransi, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas pasar modal, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas koperasi, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas pegadaian, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas reksadana, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas bisnis MLM,kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh beraktifitas jual-beli, kecuali faham fiqh muamalah
  • Tidak boleh bergiatan ekonomi apapun, kecuali faham fiqh muamalah

Sehubungan dengan itulah Dr. Abdul Sattar menyimpulkan : yang artinya dari sini jelaslah bahwa “Muamalat” adalah inti terdalam dari tujuan agama Islam untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia. Karena itu para Rasul terdahulu mengajak umat (berdakwah) untuk mengamalkan muamalah, karena memandangnya sebagai ajaran agama yang mesti dilaksanakan, Tidak ada pilihan bagi seseorang untuk tidak mengamalkannya. (Hlm.16)

Dalam konteks ini Allah berfirman :

وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ۚ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ [١١:٨٤]وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ [١١:٨٥]
Artinya
 ‘Dan kepada penduduk Madyan, Kami utus saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Hai Kaumku sembahlah Allah, sekali-kali Tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan Janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik. Sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. Dan Syu’aib berkata,”Hai kaumku sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Hud : 84,85)

Dua ayat di atas mengisahkan perdebatan kaum Nabi Syu’aib dengan umatnya yang mengingkari agama yang dibawanya. Nabi Syu’aib  mengajarkan I’tiqad dan iqtishad (aqidah dan ekonomi). Nabi Syu’aib mengingatkan mereka tentang kekacauan transaksi muamalah (ekonomi) yang mereka lakukan selama ini.

Al-Quran lebih lanjut mengisahkan ungkapan umatnya yang merasa keberatan diatur transaksi ekonominya. Artinya : Mereka berkata, Hai Syu’aib, apakah agamamu yang menyuruh kamu agar kamu meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyangmu atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang penyantun lagi cerdas”.

Ayat ini berisi dua peringatan penting, yaitu aqidah dan muamalah. Ayat ini juga menjelaskan bahwa pencarian dan pengelolaan rezeki (harta) tidak boleh sekehendak hati, melainkan mesti sesuai dengan kehendak dan tuntunan Allah, yang disebut dengan syari’ah.

Aturan Allah tentang ekonomi disebut dengan ekonomi syariah. Umat manusia tidak boleh sekehendak hati mengelola hartanya, tanpa aturan syari’ah. Syariah misalnya secara tegas mengharamkan bunga bank. Semua ulama dunia yang ahli ekonomi Islam (para professor dan Doktor) telah ijma’ mengharamkan bunga bank. (Baca tulisan Prof.Yusuf Qardhawi, Prof Umar Chapra, Prof.Ali Ash-Sjabuni, Prof Muhammad Akram Khan). Tidak ada perbedaan pendapat pakar ekonomi Islam tentang bunga bank. Untuk itulah lahir bank-bank Islam dan lembaga-lembaga keuangan Islam lainnya. Jika banyak umat Islam yang belum faham tentang bank syariah atau secara dangkal memandang bank Islam sama dengan bank konvensianal, maka perlu edukasi pembelajaran atau pengajian muamalah, agar tak muncul salah faham tentang syariah.

Berdasarkan ayat-ayat di atas, Syekh Abdul Sattar menyimpulkan bahwa hukum muamalah adalah sunnah para Nabi sepanjang sejarah. Muamalah ini adalah sunnah yang terus-menerus dilaksanakan para Nabi AS, (hlm.16), sebagaimana firman Allah. Artinya : Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan supaya manusia dapat menegakkan keadilan itu.

