Etika Penjualan Korban

Etika Penjualan Korban

April  Purwanto[1]

 

Menjelang hari raya idul Adha 1436 H, banyak orang berlomba-lomba memburu pasar hewan  untuk mendapatkan hewan korban yang terbaik, baik domba, kambing maupun sapi. Bukan hanya pasar hewan (dalam pengertian umum) saja yang ramai, tetapi tempat-tempat di pinggir jalan yang mendisplay hewan kurbannya untuk di tawarkan kepada muqarib/ mudhahi juga ramai, termasuk rumah orang-orang yang mempunyai beberapa ekor sapi juga ikut ramai. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ada orang yang menawar sapinya! Bisa jadi ini menjadi  Ini bisa menjadi berkah bagi pemilik sapi tetapi bisa juga menjadi musibah baginya. Menjadi berkah karena sapinya laku keras, dan bisa juga habis terjual. Namun hal ini bisa juga menjadi musibah bagi pemilik sapi apabila ia tidak mengetahui harga pasar, dan ditawar dengan harga murah.

Disisi lain dalam jual beli hewan qurban, sering pula kita dapati orang-orang yang berkumpul berada di sekeliling penjual hewan qurban, apabila kita menawar kepada penjual dengan harga tertentu, maka orang-orang ini menawar dengan tawaran yang lebih tinggi. Padahal mereka itu tidak bermaksud membeli. Ini bisa menjadikan kita jengkel, karena penawaran kita digagalkan, tetapi bisa juga mereka memiliki maksud lain. Artinya dengan memberikan penawaran lebih tinggi, harapannya kita mau menaikkan penawaran lebih tinggi lagi dari mereka. Karena kesan yang muncul, bahwa  hewan yang kita tawar tersebut lebih baik dari apa yang sudah kita perkirakan dengan penawaran kita.  Jadi menurut mereka, layak apabila hewan tersebut dihargai lebih mahal dari penawaran kita.

Etika Jual beli

Dari uraian di atas ada beberapa hal yang perlu direnungkan. Pertama, korban merupakan bentuk ibadah kepada Allah Swt. Allah Maha Suci. Oleh karena itu sudah selayaknya aktifitas jual beli dalam memenuhi sarana pelaksanaan ibadah kurban, lebih mengutamakan cara-cara yang elegan, halal, baik, tidak menyakita hati dan tidak merugikan orang lain. Kedua, cara kita membeli hewan korban hendaklah juga mempertimbangkan keuntungan bagi pemilik hewan korban. Artinya kalau memilih hewan korban (terutama yang langsung ke peternak)minimal mereka tahu harga di pasaran. Disisi lain para petani juga tidak boleh mentang-mentang banyak yang butuh kemudian menaikkan harga semaunya. Sehingga merugikan salah satu pihak. Ketiga, Jual beli yang dilakukan dengan cara ada pihak ketiga yang bisa mempengaruhi keputusan beli, hendaklah dihindari, karena boleh jadi orang yag beli jadi menyesal belakangan, karena tawaran awal yang seharusnya sudah bisa deal, jadi tertunda dan harus memberikan penawaran yang lebih tinggi lagi. Ini akan merugikan salah satu pihak. Keempat. Conter hewan korban hendaklah juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan disekelilingnya. Artinya tidak mengganggu lalu lintas apabila ada banyak pembeli yang antri.

Anjuran Agama

Islam sebagai salah satu agama yang menyebutkan bolehnya transakasi jual beli dalam kitab sucinya, memberikan aturan, panduan dan tatacara berjual beli yang diperbolehkan beserta larangannya secara jelas. Diantara anjuran yang dikemukakan Islam dalam ajarannya adalah kejujuran dan kedermawanan dalam jual beli. Dua hal ini juga menjadi dasar etika dalam berjual beli. Adanya pernyataan rasulullah SAW yang melarang menghentikan orang yang berjalan ke pasar dimaksudkan agar pedagang tidak merasa dirugikan, karena tidak tahu harga pasar. Walaupun dilaksanakan secara sukarela, namun disini masih menyisakan beban bagi pedagang, dikarenakan ketidaktahuannya tentang harga pasar. Oleh karena itu, dengan kejujuran dan kedermawanan yang tumbuh dari penjual maupun pembeli diharapkan mengurangi beban-beban jual beli tersebut. Kondisi sekarang relatif berbeda dibanding pada masa Rasulullah dulu. Sekarang, orang bisa mengetahui harga pasar tidak harus pergi ke pasar. Sikap kedermawanan akan menumbuhkan saling rela diantara pedangan dan pembeli apabila ada kekurangan ataupun kelebihan dalam transaksi jual beli.

Keuntungan sebagai tujuan ?

Setiap transaksi jual beli tentu menginginkan keuntungan, termasuk dalam transaksi jual beli hewan korban.  Namun apabila keuntungan itu membawa kerugian orang lain, maka transaksi ini menjadikan ketidakberkahan dalam harta kita. Oleh karena itu keuntungan yang baik adalah keuntungan yang membawa dampak kebaikan bagi masyarakat. Artinya keuntungan itu bukan menjadi tujuan, tetapi hanya sebagai sarana untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Misalnya, counter hewan korban hendaklah disertai tempat parkir yang luas dan nyaman, bersih, ada fasilitas untuk mengetahui ciri-ciri fisik dan berat badan hewan ternak, penjaga juga bisa menjelaskan ciri-ciri hewan ternak yang baik dan sehat serta memberikan banyak alternatif pilihan yang baik. Keridhoan Allah ada pada kualitas layanan perdangan.

[1]  April Purwanto

Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DI Yogyakarta

 

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s