Mendambakan Kuliner Syariah

 

April Purwanto[1]

Perburuan kuliner akhir-akhir ini makin marak. Sekarang ini orang mencari makan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan perut, tetapi ada kebutuhan-kebutuhan lain yang memang mereka inginkan. Sehingga orang cenderung mencari tempat yang nyaman dan menyenangkan walaupun tempatnya dipelosok desa. Asal makanannya terkenal “aneh” dan enak kemanapun akan dikejar. Terutama pada hari minggu atau libur.

Di Yogyakarta bisnis kuliner semakin hari semakin meningkat. Perkembangan bisnis kuliner dirasa sangat cepat dan semakin marak. Ada perubahan berpikir orang untuk mendapatkan makanan. Di yogyakarta yang dulu terkenal dengan makanan murah, sekarang menjadi beragam. Ada yang murah dan ada pula yang mahal. Semua tergantung pada ketebalan kantong dan penikmat kuliner. Orang yang sudah terbiasa kuliner dia akan selalu mencari tempat-tempat yang enak dan nyaman untuk mendinginkan pikiran dan refreshing setelah semiggu penat berpikir dan bekerja.

Kuliner saat ini

Maraknya bisnis kuliner di Yogyakarta ternyata belum mampu memuaskan konsumennya. Terutama dari kalangan masyarakat muslim yang menjujung tinggi ajaran syariahnya dalam bermuamalah. Ada beberapa hal yang kerap terjadi dalam praktek peyajian bisnis kuliner di Yogyakarta. Pertama, masalah kehalalan sajian. Seingkali kita dapati dalam sajian kuliner daging ayam terutama bagian kepala, cara penyembelihannya tidak secara syariah apabila dilihat dari bekas sembelihan di lehernya. Sering kita dapati di leher ayam hanya ada lubang kecil seperti tusukan pisau dan tidak disembelih. Ini menandakan bahwa sajian makanan yang berasal dari ayam yang sembelihannya demikian adalah haram. Walaupun tidak semua seperti itu. Namun ini jelas akan mengurangi kepercayaan konsumen untuk makan kembali di tempat itu. Demikian juga sering kita jumpai di warung-warung tenda, ada pembeli berbisik-bisik menanyakan saren (Darah yang dimasak) di dalam masakannya. Bagi seorang muslim darah termasuk yang diharamkan. Ini juga akan mengurangi tingkat kepercayaan konsumen.

Kedua, Kebersihan makanan dan tempat. Kebanyakan tempat-tempat kuliner ada di pinggir jalan besar tingkat kebersihan/higienes makanan menjadi kurang higienes terutama tempat kuliner yang  terbuka. Tempat yang bersih, makanan yang bersih dan menarik akan meningkatkan minat makan para pecinta kuliner.

Ketiga, kandungan nilai gizi. Umat Islam diperintahkan untuk makan makanan yang halalan thoyiban (halal lagi baik). Makanan yang halal dan baik dapat diwujudkan dengan mempelajari ajaran-ajaran syariat yang mengharamkannya untuk di tinggalkan dan mempelajari nilai gizi sebuah makanan. Makanan yang baik itu menurut ilmu gizi adalah makanan yang mengndung nilai gizi seimbang yaitu adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal.

Keempat, memperhatikan nilai keamanan dan kenyamanan para konsumen. Nilai keamanan da kenyamanan ini meliputi ketepatan waktu dalam menyajikan makanan, sehingga konsumen tidak menunggu terlalu lama. Tempat parkir yang luas juga perlu menjadi perhatian, sehingga tidak menganggu lalu lintas. Keramahan para pelayana harus menjadi prioritas, mengingat bahwa tujuan konsumen datang ke warung kuliner bukan hanya untuk makan, tetapi juga ingin mendapatkan tempat yang santai, nyaman dan aman untuk menikmati suasana.

Kelima, Kejujuran dalam menyampaikan informasi. Artinya kalau memang ada makanan yang diharamkan atau membahayakan pelanggan harus disampaikan juga kepada konsumen. Misalnya bagi orang yang mengalami hipertensi dilarang makan daging kambing. Ya harus diinformasikan bahwa daging yang dimasak itu adalah daging kambing.

Kuliner Syariah

Syariah bukan hanya bicara tentang halal dan haram saja terapi menyangkut juga berbagai bentuk pelayanan kepada konsumen.  Menjaga agar orang lain merasa aman dari perilaku, tutur kata dan  sikap kita juga merupakan syariat Islam yang harus diutamakan dalam kuliner syariah ini. Sebagaiamana yang disampaikan Rasulullah,” Bagian dari Islamnya seseorang itu adalah apabila orang lain merasakan aman dari gangguan tangan dan lisannya”.

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang sering menjadi tujuan pariwisata di Indonesia. Mau tidak mau mereka membutuhkan kuliner, sehingga kuliner juga menjadi salah satu daya tarik utama dalam sebuah perjalanan wisata. Sementara itu, Permintaan wisatawan muslim akan kuliner syariah semakin hari semakin meningkat jumlahnya. Oleh karena itu kuliner syariah harus diupayakan walaupun tidak harus menggunakan label syariah.

 

 

 

[1] April Purwanto, S. Ag, M.E.I

Pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DIY

Tentang pistaza

Pusat Informasi dan Studi Zakat (Pistaza) merupakan lembaga dakwah dan Pendidikan yang memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang pengelolaan zakat, baik melalui lembaga maupun badan amil zakat yang sudah ada. Pistaza memberikan konsultasi kepada setiap lembaga atau warga masyarakat yang membutuhkan informasi seputar zakat. Pistaza juga memberikan pelatihan-pelatihan bagi lembaga dan badan amil zakat untuk peningkatan kapasitas Amil zakat tentang bagaimana menjalankan roda kegiatan secara baik dan proesional. Informasi lebih lanjut lihat blog ini...
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s