Ruang Lingkup Muamalah

Ruang lingkup pembahasan muamalah sebenarnya sangatlah banyak, seperti;

  1.  Harta, Hak Milik, Fungsi Uang dan ’Ukud (akad-akad)
    2.    Buyu’ (tentang jual beli)
    3.    Ar-Rahn (tentang pegadaian)
    4.    Hiwalah (pengalihan hutang)
    5.    Ash-Shulhu (perdamaian  bisnis)
    6.    Adh-Dhaman (jaminan, asuransi)
    7.   Syirkah (tentang perkongsian)
    8.    Wakalah (tentang perwakilan)
    9.    Wadi’ah (tentang penitipan)
    10.    ‘Ariyah (tentang peminjaman)
    11.    Ghasab (mengambil barang milik orang lain tanpa ijin)
    12.    Syuf’ah (menggabungkan )
    13.    Mudharabah (syirkah modal dan tenaga)
    14.    Musaqat (syirkah dalam pengairan kebun)
    15.    Muzara’ah (kerjasama pertanian)
    16.    Kafalah (penjaminan)
    17.    Taflis (jatuh bangkrut)
    18.    Al-Hajru (batasan bertindak)
    19.    Ji’alah (sayembara, pemberian fee)
    20.    Qaradh (pinjaman)
    21.    Ba’i Murabahah
    22.    Bai’ Salam
    23.    Bai Istishna
    24.    Ba’i Muajjal dan Ba’i Taqsith
    25.    Ba’i Sharf  dan transaksi valas
    26.    ’Urbun (panjar/DP)
    27.    Ijarah (sewa-menyewa)
    28.    Riba, konsep uang dan kebijakan moneter
    29.    Shukuk (surat utang  atau obligasi)
    30.    Faraidh (warisan)
    31.    Luqthah (barang tercecer)
    32.    Waqaf
    33.    Hibah
    34.    Washiat
    35.    Iqrar (pengakuan)
    36.    Qismul fa’i wal ghanimah (pembagian fa’i dan ghanimah)
    37.    Qism ash-Shadaqat (tentang pembagian zakat)
    38.    Ibrak (pembebasan hutang)
    39.    Muqasah (Discount)
    40.    Kharaj, Jizyah, Dharibah,Ushur
    41.    Baitul Mal dan Jihbiz
    42.    Kebijakan fiskal Islam
    43.    Prinsip dan perilaku konsumen
    44.    Prinsip dan perilaku produsen
    45.    Keadilan Distribusi
    46.    Perburuhan (hubungan buruh dan majikan, upah buruh)
    47.    Jual beli gharar, bai’ najasy, bai’ al‘inah,  Bai wafa, mu’athah, fudhuli, dll.
    48.    Ihtikar dan monopoli
    49.    Pasar modal Islami dan Reksadana
    50.    Asuransi Islam, Bank Islam, Pegadaian, MLM, dan lain-lain
    namun tidak semuanya akan dibahasa dalam buku ini. Hanya beberapa saja ruang lingkup pembahasan yang sesuai dengan kondisi yang sering terjadi di masyarakat saat ini.

Persoalan-persoalan yang sering terjadi di masyarakat, terutama yang membutuhkan penyelesaian agama sangat dibutuhkan pada saat ini. Mengingat persoalan semakin hari semakin komplek seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan peradaban umat manusia dalam bertransaksi dengan peralatan yang sangat canggih yang pada zaman dulu belum pernah ada dan terpikirkan oleh masyarakat pada umumnya. Misalnya penggunaan kredit card yang pada jaman dulu belum pernah ada, dan pada zaman sekarang sangat ngetrend dalam mempermudah transaksi perdagangan.

[1] Maslahah adalah manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung manfaat. Baik manfaat materi maupun manfaat immateri.

[2] Sosialisme atau sosialis adalah sistem sosial dan ekonomi yang ditandai dengan kepemilikan sosial dari alat-alat produksi dan manajemen koperasi ekonomi, serta teori politik dan gerakan yang mengarah pada pembentukan sistem tersebut “Kepemilikan sosial” bisa merujuk ke koperasi, kepemilikan umum, kepemilikan negara, kepemilikan warga ekuitas, atau kombinasi dari semuanya. Ada banyak jenis sosialisme dan tidak ada definisi tunggal secara enskapitulasi dari mereka semua. Mereka berbeda dalam jenis kepemilikan sosial yang mereka ajukan, sejauh mana mereka bergantung pada pasar atau perencanaan, bagaimana manajemen harus diselenggarakan dalam lembaga-lembaga yang produktif, dan peran negara dalam membangun sosialisme.

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s